
Kehidupan di Sekitar Ibu Kota Nusantara: Prostitusi Online yang Mengancam
Pada hari Jumat, 11 Mei, setelah salat Jumat selesai di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pesan masuk melalui aplikasi MiChat ke ponsel pintar kami. Fitur “Pengguna di Sekitar” memungkinkan siapa pun yang berada dekat dengan lokasi pengguna ponsel—dari jarak beberapa meter hingga puluhan kilometer—untuk saling bertukar pesan. Dalam percakapan ini, seseorang mengirimkan pesan yang menanyakan lokasi dan menyampaikan keinginan untuk bertemu.
Salah satu orang yang menghubungi adalah El, seorang pria yang mengaku sebagai pegawai negeri sipil (ASN). Dari awal, ia sudah bertanya apakah kami membuka jasa prostitusi melalui skema booking order (BO). Selama berada di kawasan IKN, tim Liputan Khusus gubukinspirasi.id sengaja memasang aplikasi MiChat. Aplikasi ini disebut-sebut sebagai cara BO jasa prostitusi di sana.
Dalam waktu sehari, ada sekitar tiga laki-laki yang ‘nyantol’ melalui fitur Pengguna di Sekitar saat tim kami berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN. Salah satunya adalah El. Belakangan, El hanya meminta bertemu dan menjalin pertemanan setelah tahu bahwa kami mencari informasi semata, bukan membuka BO. Ada juga laki-laki lain yang mengaku hanya ingin pendekatan biasa, menjemput kami untuk bertemu, bahkan mengingatkan kami untuk menjaga kesehatan dan tidak meninggalkan salat.
Seorang pria lainnya langsung bertanya terang-terangan tentang tarif yang dipasang untuk ‘main’. Pria yang mengaku sebagai pekerja di IKN ini bahkan meminta foto full body dan muka, sebelum melanjutkan percakapan dengan kami yang ia kira sedang membuka jasa pramunikmat itu.
Adegan percakapan ini menjadi gambaran pekerja di IKN yang secara gamblang membutuhkan jasa prostitusi. Permintaan yang tinggi membuat PSK dari luar daerah secara bergelombang menjamah kawasan IKN sejak pertama kali dibangun pada 2022 dan kian masif belakangan ini.
Operasi Razia dan Data yang Mengkhawatirkan
Dalam empat bulan terakhir, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab PPU telah menggelar tiga kali operasi razia dan menjaring sekitar 70 PSK. Laporan masifnya prostitusi di sekitar IKN bermula dari aduan warga yang mulai resah di kampungnya makin marak prostitusi online pada medio Maret-April 2025.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) PPU KH. Abu Hasan Mubarok menyebut, aduan itu salah satunya berasal dari warga di Kelurahan Maridan, Sepaku, yang resah dengan munculnya lokalisasi di sekitar sana. Aduan lain datang dari seorang ketua RT yang mendapati guest house syariah miliknya di Desa Bumi Harapan, Sepaku, ditawarkan jadi lokasi esek-esek di aplikasi MiChat.
Setelah menggelar tiga kali operasi, Satpol PP menemukan bahwa para PSK berasal dari luar Kalimantan Timur alias pendatang seperti dari Bandung hingga Yogyakarta. Mereka tertarik “mengadu nasib” ke IKN karena mendapat cerita dari kawan-kawannya sesama PSK bahwa peredaran uang di sana besar.
Perputaran Uang yang Menakjubkan
Rakhmadi, Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Pemkab Penajam Paser Utara, menyebut tarif sekali kencan untuk waktu singkat berkisar Rp 300-700 ribu. Dalam sehari, seorang PSK bisa melayani hingga lima pelanggan. Berdasarkan data Satpol PP PPU per 10 Juli, total ada 93 PSK yang masih aktif menjajakan diri secara online melalui MiChat.
Merujuk hitungan tarif terendah dengan total 93 PSK dapat melayani 5 orang per hari, maka perputaran uang ‘bisnis’ ini diperkirakan Rp 139,5 juta per hari atau Rp 4,1 miliar sebulan. Itu baru menghitung tarif terendah dengan asumsi jasa PSK Rp 300 ribu. Ada pula PSK yang menjajakan diri dengan tarif Rp 4 juta per malam.
Tempat Prostitusi yang Menyebar
Prostitusi online dilakukan di guest house dan indekos karena tarifnya yang murah. Meski demikian, ada juga hotel di sekitar IKN yang dijadikan para PSK sebagai tempat untuk ‘beraksi’. Ada 14 guest house dan beberapa hotel yang memang menerima tamu yang tidak selektif. Artinya mereka (PSK) masuk, bayar, transfer, dan pemilik guest house-nya tidak tahu kamarnya digunakan untuk apa.
Guest house, kos, penginapan, hotel, dan semacamnya itu kemudian dijadikan tempat prostitusi oleh PSK yang menjajakan diri di MiChat. Lokasinya tersebar di sekitar IKN dan di antaranya berada di ruas jalan Samboja-Sepaku-Petung. Apabila dihitung berdasarkan jarak, tempat terdekat yang dijadikan tempat prostitusi jaraknya hanya 1 km dari Istana Garuda IKN, sedangkan yang terjauh sekitar 14 km.
Faktor-Faktor yang Mendorong Prostitusi
El yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, mengaku hasratnya untuk ‘jajan’ di perantauan seperti IKN muncul karena faktor pekerjaan yang membuatnya tak bisa cuti hingga berbulan-bulan. Sementara itu, mantan pekerja proyek IKN, Jono, menyebut prostitusi di sekitar IKN sudah menjamur sejak 2023 dengan kedok warung hingga homestay.
Menurut Jono, rekan-rekan pekerjanya yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa saat libur merasa tak punya hiburan selain tidur dan main HP–itu pun kalau dapat sinyal. Terlebih pemandangan yang dilihat setiap hari hanyalah hutan belantara. Alhasil mereka mencari ‘hiburan’ dengan memakai jasa prostitusi.
Tantangan Sosial dan Norma yang Tidak Terpenuhi
Megahnya pembangunan konstruksi fisik IKN yang tidak dibarengi dengan pengendalian atau mitigasi sosial dianggap menjadi salah satu sebab menjamurnya prostitusi di sekitar IKN. Pakar Tata Kota Nirwono Yoga menyatakan kabar prostitusi sebenarnya sudah ada sejak 2022-2023 ketika ia menjabat sebagai anggota Tim Transisi Otorita IKN (OIKN).
Namun kabar tersebut tertutup oleh pemberitaan yang fokus pada pembangunan fisik semata. Penyedia jasa [prostitusi] dari luar [daerah] mengambil keuntungan, tidak ada pengendalian dari tingkat lokal misalnya dari kompleks hunian, dari pengelolanya, sampai dengan tindakan dari pemberi kerja seperti subkontraktor, kontraktor, sampai Kementerian PUPR yang seharusnya punya tanggung jawab sosial.
Respons dari Otorita IKN
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menegaskan masalah ini direspons dengan sangat serius. Deputi Bidang Pengendalian Pembangunan OIKN, Thomas Umbu Pati Tena Bolodadi, menyatakan pihaknya berkomitmen menata ibu kota secara profesional dengan tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia dan peradaban.
Thomas mengungkapkan, sebagai bukti keseriusan, OIKN telah menutup 10 lokasi prostitusi dan menahan 32 PSK di wilayah Sepaku pada bulan Ramadhan, Maret lalu. Selain itu OIKN juga telah memanggil dan meminta seluruh pemilik hotel, homestay, indekos yang ada di wilayah Kecamatan Sepaku untuk mengantisipasi praktik prostitusi. Kegiatan ini juga akan dilakukan di lima kecamatan lainnya yang berada di wilayah IKN.
0 Komentar