Di Balik "Beauty and the Beast", Kisah Nyata yang Menyedihkan

Featured Image

Kehidupan Nyata di Balik Dongeng Beauty and the Beast

Dongeng masa kecil sering menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang seseorang. Cerita seperti Beauty and the Beast atau Putri Salju tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan nilai-nilai penting seperti kebaikan, keberanian, dan cinta tanpa syarat. Banyak anak menghabiskan waktu dengan membayangkan dunia penuh keajaiban, pangeran tampan, dan akhir bahagia. Tak heran, dongeng sering menjadi pengantar tidur favorit yang memicu imajinasi dan harapan akan kehidupan yang indah.

Namun, di balik cerita indah Beauty and the Beast, tersembunyi kisah yang cukup menyakitkan. Dongeng ini awalnya ditulis sebagai alegori atas kehidupan perempuan yang dipaksa menikah dengan pria asing demi kepentingan keluarga. Dalam versi aslinya, "beast" bukan hanya digambarkan buruk rupa, tetapi juga menjalani hidup yang penuh kesedihan dari pihak keluarga kerajaan.

Asal Usul Dongeng Beauty and the Beast

Dongeng Beauty and the Beast atau La Belle et la Bête ditulis oleh Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve pada tahun 1740. Ia menuliskan kisah ini dengan beberapa penyesuaian agar lebih nyaman dibaca oleh anak-anak. Menurut catatan sejarah, kisah ini terinspirasi dari kisah nyata Petrus Gonzalvus dan Catherine, seorang pelayan istana Perancis.

Petrus Gonzalvus lahir di Pulau Canary Tenerife, Spanyol, pada tahun 1537. Ia mengalami kondisi langka bernama hipertrikosis, yaitu kelainan yang membuat rambut tumbuh lebat di seluruh tubuh. Dengan kondisi tersebut, ia diberi julukan "manusia berbulu" atau "manusia liar". Saat masih kecil, ia diperlakukan layaknya makhluk aneh. Petrus ditangkap, dikurung dalam sangkar besi, dan diberi makan daging mentah serta pakan ternak.

Pemimpin Istana yang Mengubah Nasib

Pada tahun 1547, Petrus dikirim sebagai hadiah penobatan Raja Henry II dari Perancis. Beruntung, Raja Henry II tidak memperlakukannya sebagai tontonan. Justru, raja melihat potensi dalam diri Gonzalvus dan memberinya pendidikan. Petrus belajar sopan santun istana dan menguasai tiga bahasa. Ia belajar membaca dan menulis, dan perlahan mendapat tempat di lingkungan istana.

Menurut jurnal Revista de Historia Canaria tahun 2021, dokumen-dokumen yang baru ditemukan menunjukkan bahwa Petrus perlahan diterima di kalangan istana. Meskipun status sosialnya meningkat, banyak kalangan tetap memandangnya sebagai sosok yang berbeda dan berada di bawah manusia pada umumnya. Pada usia 20-an, ia sudah menjadi pelayan di meja kerajaan. Petrus kemudian mempelajari hukum, menjadi narator bagi Raja Muda Charles IX, dan sejak 1582 tercatat mengajar yurisprudensi di Universitas Sorbonne, Perancis.

Percasikan yang Tak Terduga

Setelah Raja Henry wafat, akibat adu tombak pada 10 Juli 1559, sang ratu Catherine de’ Medici yang kemudian menjadi penguasa memutuskan untuk melakukan eksperimennya sendiri. Ia penasaran apa yang terjadi jika "si buruk rupa" menikahi seorang wanita cantik. Memenuhi keingintahuannya, ia mencarikan seorang istri untuk Petrus. Tak lama, seorang gadis muda, anak dari saudagar Perancis bernama Catherine Raphael pun menjadi calon istri Petrus.

Pertemuan dan Pernikahan yang Tidak Terduga

Dalam perjodohan ini, Catherine sebelumnya sama sekali belum mengetahui seperti apa wajah dan watak dari calon suaminya. Konon, Catherine juga merupakan seorang pelayan istana. Petrus dan Catherine bertemu pertama kalinya saat pernikahan mereka. Terkait fisik Petrus, Catherine tidak begitu mempermasalahkan. Ia tetap menerima dan mencintainya. Mereka menjalani pernikahan panjang, hidup bersama, hingga dikaruniai tujuh anak. Empat di antaranya mewarisi hipertrikosis.

Berbeda dengan akhir bahagia versi Disney, Petrus tetap dianggap makhluk aneh. Setelah menjadi perhatian istana Perancis, ia dan keluarganya dikirim ke berbagai wilayah Eropa untuk "dipamerkan" ke keluarga bangsawan lain. Dalam buku Wonderful Furry Girls: The Gonzalez Sisters and Their Worlds mencatat bahwa anak-anak Petrus bahkan diperlakukan seperti hewan peliharaan.

Akhir Hidup yang Menyedihkan

Di masa tua, Petrus dan istrinya menetap di Italia. Namun, akhir hidupnya menyisakan keprihatinan. Dokumenter berjudul Smithsonian Channel The Real Beauty and the Beast menyebut tidak adanya catatan kematian Petrus kemungkinan karena ia tidak diakui sebagai manusia utuh, sehingga tak layak mendapatkan pemakaman Kristen resmi. Kisah hidup Petrus Gonzalvus mengingatkan kita bahwa di balik dongeng yang indah, tersembunyi kisah nyata yang penuh kesedihan dan ketidakadilan.

0 Komentar