Guru, Kelelahan Kebijakan, dan Ranjang Prokrustes

Guru, Kelelahan Kebijakan, dan Ranjang Prokrustes

Perubahan Kebijakan Pendidikan dan Tantangan yang Dihadapi Guru

Seiring dengan memasuki tahun ajaran baru, guru-guru kini dihadapkan pada berbagai kebijakan dan program pendidikan yang terus bermunculan. Mulai dari pendekatan deep learning, pembelajaran coding dan artificial intelligence, hingga perubahan aturan beban kerja guru. Berbagai istilah baru dalam dunia pendidikan juga mulai muncul, sekaligus direspons dengan beragam reaksi dari kalangan pendidik.

Beberapa guru menyambut baik kebijakan-kebijakan tersebut dengan semangat untuk berkembang dan mengadopsi pendekatan baru. Mereka menggunakan jargon grow mindset sebagai alasan utama untuk menerima perubahan. Namun, tidak sedikit pula guru yang skeptis terhadap kebijakan baru ini. Pertanyaannya, apakah mereka tidak memiliki grow mindset?

Berdasarkan pengamatan terhadap situasi pendidikan saat ini, sangat naif jika mereka dihakimi terlalu cepat. Bisa saja mereka mengalami apa yang disebut policy fatigue, yaitu kelelahan akibat kebijakan yang terus-menerus berubah tanpa adanya kepastian. Bayangkan saja, belum sepenuhnya tuntas penerapan Kurikulum Merdeka, guru harus segera menghadapi program-program baru lagi.

Kondisi ini menimbulkan rasa lelah dan kebingungan. Misalnya, program Sekolah dan Guru Penggerak yang sebelumnya menjadi fokus utama, tiba-tiba tidak lagi dibicarakan. Padahal, konsep dan implementasi program tersebut telah dirumuskan oleh pakar dan praktisi pendidikan. Sayangnya, kebijakan yang dikeluarkan sering kali tidak sesuai dengan realitas lapangan.

Dalam hal ini, terjadi gejala “matinya kepakaran” yang diungkapkan oleh Tom Nichols. Para guru mulai meragukan desain kebijakan yang dibuat oleh para ahli, karena tidak selalu cocok diterapkan di semua kondisi. Hal ini wajar mengingat perbedaan kondisi geografis dan sosiokultural di Indonesia. Misalnya, pemerintah membahas tentang coding dan AI, sementara di wilayah tertentu jaringan internet masih minim. Atau, pemerintah ingin mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, padahal ada daerah yang bahkan belum tersentuh oleh listrik PLN.

Akibatnya, guru-guru di daerah terpencil seringkali diberi konsep-konsep yang berhasil diterapkan di kota-kota besar atau negara-negara maju. Ironisnya, jika mereka tidak mampu menerapkan kebijakan tersebut, maka mereka dinilai tidak kompeten, tidak memiliki grow mindset, dan tidak menjadi insan pembelajar sepanjang hayat.

Namun, yang lebih penting adalah bahwa kebutuhan dasar untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkeadilan belum sepenuhnya terpenuhi. Masih banyak sekolah yang mengalami ketimpangan fasilitas, akses, sarana dan prasarana, serta jumlah tenaga pendidik. Dukungan yang diberikan hanya sebatas kata-kata seperti "silakan kreatif di tengah keterbatasan". Akibatnya, guru-guru pun merasa lelah dan tidak memiliki waktu untuk merefleksi diri.

Situasi ini menciptakan siklus kebijakan yang berulang. Banyak kebijakan dan program yang dihadirkan, tetapi pada akhirnya dianggap gagal oleh pejabat baru di masa depan.

Metafora Ranjang Prokrustes dalam Pendidikan

Cerita mitologis Yunani tentang ranjang Prokrustes dapat menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan situasi pendidikan kita. Prokrustes adalah sosok yang memaksa tamunya berbaring di ranjang besi, baik itu memotong tubuh jika terlalu panjang, maupun merentangkan tubuh jika terlalu pendek.

Metafora ini menggambarkan bagaimana suatu institusi atau kelompok memaksakan standar mereka terhadap orang lain. Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Bad of Procrustes menjelaskan bahwa metafora ini bukan hanya tentang menaruh sesuatu di kotak yang salah, tetapi lebih pada operasi terbalik untuk mengubah variabel yang salah—dalam kasus ini, manusianya, bukan ranjangnya.

Jika dilihat dari sudut pandang pendidikan, bisa jadi pengambil kebijakan terlalu sentralistik. Semua kebijakan dirancang di pusat dengan ukuran standar yang sama untuk seluruh wilayah. Pemerintah ingin guru-guru berubah sesuai keinginan pusat, tetapi tidak pernah bersedia berubah sesuai harapan guru. Hal ini menciptakan kesenjangan antara teori dan realitas di lapangan.

0 Komentar