
Perjalanan Awal Siswa Sekolah Rakyat di Masa Pengenalan Lingkungan
Pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS), para siswa Sekolah Rakyat juga menjalani proses tersebut. Namun, perbedaannya adalah setelah selesai belajar, mereka tidak kembali ke rumah, melainkan ke kamar asrama. Di sekolah ini, anak-anak menghadapi tantangan baru dalam hidup mereka.
Air Mata yang Tak Terbendung
Muhammad Sapta Ramadhan, seorang siswa kelas 1 Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor, tidak bisa menahan air matanya. Tangisnya pecah saat harus berpisah dengan ibunya, Umu Kulsum. Ia mencoba menahan air mata agar tidak semakin parah, tetapi rasa sedih tak bisa terhindarkan.
Sapta harus masuk asrama setelah menjalani pemeriksaan kesehatan. Ia lari ke toilet untuk menyeka air matanya dan membasuh wajahnya agar tidak ada bekas air mata yang terlihat. Ia hanya mengangguk ketika ditanya apakah ia merasa sedih. Umu pun berkaca-kaca, tetapi berusaha menahan tangis agar tidak jatuh ke pipi. Keduanya saling menguatkan.
Umu meyakini bahwa ini adalah jalan terbaik bagi putranya. Sapta akan mendapatkan pendidikan yang baik tanpa khawatir soal biaya. Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh harian dengan penghasilan pas-pasan. "Makanya saya nganter sendirian, bapaknya harus kerja teh," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kehilangan yang Tak Terduga
Akbar Triaksono, 13 tahun, juga tak kuasa menahan tangisnya ketika harus berpisah dengan kakaknya, Yanti, 17 tahun. Meskipun rumah mereka dekat dengan lokasi sekolah, hanya setengah jam dari rumah, ia tetap merasa sedih. Ia melihat teman-temannya diantar oleh orang tua, sementara dirinya tidak.
Ini adalah pengalaman pertamanya keluar dari rumah dalam waktu yang cukup lama. Ia tidak tahu kapan bisa pulang bertemu dengan orang tuanya. Meski demikian, Menteri Sosial menjanjikan akses yang mudah bagi orang tua untuk bertemu anak-anaknya kapanpun.
Perpisahan yang Menguras Hati
Sumarna, 71 tahun, harus rela melepas cucunya, Beby Adinda Pahlevi, 13 tahun, yang diasuhnya sejak kecil. Matanya memerah dan air matanya mulai menumpuk di pelupuk. Bapak Beby jarang menemui anaknya, dan ibunya meninggal enam bulan lalu karena sakit batu empedu. Sumarna berjualan seblak, roti bakar, dan aneka jajanan lainnya untuk membiayai sekolah Beby.
Meski diklaim gratis, nyatanya masih ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Beby ingin masuk Sekolah Rakyat agar tidak lagi menyusahkan neneknya. Ia bahkan sering bercanda agar neneknya tidak sedih, tetapi hati Sumarna tetap teriris. Beby harus membayar Rp 600 ribu untuk perpisahan dan uang kas yang menunggak. Ia tidak ingin meminta pada neneknya yang sudah tua.
Keinginan untuk Belajar dan Berjuang
Beby memiliki keinginan kuat untuk belajar dan meringankan beban sang nenek. Ia bermimpi menjadi pengusaha agar tidak jauh-jauh dari neneknya. Dibandingkan beberapa temannya yang lain, Beby lebih mantap dalam keputusannya.
Total ada 100 siswa yang akan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor. Mereka terbagi dalam 4 rombongan belajar (rombel) untuk jenjang SMP. Setiap rombel berisi 25 siswa. Para peserta didik ini akan ditemani dan dibimbing oleh 12 guru, termasuk kepala sekolah, 11 wali asuh, dan 2 wali asrama.
Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor ini terdapat 4 ruang kelas, 3 asrama, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, laboratorium IPA, masjid, lapangan futsal, perpustakaan, UKS, ruang BK dan ruang OSIS. Fasilitas lengkap ini diharapkan dapat memberikan lingkungan belajar yang optimal bagi para siswa.
0 Komentar