
Pengertian akan Kematian yang Menggugah
Kata-kata Takizawa Shiori, "Pengertian akan kematian hanyalah milik spesial orang yang akan segera mati," menjadi awal dari cerita yang menggambarkan keinginan Yuki dan Atsuko untuk memahami makna kematian. Kedua sahabat ini terdorong oleh pengalaman mendengar kisah kematian dari Shiori, murid pindahan yang menceritakan pengalamannya melihat temannya bunuh diri. Sejak saat itu, Yuki dan Atsuko mulai memiliki obsesi aneh untuk melihat proses kematian secara langsung.
Yuki, yang pernah bermain kendo dan memiliki masa lalu yang penuh prestasi, kini mencari pengalaman baru dengan mengunjungi rumah sakit untuk menyaksikan bagaimana manusia menyambut ajalnya. Sementara itu, Atsuko ingin merasakan pengalaman menyakitkan orang-orang yang sedang sekarat di panti jompo. Perjalanan mereka dalam mencari makna kematian disampaikan dengan gaya humor satir oleh Minato Kanae dalam novel Girls.
Latar Belakang Karakter
Atsuko dulu adalah atlet kendo yang pernah menjuarai kejuaraan nasional saat SD. Namun, setelah kakinya terpelintir saat lomba, ia memutuskan untuk mundur dari olahraga tersebut dan memilih bersekolah di sekolah biasa-biasa saja bersama sahabatnya, Yuki. Setelah kejadian itu, Atsuko mengalami hiperventilasi dan kesulitan dalam menghadapi rasa sakit.
Sementara itu, Yuki juga pernah bermain kendo, tetapi harus berhenti lebih awal karena cedera di tangan kirinya. Cedera ini membuat tangan kirinya kehilangan kekuatan genggam, sehingga Yuki kesulitan berekspresi. Ia tidak pernah terlihat menangis atau tersenyum, menunjukkan bahwa ia menyembunyikan rasa sakit dan ketakutan yang dalam.
Rahasia dan Ketakutan yang Tersembunyi
Meskipun keduanya memiliki rahasia masing-masing, Yuki dan Atsuko berusaha mengubur rasa takut mereka. Namun, ketika Shiori datang sebagai murid pindahan dan bercerita tentang temannya yang bunuh diri, kedua sahabat ini mulai memiliki obsesi aneh untuk memahami kematian. Mereka ingin melihat proses kematian dari dekat, baik melalui pengalaman di rumah sakit maupun panti jompo.
Kesempatan untuk melihat kematian secara langsung hadir saat liburan musim panas. Yuki berkawan dengan dua anak laki-laki yang sakit parah, sementara Atsuko ditugaskan sebagai sukarelawan di panti jompo. Dengan situasi ini, mereka berharap bisa menemukan jawaban mengenai makna kematian.
Isu-isu yang Menyentuh Hati
Awalnya, pembaca mungkin merasa pesimis membaca novel yang tebalnya 344 halaman ini. Banyak orang mungkin menghindari cerita psiko thriller yang menggambarkan dua sahabat dengan rahasia dan kehidupan yang gelap. Bab-bab awal nampak suram, dengan karakter Yuki, Atsuko, dan Shiori yang tampak aneh karena terpesona dengan kematian.
Namun, Minato Kanae tidak hanya mengajak pembaca fokus pada obsesi mereka. Ia juga menyisipkan isu-isu penting yang dekat dengan kehidupan remaja Jepang, seperti perundungan, pelecehan seksual, tekanan berprestasi, plagiasi, perlindungan data pribadi, serta tekanan yang membuat seseorang memilih jalan pintas bunuh diri. Semua isu ini disampaikan dengan cara yang alami dan tidak terasa menggurui.
Inti Cerita: Persahabatan yang Kuat
Inti utama dari cerita ini adalah persahabatan Yuki dan Atsuko. Yuki merasa Atsuko tenggelam setelah ia mundur dari kendo, dan ia ingin sahabatnya kembali bangkit. Sementara itu, Atsuko ingin melihat kawannya kembali tertawa seperti dulu. Hubungan keduanya digambarkan dengan indah melalui pendekatan puzzle dan misteri. Pembaca harus sabar memahami masalah dan misteri yang dihadapi oleh keduanya, termasuk orang-orang sekeliling mereka.
Cerita disampaikan secara bergantian melalui sudut pandang Yuki, Atsuko, dan Shiori. Di bab-bab awal, pembaca perlu beradaptasi dengan model bercerita ini. Meski tema utamanya tentang kematian, buku ini sebenarnya memiliki pesan anti bunuh diri. Ada banyak kutipan anti bunuh diri yang dilontarkan oleh Yuki, seperti:
"Orang yang memilih bunuh diri adalah orang yang mengira dirinya cerdas, padahal sama sekali tidak punya daya imajinasi kreatif. Betapa dangkalnya orang yang menganggap bahwa dunia yang ia bayangkan adalah segalanya, lalu memilih mati karena putus asa pada pemikirannya sendiri."
Detail Buku
Judul Buku: Girls
Pengarang: Minato Kanae
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal Buku: 344 halaman
0 Komentar