Melihat Kalimalang Jadi Arena Panjat Pinang dan Gebuk Bantal

Featured Image

Tradisi Semarak Kalimalang di RW 04 Cipinang Melayu, Jakarta Timur

Setiap bulan Agustus, aliran Kalimalang di RW 04 Cipinang Melayu, Jakarta Timur, mengalami perubahan yang menarik. Bambu-bambu kokoh dipasang di tengah aliran air, menjadi tempat untuk berbagai lomba seperti panjat pinang, titian bambu, dan gebuk bantal. Acara ini dikenal dengan nama Semarak Kalimalang, sebuah tradisi yang telah diwariskan dari nenek moyang sejak tahun 1930.

“Semarak Kalimalang ini adalah warisan dari nenek moyang kita sejak tahun 1930,” ujar Subagyo, Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 04 Cipinang Melayu sekaligus penanggung jawab acara. Ia menjelaskan bahwa tradisi ini sempat terhenti pada tahun 1942 akibat perang, namun kembali hidup pada tahun 1982. Kini, Semarak Kalimalang menjadi agenda tahunan warga untuk memperingati HUT RI.

Subagyo menuturkan bahwa tradisi ini tidak boleh punah, sesuai dengan wejangan para pendahulu. Meskipun dana yang tersedia terbatas, ia dan warga tetap melaksanakan acara setiap tahun.

Pada tahun ini, acara Semarak Kalimalang terasa lebih istimewa. Subagyo mengungkapkan kejutan ketika mendapat kabar dari Lurah Cipinang Melayu, Arroyantoro, tentang sumbangan dari Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. “Menurut informasi dari Pak Lurah, berita Semarak Kalimalang ini sampai ke telinga Bapak Gibran. Pak Wapres berniat menyumbangkan sepeda, dan Alhamdulillah kami menerima dua buah sepeda gunung,” katanya.

Selain itu, ada pula 4 unit televisi Android 32 inci, kulkas, coffee maker, setrika, dan berbagai hadiah hiburan lainnya yang berasal dari dukungan sponsor beberapa pihak.

Lomba di Atas Air, Keselamatan Tetap Utama

Lomba yang diselenggarakan berlangsung di aliran Kalimalang dengan kedalaman antara 1,5 hingga 2 meter. Panitia membagi kategori lomba berdasarkan usia dan kemampuan peserta. Untuk lomba panjat pinang, peserta diambil dari remaja hingga dewasa, dengan syarat utama bisa berenang. Sementara untuk lomba titian bambu, peserta diambil dari remaja ke bawah hingga anak-anak. Jika ada warga yang tidak bisa berenang, mereka bisa ikut lomba titian bambu dengan bantuan baju pelampung.

Koordinasi dengan kelurahan, Damkar, BNPB, Puskesmas, serta Polsek dilakukan demi kelancaran acara. Subagyo menjelaskan bahwa tiga pilar—Damkar, BNPB, dan Puskesmas Kelurahan Cipinang Melayu—telah bekerja sama dalam hal kesehatan. Selain itu, juga dilakukan koordinasi dengan Polsek Makasar dan Duren Sawit untuk mengatur lalu lintas.

Dua Hari Penuh Kemeriahan

Rangkaian acara akan dimulai pada 16 Agustus dengan senam massal, lomba anak-anak, hiburan musik, dan lomba utama seperti panjat pinang, titian bambu, serta gebuk bantal khusus pengurus. Puncaknya pada 17 Agustus, warga akan mengikuti upacara detik-detik Proklamasi sebelum kembali menggelar lomba dan hiburan.

Subagyo menjelaskan jadwal lengkap acara. Pada hari Sabtu (16 Agustus), pagi hari akan diisi dengan senam pagi massal. Dilanjutkan dengan lomba anak-anak, hiburan musik, dan panggung. Siang hari jam 1, lomba utama seperti panjat pinang, titian bambu, dan gebuk bantal akan digelar. Pada tanggal 17 Agustus, warga akan menghormati upacara detik-detik Proklamasi, dengan pengurus RW yang hadir dan membunyikan sirine beberapa detik.

Tepi Kalimalang juga akan dipadati oleh tenda-tenda UMKM. Subagyo menjelaskan bahwa setiap RT akan diberi jatah 1-2 tenant. Tenda yang resmi dari panitia ada 20 unit, ditambah tenda dari kelurahan untuk UMKM. Sementara UMKM dari luar yang biasa musiman bisa bebas berjualan, dengan jumlah yang mencapai ratusan.

Dana Besar Demi Kebahagiaan Warga

Acara ini digelar dengan dana sekitar Rp 120 juta, yang sepenuhnya digunakan untuk lomba, hadiah, keamanan, dan kebersihan. Subagyo menegaskan bahwa dana tersebut digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan acara, tanpa mencari keuntungan. “Jika masyarakat sudah bahagia, itu cukup bagi kami,” ujarnya.

Bagi warga Cipinang Melayu, Semarak Kalimalang bukan sekadar lomba. Ini adalah ajang silaturahmi, hiburan bersama, dan wujud kebanggaan dalam menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

0 Komentar