Menteri Buka Suara Soal Penyebab Penggilingan Padi Kecil Jatuh

Featured Image

Fenomena Tutupnya Penggilingan Padi Kecil di Indonesia

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa penutupan usaha penggilingan padi kecil bukanlah hal yang baru dan telah terjadi sejak lama. Ia menyampaikan pernyataannya saat ditemui di sela-sela konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026 di Jakarta, Jumat (15/8/2025). Menurutnya, banyak penggilingan kecil yang tutup karena jumlah gabah yang digiling hanya sekitar 42 juta ton selama enam bulan.

Di sisi lain, produksi padi nasional hanya mencapai 65 juta ton gabah untuk digiling. Padahal, kapasitas penggilingan padi kecil secara nasional mampu menggiling hingga 116 juta ton gabah. Hal ini menyebabkan banyak mesin penggilingan kecil tidak bekerja secara penuh dan menganggur.

Saat ini, usaha penggilingan padi dibagi ke dalam tiga klaster, yaitu 161.000 penggilingan padi kecil, 7.300 penggilingan padi menengah, dan 1.065 penggilingan besar. Dari total produksi gabah, hanya 42 juta ton yang digiling, sementara kapasitas giling terpasang mencapai 165 juta ton. Ini berarti ada yang tidak kebagian pekerjaan.

Menurut Amran, penggilingan padi besar sebaiknya tidak bersaing dengan penggilingan kecil. Sebab, penggilingan besar selalu bisa menawarkan harga gabah lebih tinggi dari penggilingan kecil. Contohnya, jika penggilingan kecil membeli gabah Rp6.500 per kilogram, penggilingan besar mungkin menawarkan harga Rp6.700 atau bahkan lebih tinggi. Hal ini dapat mengganggu ekonomi pelaku usaha kecil.

Namun, Amran menekankan bahwa pemerintah akan memperbaiki tata usaha struktur pasar baru agar tidak terjadi monopoli pembelian gabah oleh penggilingan besar. Ia menjelaskan bahwa pemerintah memiliki perintah langsung dari Presiden untuk melakukan perbaikan ini. Selain itu, stok beras yang cukup banyak juga menjadi alasan pentingnya perubahan struktur pasar.

Untuk itu, pemerintah akan membangun struktur pasar baru ke depan. Amran berharap, dengan struktur pasar yang baru, intervensi terhadap gabah dapat dilakukan secara efektif. Ia menyampaikan bahwa sudah beberapa kali rapat koordinasi dilakukan dengan Menteri Koordinator Zulkifli Hasan, dan prinsip kesepakatan sudah tercapai.

Penutupan Penggilingan Padi Kecil Akibat Ketakutan

Sebelumnya, Ombudsman mencatat sebanyak 10 dari 23 penggilingan padi kecil menutup usahanya akibat adanya kekhawatiran dalam menjalankan usaha perberasan di Indonesia. Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika menyampaikan temuan tersebut saat melakukan uji petik di Kecamatan Tempuran, Karawang dan sekitarnya. Ia menemukan bahwa dari 23 penggilingan padi di wilayah tersebut, 10 di antaranya telah tutup.

Penyebab penutupan ini, menurut Yeka, bukan hanya disebabkan oleh persaingan, tetapi juga karena kondisi saat ini yang membuat para pelaku usaha merasa takut. Ia menemukan bahwa stok beras di penggilingan padi semakin menipis akibat kasus beras oplosan. Saat ini, stok beras di tingkat penggilingan hanya berkisar 5–10%, sedangkan sebelumnya rata-rata stok mencapai 100 ton.

Yeka mengungkap bahwa ketakutan para penggilingan padi menjadi penyebab utama penurunan stok beras. Ia menyampaikan bahwa para penggilingan menjawab pertanyaannya dengan alasan "takut". Menurutnya, ini adalah situasi yang tidak wajar, karena pelaku usaha perberasan seharusnya tidak merasa seperti menjual barang haram atau ilegal.

Ombudsman meminta pemerintah segera mengembalikan kondisi perberasan Indonesia menjadi kondusif, baik untuk penggilingan kecil, penggilingan besar, maupun pedagang kecil dan besar. Tujuannya adalah agar beras di tingkat konsumen tersedia dengan harga terjangkau. Yeka menegaskan bahwa pemerintah harus segera menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pelaku usaha perberasan.

0 Komentar