Tangis Orangtua 58 Siswa SD yang Belajar di Bawah Pohon Sawit, Sekolah Disita Pemerintah

Featured Image

Anak-anak SD Belajar di Kebun Sawit Akibat Penyitaan Lahan

Di Dusun Toro Jaya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kabupaten Pelalawan, Riau, para orang tua siswa Sekolah Dasar (SD) terlihat menangis melihat kondisi anak-anak mereka belajar. Tidak ada ruangan khusus yang bisa melindungi mereka dari panas matahari dan debu, sehingga anak-anak harus belajar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Bukan tanpa alasan, karena sekolah tersebut tidak lagi memiliki ruangan akibat penyitaan lahan. Para warga dipaksa untuk melakukan relokasi mandiri, termasuk fasilitas sekolah yang ada di desa tersebut. Anak-anak SD terpaksa belajar di bawah pohon sawit dengan atap terpal dan alas tanah.

Kondisi ini terjadi pada hari pertama mereka masuk sekolah, Senin (14/7/2025). Anak-anak tersebut duduk melingkar di atas plastik terpal, mengenakan seragam merah putih. Beberapa dari mereka menggunakan topi sekolah untuk mengipas tubuh karena kepanasan. Di belakang mereka, beberapa orang tua juga duduk di tanah sambil menyaksikan proses belajar.

Anak-anak ini merupakan siswa baru dari Dusun Toro Jaya, yang tinggal di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Lahan tempat tinggal mereka disita oleh pemerintah karena dianggap masuk dalam kawasan hutan. Sebelumnya, mereka ingin bersekolah di SD 20 Dusun Toro Jaya, tetapi sekolah tersebut dilarang menerima murid baru setelah lahan itu disita dan dinyatakan sebagai kawasan hutan.

Siswa kelas dua hingga enam masih diperbolehkan bersekolah, dengan total 455 siswa dalam 10 rombongan belajar. SD 20 dulunya merupakan kelas jauh dari SD Negeri 003 Desa Lubuk Kembang Bunga dan baru berstatus negeri pada September 2024.

Akibat penyitaan lahan, orang tua diminta mendaftarkan anak ke SD induk yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan. Namun, jarak yang jauh membuat hal ini menjadi tidak mungkin. Oleh karena itu, warga berinisiatif membangun tenda sederhana dari terpal plastik di luar kawasan TNTN agar anak-anak tetap bisa belajar.

Mereka meminta bantuan seorang guru untuk mengajar secara sukarela. Orang tua meminta tolong kepada guru tersebut, karena anak-anak sangat antusias ingin sekolah. Pada hari pertama masuk, anak-anak diberikan pemahaman tentang situasi yang mereka alami. Mereka bertanya mengapa harus belajar di kebun sawit.

Menurut Abdul Aziz, juru bicara warga TNTN, banyak ibu-ibu yang menangis melihat kondisi ini. Mereka merasa seperti berada di zona perang yang tidak ada ampun lagi. Menurut Aziz, pemerintah seharusnya memberikan solusi konkret agar pendidikan anak-anak tidak terganggu.

Ia menilai bahwa ini seperti hukuman yang diwariskan turun-temurun. Hukuman ke orang tuanya, sawit yang tidak laku lagi, dan anak-anak harus menderita karena sekolahnya seperti itu.

Di hari kedua sekolah, warga berupaya memindahkan kegiatan belajar ke sebuah musalah yang berada di luar kawasan TNTN. Yang penting adalah tidak dalam kawasan TNTN.

Beberapa waktu lalu, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menyita lahan yang digarap warga di TNTN, termasuk di Dusun Toro Jaya. Pemerintah meminta warga melakukan relokasi mandiri, namun banyak yang menolak dengan alasan lahan itu dibeli secara sah. Hingga kini, ribuan warga masih bertahan di lokasi tersebut.

0 Komentar