
Inovasi Kuliner dari Talas, Pastalagita Berhasil Mengangkat Pamor Bahan Lokal
Talas, yang biasanya hanya dikenal sebagai bahan makanan tradisional seperti keripik atau hidangan kukus, kini hadir dalam bentuk yang lebih modern dan menarik berkat inovasi dari UMKM Pastalagita. Produk ini menghadirkan olahan pasta dengan bahan utama talas Bogor, menciptakan rasa yang unik dan bergizi.
Menciptakan Rasa yang Berbeda
Rika Dewi Rostiasih, pemilik Pastalagita, ingin memperkenalkan talas sebagai bahan makanan yang lebih modern dan disukai oleh kalangan muda. Ia menyadari bahwa talas memiliki rasa tawar namun legit, berbeda dengan ubi atau singkong yang cenderung manis tapi tidak konsisten. Namun, talas sering dianggap tidak diminati anak-anak karena dipercaya bisa menyebabkan gatal.
Untuk mengatasi hal ini, Rika menciptakan berbagai olahan pasta dari talas, seperti skutel talas, lasagna talas, dan pastel tutup. Inovasi ini bertujuan untuk “menaikkan kelas” talas menjadi hidangan modern yang lebih menarik dan mudah dinikmati.
Tantangan Awal dan Perkembangan Usaha
Perjalanan Rika dalam memperkenalkan pasta talas tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesarnya adalah persepsi masyarakat bahwa talas dapat menyebabkan gatal. Ia harus meyakinkan konsumen bahwa jika proses pengolahan dilakukan dengan benar, talas Bogor tidak akan menimbulkan efek tersebut.
Produk yang ditawarkan Pastalagita sangat beragam. Dalam kategori pasta, tersedia makaroni panggang, spaghetti bolognese, dan lasagna. Sementara untuk olahan talas, ada skutel talas, lasagna talas, dan pastel tutup. Lasagna menjadi varian yang paling diminati karena kandungan daging, susu, dan keju yang lebih banyak.
Pemasaran dan Pertumbuhan Bisnis
Pastalagita mulai beroperasi pada 2022. Dalam waktu hampir tiga tahun, bisnis ini telah menjangkau wilayah seperti Bandung dan Jakarta. Bahkan, ada pelanggan yang meminta produk dikirim langsung ke Belitung karena keterbatasan masa simpan.
Harga produk bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000 tergantung ukuran. Rata-rata omzet per bulan mencapai Rp4–5 juta, terlebih saat ikut bazar, omzet bisa meningkat lebih tinggi lagi.
Promosi dilakukan melalui media sosial Instagram dan partisipasi di berbagai bazar. Dari sinilah Pastalagita mendapatkan perhatian, bahkan pernah mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Bogor Bima Arya dan Wakilnya Dedi Rachim.
Proses Produksi dan Kualitas
Proses produksi dilakukan di rumah dengan bantuan suami dan sesekali anak Rika. Produk dikemas rapi dalam dus dan dibungkus bubble wrap agar aman selama pengiriman. Untuk pengiriman jarak jauh, produk dikirim dalam kondisi beku (frozen) agar tetap segar dan bisa dipanaskan kembali di rumah.
Rika juga memastikan resep yang digunakan memiliki takaran standar. Sejak awal, ia melakukan banyak percobaan, namun kini semua resep sudah memiliki ukuran pasti. Hal ini memudahkan suami dan keluarga untuk membuat produk dengan rasa yang sama meskipun Rika sedang tidak bisa hadir.
Harapan Masa Depan
Meski omzet tidak selalu stabil, Rika merasa bersyukur karena usaha ini cukup mencukupi kebutuhan sehari-hari. Modal awal berasal dari uang pensiun. Ia berharap Pastalagita bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas Bogor yang dikenal luas, seperti roti unyil atau bolu talas.
“Saya ingin Pastalagita menjadi oleh-oleh khas Bogor, karena berbeda dari bolu talas yang hanya menggunakan tepung talas. Produk saya benar-benar dari talas asli,” ujarnya.
0 Komentar