
Tradisi Ngurek: Lebih dari Sekadar Berburu Belut
Lomba Ngurek Bumi Ageung di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya, yang digelar pada Minggu (24/08), bukan sekadar ajang berburu belut. Acara ini menjadi perayaan budaya yang penuh makna dan memiliki nilai-nilai yang mendalam. Agenda tahunan yang kini memasuki tahun ke-11 pada 2025 menunjukkan betapa populer aktivitas ngurek di kalangan masyarakat Jawa Barat.
Ngurek, yang merupakan kegiatan berburu belut menggunakan alat khusus, telah menarik banyak perhatian dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Hal ini membuktikan bahwa tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Produk Budaya yang Sarat Makna
Budi Dalton, seorang budayawan sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan, menyampaikan kekagumannya terhadap budaya ngurek. Ia melihat ngurek sebagai warisan budaya yang hidup meskipun tidak tertulis dalam naskah kuno. Menurut Budi, ngurek adalah produk kebudayaan yang terwujud dalam bentuk budaya air, budaya sawah, atau budaya sungai. Meski tidak tercatat dalam naskah, secara faktual budaya ini masih ada dan hadir dalam kehidupan masyarakat.
Budi menekankan bahwa ngurek mengandung nilai-nilai yang mendalam, terutama keselarasan dengan alam dan lingkungan. Contohnya, cara berburu belut dengan alat khusus seperti urek yang terbuat dari benang dililit atau dirara secara khusus, serta penggunaan pakan yang spesifik, menunjukkan bahwa metode ini ramah lingkungan dan menjaga kelestarian ekosistem.
Selain itu, Budi menyebut bahwa belut kaya akan protein dan baik untuk kesehatan tubuh serta perkembangan kecerdasan anak. Dengan cara penangkapan yang unik dan ramah lingkungan, ngurek menjadi contoh bagaimana tradisi bisa bertahan dan berkembang tanpa merusak alam.
Mendorong Ngurek Jadi Cabang Olahraga Baru
Lebih jauh, Budi Dalton menyarankan agar ngurek diakui sebagai cabang olahraga baru di bawah Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI). Ia menilai pengakuan ini penting untuk memberikan legalitas dan mendorong lahirnya atlet-atlet profesional. Harapan Budi adalah suatu saat akan muncul atlet-atlet ngurek profesional dari Pagerageung, sehingga acara ini tidak hanya menjadi momen tahunan, tetapi juga menjadi ajang kompetisi yang diakui secara nasional.
Meski perhatian pemerintah daerah atau provinsi belum optimal, Budi menilai pengakuan internasional dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bisa menjadi langkah awal. Karena ngurek secara faktual ada dan dicintai oleh banyak masyarakat di Jawa Barat, hal ini menjadi dasar kuat untuk mendapatkan pengakuan global.
Peluang Ekonomi yang Besar
Antusiasme masyarakat terhadap ngurek tidak tanpa alasan. Taufik Faturohman, penggagas Lomba Ngurek Bumi Ageung, menjelaskan bahwa minat masyarakat terhadap ngurek sangat besar. Terbukti dari jumlah anggota komunitas ngurek di Tasikmalaya yang mencapai lebih dari 17.000 orang. Angka ini menunjukkan bahwa ngurek sangat diminati dan memiliki basis penggemar yang luas.
Taufik menyoroti potensi ekonomi yang besar dari ngurek. Salah satunya adalah harga belut yang sangat tinggi di luar negeri, khususnya Jepang. Menurutnya, satu kilogram belut bisa dijual hingga Rp3 juta. Ini menunjukkan bahwa jika kebutuhan pasar dapat dipenuhi, ngurek bisa menjadi sumber pendapatan yang signifikan.
Dari segi ekonomi, ngurek memiliki peluang yang sangat besar. Dengan dukungan masyarakat, potensi budaya, dan kebutuhan pasar yang tinggi, ngurek siap menjadi kegiatan yang lebih dari sekadar tradisi. Dari sebuah kegiatan berburu sederhana, ngurek kini menjadi aktivitas bernilai yang berpotensi melahirkan atlet, menjaga kelestarian alam, dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
0 Komentar