Bos Hutan Indonesia yang Berkuasa di Masa Orde Baru

Featured Image

Bob Hasan, Raja Hutan Indonesia yang Berpengaruh di Era Orde Baru

Bob Hasan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru. Nama aslinya adalah The Kiang Seng, namun ia lebih dikenal dengan nama Mohammad Hasan atau Bob Hasan. Selama hidupnya, ia menjadi pengusaha sukses dan juga pernah menjabat sebagai menteri di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.

Awal Kehidupan dan Perjalanan Karier

Bob Hasan lahir di Semarang pada Februari 1931. Sejak kecil, ia diangkat sebagai anak oleh Jenderal Gatot Subroto, yang kemudian menjadi jembatan untuk mengenal Soeharto. Pada masa awalnya, Bob Hasan tinggal di daerah Kedu, Jawa Tengah, tempat ia menghabiskan masa kecilnya dengan kehidupan yang tidak stabil.

Pada tahun 1958, Bob Hasan mulai memasuki dunia bisnis. Ia diberikan kepercayaan oleh Presiden Soeharto untuk memegang posisi Finex (ekonomi dan keuangan) dari Territorium IV. Saat itu, ia memiliki sekitar 25 perusahaan, namun hanya berperan sebagai investor tanpa mengambil peran langsung sebagai direktur utama.

Peran dalam Bisnis Kayu

Bob Hasan terkenal sebagai "Raja Hutan Indonesia" karena kesuksesannya dalam bisnis perkayuan. Ia juga menjadi ketua umum Masyarakat Perkayuan Indonesia (MPI) dan Ketua Umum Apkindo (Asosiasi Panel Kayu Indonesia). Di bawah kepemimpinannya, Asosiasi Panel Kayu Indonesia diberi mandat khusus oleh pemerintah Orde Baru untuk mengontrol bisnis kayu, termasuk ekspor, pemasaran, penetapan harga, dan pengaturan kontrak perdagangan anggotanya.

Pada akhir dekade 1970-an, Indonesia berhasil menguasai 80 persen pasar dunia untuk kayu lapis. Hal ini membuat Bob Hasan semakin kuat dalam bisnisnya, baik melalui dukungan bisnis sendiri maupun kontrol biaya yang dibayarkan oleh anggota organisasi lain.

Peran dalam Dunia Olahraga

Selain bisnis, Bob Hasan juga memiliki perhatian besar terhadap olahraga, khususnya atletik. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) pada 1987. Dalam jabatannya, ia menjalankan beberapa program penting, seperti menggerakkan acara lari massal dan menunjuk pejabat-pejabat bekas perusahaan sebagai pimpinan klub atletik setempat.

Bob Hasan juga memberikan dukungan besar untuk pembinaan atletik Indonesia. Kerja sama dengan Federasi Atletik Jerman (DLV) membawanya mendapatkan penghargaan tertinggi "Goldene Ehren Packeten". Selain itu, pihaknya juga mengirimkan pelatih dan atlet ke Jerman Barat serta mendatangkan pelatih Jerman ke beberapa provinsi di Indonesia.

Jabatan sebagai Menteri dan Akhir Kehidupan

Pada 1998, Bob Hasan diangkat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan VII. Ia menjadi satu-satunya orang Tionghoa yang pernah bergabung dalam kabinet Soeharto. Namun, jabatan ini berakhir saat Soeharto lengser dari kursi kepresidenan.

Setelah itu, Bob Hasan terlibat dalam kasus korupsi terkait proyek pemetaan hutan di Jawa pada awal 1990-an. Ia didakwa menyebabkan kerugian sebesar 244 juta dolar AS kepada pemerintah dan dijebloskan ke LP Cipinang, lalu dipindahkan ke LP Nusakambangan hingga bebas bersyarat pada 2004.

Warisan dalam Dunia Olahraga

Meskipun ada kontroversi, Bob Hasan diakui telah berjasa besar dalam perkembangan atletik Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, atlet-atlet Indonesia seperti Purnomo, Mardi Lestari, dan Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih prestasi internasional.

Bob Hasan meninggal dunia pada 31 Maret 2020 di RSPAD Jakarta Pusat pada usia 89 tahun setelah berjuang melawan kanker. Keberhasilannya dalam bisnis dan olahraga tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia.

0 Komentar