Erdogan: Seluruh Dunia Tahu Riwayat Israel Langgar Janji

Featured Image

Kekerasan di Gaza dan Kritik Terhadap Kebiadaban Israel

Pembunuhan massal yang terjadi di Gaza akibat pelanggaran gencatan senjata oleh Israel kembali memicu kemarahan global. Janji damai yang seharusnya memberikan harapan bagi warga Gaza justru dihancurkan oleh ledakan bom dan tembakan tentara Zionis. Lebih dari seratus nyawa melayang sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Dunia kini menyaksikan betapa rapuhnya makna “gencatan senjata” di hadapan kekuasaan yang rakus.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menjadi salah satu suara paling lantang menentang tindakan Israel. Dalam pidatonya di Forum Dunia TRT 2025, ia menggambarkan serangan Israel sebagai genosida yang dilakukan secara terbuka. Ia menuding masyarakat internasional gagal menjaga perdamaian, seolah-olah kehilangan nurani. Dengan nada tajam dan penuh amarah, Erdogan menggugat kemunafikan global yang membiarkan darah anak-anak Gaza mengering di reruntuhan rumah mereka.

“Israel memiliki senjata nuklir dan kemampuan untuk menyerang Gaza kapan saja, dengan cara apa pun,” ujar Erdogan. “Lantas, bagaimana mungkin mereka bisa mengeklaim diri tidak bersalah?” Pernyataan ini menggema ke seluruh dunia, mengguncang hati mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Setiap bom yang dijatuhkan Israel kini menjadi saksi bahwa yang dilanggar bukan hanya perjanjian gencatan senjata, melainkan nurani seluruh umat manusia.

Erdogan juga menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata mematikan, yang sengaja diarahkan kepada anak-anak di tengah krisis kemanusiaan terparah. Ia menggambarkan kondisi Gaza yang nyaris rata dengan tanah. “Hampir tidak ada satu bangunan pun yang tersisa utuh. Sekolah, gereja, masjid, bahkan rumah sakit—semua sudah dibom. Tapi masih ada yang bilang, 'Israel tidak bersalah.' Masak bisa?”

Selain itu, Erdogan mengkritik mesin propaganda Israel yang dibangun di atas kebohongan serta dampak buruknya terhadap para jurnalis. Menurutnya, 270 jurnalis yang berusaha mengungkap kebenaran di lapangan dan membongkar kepalsuan Tel Aviv harus meregang nyawa. Ia menekankan tanggung jawab moral media untuk berdiri di pihak keadilan.

Lebih lanjut, Erdogan mengkritik lembaga-lembaga global yang seharusnya menjaga perdamaian dan stabilitas. Menurutnya, mereka memalingkan muka dari pembantaian dan gagal mencegah genosida. “Mereka yang diberi tanggung jawab melindungi perdamaian global ternyata gagal menghentikan pembantaian, mencegah genosida, dan menyelamatkan nyawa anak-anak,” tandasnya.

Di tengah konflik yang terus berlangsung, Erdogan menyebut bahwa Hamas menunjukkan komitmen untuk mematuhi kesepakatan. Sebaliknya, ia menuduh Israel sengaja mencari-cari alasan untuk melanggar perjanjian dan kembali melanjutkan serangan. “Semua orang sudah tahu rekam jejak Israel dalam ingkar janji,” tambahnya lugas.

Di luar konflik Gaza, Presiden Erdogan menyampaikan optimisme terkait konflik Rusia-Ukraina. Ia meyakini bahwa “jalan tengah akan segera ditemukan” sehingga kedua negara dapat “hidup berdampingan dengan damai sekali lagi.” Mempertegas prinsip kebijakan luar negeri Turki, Erdogan juga menyatakan bahwa Ankara “mengutuk keras segala kekejaman terhadap warga sipil” di Al Fasher, Sudan, dan mendesak diambilnya langkah segera untuk menghentikan kekerasan tersebut.

Forum Dunia TRT yang ke-9 resmi dibuka di Istanbul. Acara ini menghadirkan para pemimpin, pemikir, dan agen perubahan dari seluruh dunia untuk mendiskusikan bagaimana realitas global terus dibentuk ulang di tengah gelombang ketidakpastian. Dengan tema "The Global Reset: Dari Tatanan Lama ke Realitas Baru", forum dua hari ini mengeksplorasi berbagai pergeseran dalam ekonomi, teknologi, media, dan hukum internasional yang sedang mendefinisikan ulang dunia tempat kita hidup.

Forum ini juga menjadi ruang untuk mengangkat isu-isu yang kerap dibungkam ke permukaan, sekaligus mempertanyakan peran media dalam membentuk narasi global. Dengan partisipasi aktif dari berbagai pihak, acara ini diharapkan mampu menjadi wadah dialog yang bermanfaat bagi semua pihak.

0 Komentar