Kuas Melawan Batas, Sriekandi Patra Menggores Asa di Panggung Dunia

Featured Image

Keterbatasan Bukan Hambatan, Tapi Sumber Inovasi

Di tengah kota Boyolali, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Darmawan Fadli Abdul Syukur atau akrab disapa Wawan menunjukkan kepiawaiannya dalam menciptakan kain batik tulis. Meskipun mengalami tremor sejak lahir, ia tidak pernah menyerah. Justru, ia mampu mengubah keterbatasan menjadi sumber inovasi dengan memanfaatkan kuas modifikasi sebagai alat utamanya.

Wawan adalah bagian dari Sanggar Inspirasi Karya Inovasi Difabel (Sriekandi) Patra, sebuah komunitas yang didirikan oleh CSR Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah. Di sini, lima difablepreneur bekerja bersama untuk menciptakan kain batik dan pakaian siap pakai yang bernilai hingga setengah juta rupiah. Karya mereka sangat diminati di seluruh Nusantara, bahkan sampai diekspor ke luar negeri.

Perjalanan Awal yang Penuh Rintangan

Perjalanan Wawan dimulai dari titik nol yang kelam. Setelah lulus sekolah, ia hanya menghabiskan waktu untuk tidur dan menonton televisi tanpa memiliki tujuan hidup. Namun, berkat bantuan social mapping CSR Pertamina, ia akhirnya bergabung dengan Sriekandi Patra. Didorong oleh keluarga, ia mulai berkarya dan menjalani pelatihan yang memberinya semangat baru.

Awalnya, ia merasa tidak mampu menggambar atau membuat batik karena tremornya. Namun, dengan latihan rutin, ia berhasil mengembangkan teknik unik dengan menggunakan kuas alih-alih canting tradisional. Kini, ia mampu membatik dengan mudah dan bangga akan kemampuannya.

Menciptakan Keluarga Baru

Di Sriekandi Patra, Wawan menemukan keluarga baru. Meskipun hanya berkumpul 3-4 jam sehari, ikatan antara anggota sanggar sangat kuat. Mereka saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam proses produksi. "Teman-teman seperti saudara. Yang penting, saya bisa berkarya di sini," ujarnya dengan mata berbinar.

Selama masa pandemi, Sriekandi Patra juga tetap bertahan. Bahkan, mereka mampu berinovasi dengan membuat masker batik yang laku banyak di pasaran. Selain itu, mereka mulai memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Shopee untuk memasarkan produk-produk mereka.

Bertransformasi ke Dunia Digital

Koordinator Sriekandi Patra, Siti Fatimah, mengatakan bahwa inovasi digital menjadi kunci keberhasilan mereka. Dengan memanfaatkan platform online, mereka mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Langkah ini sejalan dengan program Pertamina Go Digital, yang mengoptimalkan bisnis melalui teknologi terdepan.

Lurah Tawangsari, Yayuk Tuti Supriyanti, juga mendukung sepenuhnya kegiatan Sriekandi Patra. Ia bahkan menyediakan bangunan di atas tanah kas desa sebagai WorkShop Sriekandi Patra. "Kami berharap Sriekandi Patra ke depan bisa go internasional, produk batiknya bisa mendunia dijual di pasar luar negeri," ujarnya.

Ekspansi Global dan Pengakuan Internasional

Di belahan dunia lain, Sri Sulastri, seorang pembuat batik penyandang tuna rungu dari Sriekandi Patra, tampil di Paviliun Indonesia pada World Expo 2025 Osaka, Jepang. Ia memperkenalkan keindahan batik Indonesia kepada khalayak Jepang melalui sentuhan malam panas yang menghidupkan pola-pola bermakna di atas kain putih polos.

Pengalaman ini menjadi langkah besar bagi Sri. Dari kesunyian masa lalu yang sering dipenuhi penolakan, ia kini berada di bawah sorotan dunia. Karyanya tak hanya kompetitif, tapi juga memikat hati dunia. Penghargaan global seperti The CSR Excellence Awards di London dan The Global CSR Awards untuk program inklusi terbaik menjadi bukti keberhasilannya.

Program Pemberdayaan Difabel oleh Pertamina

Pertamina tidak hanya fokus pada pengembangan energi, tetapi juga pada pemberdayaan difabel di seluruh Indonesia. Dari konveksi hingga bengkel motor, dari pertanian hingga upcycling limbah, semua dirancang untuk mengubah keterbatasan menjadi kekuatan ekonomi mandiri.

Boyolali bukan hanya dikenal sapi perahnya, tapi juga sebagai laboratorium CSR Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah. Di sini, Program Pemberdayaan Disabilitas menjangkau 650 difabel dengan dana Rp 2,5 miliar, menciptakan ripple effect kemandirian.

Peran Pertamina dalam Pemberdayaan Difabel

Area Manager Commrel & CSR Pertamina Jateng DIY, Taufiq Kurniawan, menjelaskan bahwa kehadiran Sriekandi Patra di panggung dunia seperti World Expo Osaka Jepang adalah inisiatif Pertamina Group. Mereka mengirimkan perwakilan difabel dari program CSR seluruh Indonesia.

"Program difablepreneur ini merupakan implementasi dari Sustainable Development Goal ke-8 dan ke-10 tentang pekerjaan layak dan pengurangan ketimpangan," jelas Fajriyah Usrin, Spesialis ESG Pertamina dalam webinar terbatas.

Dengan data jumlah penyandang disabilitas di Jawa Tengah sebesar 1,6 juta jiwa, isu inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata yang menyentuh jutaan warga. Data ini harus menjadi pijakan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan inklusif.

Kesimpulan

Kisah sukses Sriekandi Patra adalah bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah hambatan, melainkan sumber inovasi terhebat. Dengan dukungan dari Pertamina dan komunitas yang solid, para difabel mampu berkarya, mandiri, dan bahkan menembus pasar internasional. Batik bukan sekadar pola dan warna, tapi simbol keberanian membuktikan bahwa setiap orang, apa pun kondisinya, layak berkarya, dihormati, dan diapresiasi.

0 Komentar