Puja Mandala, Toleransi yang Nyata

Featured Image

Pengalaman Berwisata di Bali: Menyaksikan Toleransi dalam Bentuk Nyata

Meluangkan waktu untuk melepas penat dari rutinitas harian adalah langkah penting yang perlu dilakukan agar pikiran tetap segar dan tidak terbebani. Salah satu cara yang efektif adalah dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang menawarkan suasana berbeda, baik itu objek wisata alam maupun budaya. Dalam perjalanan tersebut, mengajak keluarga atau teman dekat bisa menjadi pilihan yang menyenangkan karena bisa saling berbagi pengalaman dan kebahagiaan.

Pada akhir tahun ajaran, banyak orang memilih untuk melakukan perjalanan liburan. Karena pada masa ini, anak-anak sekolah sedang berlibur, sehingga para orang tua juga sering menyesuaikan cuti kerja mereka dengan jadwal liburan sekolah. Hal ini membuat momen liburan menjadi lebih spesial, terutama bagi siswa dan guru yang ingin merayakan kesempatan bersama.

Salah satu contoh pengalaman liburan yang menarik adalah perjalanan yang dilakukan oleh warga SMP Negeri 4 Kuningan. Mereka memilih untuk berkunjung ke Bali pada tanggal 20 hingga 25 Desember 2024. Perjalanan ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk menikmati keindahan pulau dewata, tetapi juga memberikan pengalaman unik yang tidak terlupakan.

Salah satu lokasi yang menarik perhatian selama perjalanan adalah Puja Mandala. Tempat ini menawarkan pengalaman yang sangat istimewa karena menjadi contoh nyata dari toleransi antar agama. Di sini, kita dapat melihat bagaimana berbagai tempat ibadah berdampingan tanpa saling mengganggu. Sebelumnya, mungkin kita hanya mengira bahwa tempat seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral adalah contoh tunggal dari toleransi. Namun, di Bali, kita dapat melihat lebih dari itu.

Di Kompleks Peribadatan Puja Mandala, terdapat lima tempat ibadah yang berjejer dalam satu lokasi yang berdekatan. Mulai dari Masjid Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Bukit Doa, hingga Pura Jagat Natha. Setiap tempat ibadah memiliki desain dan ornamen yang khas, mencerminkan kekayaan budaya dan agama yang ada di Bali.

Masjid Ibnu Batutah, salah satu dari lima tempat ibadah tersebut, memiliki desain yang menarik dan nyaman. Masjid ini terbagi menjadi dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk kegiatan pendidikan seperti membaca Al Quran dan penyimpanan zakat. Sementara lantai dua digunakan sebagai tempat salat. Mihrab yang minimalis dan koleksi barang antik seperti beduk lama serta Al Quran yang ditulis tangan menambah keunikan masjid ini.

Yang menarik adalah ketika azan berkumandang, suara lonceng gereja dan kidung Hindu juga terdengar secara bersamaan. Namun, hal ini tidak menyebabkan gangguan. Orang-orang datang ke tempat ibadah masing-masing tanpa saling mengganggu, bahkan kendaraan pun terparkir rapih di depan masing-masing tempat ibadah. Pemandangan seperti ini sangat indah dan jarang ditemukan di tempat lain.

Meskipun masjid mungkin lebih sepi dibandingkan tempat ibadah lainnya di Bali, karena mayoritas penduduk setempat adalah penganut agama Hindu, kebersihan dan kenyamanan masjid tetap terjaga dengan baik. Keindahan dan ketenangan yang tercipta di sini membuat kami merasa kagum dan menghargai keberadaan Masjid Ibnu Batutah. Ini adalah bukti nyata bahwa toleransi bisa dirasakan dan dilihat langsung, bukan hanya sekadar wacana.

0 Komentar