
Tantangan dan Strategi untuk Mengeliminasi Tuberkulosis di Indonesia
Sejak dilantik sebagai Wakil Menteri Kesehatan pada 8 Oktober 2025, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus (Benny) langsung menghadapi tantangan besar dalam memerangi tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Negara ini menduduki peringkat kedua tertinggi kasus TBC di dunia, hanya satu tingkat di bawah India. Artinya, dari 10 pasien TBC di dunia, satu di antaranya berasal dari Indonesia.
Meski target ambisius untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030 dicanangkan, banyak tantangan yang harus diatasi. Mulai dari keterbatasan anggaran, distribusi layanan kesehatan yang tidak merata, hingga kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan. Dalam wawancara eksklusif, Benny menjelaskan strategi dan langkah konkret yang akan diambil pemerintah agar Indonesia bisa bebas dari TBC dalam lima tahun ke depan.
Tugas Utama Wamenkes Benny: Pengendalian Penyakit dan Pemantauan TBC
Salah satu tugas utama Benny adalah pengendalian penyakit, khususnya TBC. Ia juga ditugaskan untuk mengawasi program makan bergizi (MBG) yang sedang marak di tengah masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, Benny bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Wakil Menteri Kesehatan lainnya, para ahli gizi, dan lembaga terkait.
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya cek kesehatan. Salah satunya adalah program cek kesehatan gratis yang bertujuan untuk membantu masyarakat lebih sadar akan kondisi kesehatannya. Benny menyebutkan bahwa banyak orang di Indonesia tidak terbiasa melakukan pemeriksaan kesehatan, bahkan hingga saat ini, mereka hanya datang ke rumah sakit ketika sudah sangat sakit.
Data Kasus TBC di Indonesia dan Target Eliminasi
Berdasarkan data, jumlah kasus TBC di Indonesia cukup tinggi. Pada tahun 2020, diperkirakan ada 824 ribu kasus TBC, namun hanya 393 ribu yang berhasil diperiksa. Angka ini menunjukkan bahwa sekitar 52 persen pasien TBC belum ditemukan. Di tahun 2021, jumlah kasus meningkat menjadi 969 ribu, lalu mencapai 1,6 juta pada 2022. Pada 2025, diperkirakan ada sekitar 1,09 juta kasus TBC.
Untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030, pemerintah telah merancang berbagai program nasional dan strategi. Salah satunya adalah skrining TBC yang melibatkan seluruh anggota keluarga pasien. Saat ini, cakupan pemeriksaan keluarga baru mencapai 30 persen. Untuk meningkatkan cakupan, pemerintah akan memanfaatkan program cek kesehatan gratis yang sekaligus digunakan untuk skrining TBC, diabetes, dan hipertensi.
Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat program investigasi kontak dan pencarian aktif kasus baru. Hal ini penting karena penularan TBC terus berjalan selama masih ada orang yang belum diobati.
Kerja Sama Lintas Sektor untuk Menangani TBC
Menurut Benny, penanganan TBC bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Perlu kerja sama lintas sektoral yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Beberapa contohnya adalah:
- Kementerian Dalam Negeri yang bertanggung jawab atas puskesmas dan pembentukan kelurahan siaga TBC.
- Kementerian Sosial yang akan memberikan bantuan sosial kepada keluarga pasien TBC dari kalangan ekonomi bawah.
- Kementerian Tenaga Kerja yang akan memastikan perlindungan bagi pegawai yang sedang menjalani pengobatan TBC.
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang akan membantu memperbaiki kondisi rumah-rumah tidak layak huni.
- Kementerian Komunikasi dan Informatika yang akan membantu menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat.
- Badan Gizi Nasional yang akan memastikan program makan bergizi tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah juga akan bekerja sama dengan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta lembaga-lembaga lainnya.
Mengatasi Stigma dan Kesadaran Masyarakat
Stigma terhadap TBC tetap menjadi tantangan besar. Banyak orang takut atau malu untuk memeriksakan diri. Benny menekankan pentingnya komunikasi dan edukasi untuk mengubah persepsi masyarakat. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan insentif bagi kader TBC yang bekerja di lapangan, terutama untuk kasus resisten obat.
Target dan Harapan Masa Depan
Walaupun target eliminasi TBC pada 2030 terdengar ambisius, Benny yakin bahwa dengan kerja sama lintas sektor dan pendekatan yang tepat, Indonesia dapat mencapainya. Dengan pengobatan yang tepat, kesadaran masyarakat yang meningkat, dan kolaborasi yang kuat, TBC bisa dikendalikan dan akhirnya dihilangkan dari Indonesia.
0 Komentar