
Kehidupan Warga Miskin Ekstrem di Tengah Perkebunan PTPN 1 Regional 5 Surabaya
Di tengah perkebunan kopi yang luas dan berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 1 Regional 5 Surabaya, terdapat kelompok warga miskin ekstrem yang tinggal di area tersebut. Namun, menurut informasi yang diberikan oleh pihak PTPN, mereka tidak menyadari adanya kondisi seperti ini. Hal ini menjadi ironi karena data dari Pemerintah Kabupaten Jember menunjukkan bahwa ada sekitar 22.043 jiwa atau 5.325 KK warga miskin ekstrem yang tinggal di area perkebunan BUMN di Jember.
Warga Tinggal di Rumah Sederhana Tanpa Hak Atas Tanah
Pantauan tim Ekspedisi Nusaraya gubukinspirasi.id di Perkebunan Kopi Silosanen menunjukkan bahwa banyak warga tinggal dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka tinggal di rumah sederhana yang disediakan oleh PTPN, namun tidak memiliki sejengkal tanah pun. Salah satu contohnya adalah Buniman (65), yang tinggal di Afdeling Kampongan. Ia lahir di lokasi tersebut dan telah hidup di sana selama bertahun-tahun. Meskipun begitu, ia tidak memiliki hak atas tanah tempat tinggalnya.
Buniman bekerja sebagai pekerja harian lepas atau tenaga borongan di perkebunan. Penghasilannya tidak tetap, tergantung pada musim panen. Saat musim panen, dia bisa mendapatkan upah sekitar Rp 57.000 hingga Rp 60.000 per hari. Namun, saat tidak musim panen, penghasilannya hanya Rp 40.000 per hari, dengan jadwal kerja yang tidak pasti.
Keluarga yang Mengandalkan Upah Harian
Buniman menjadi tulang punggung keluarga yang terdiri dari enam anggota. Istrinya, Iyem (62), sedang sakit stroke, sehingga kebutuhan keluarga sangat besar. Anak-anaknya juga masih berada dalam usia produktif, termasuk Iflah (31), Umar (26), dan Ferdi (19). Selain itu, ada dua cucu yang tinggal bersamanya. Anak pertamanya, Sinar, meninggal dunia, sedangkan anak kedua, Baihaqi, bekerja sebagai buruh bangunan di Bali.
Untuk menambah penghasilan, Buniman sering kali mencari pekerjaan tambahan di luar perkebunan. Misalnya, ia bekerja menggarap lahan warga dengan upah Rp 50.000 per hari. Namun, pekerjaan ini juga tidak menentu karena bergantung pada permintaan warga. Selain itu, ia juga memelihara dua ekor sapi yang bukan miliknya, tetapi hasilnya dibagi dengan pemilik.
Tantangan dalam Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Bupati Jember, Muhammad Fawait, mengakui bahwa jumlah warga miskin ekstrem di Jember masih tinggi, bahkan tertinggi di Jawa Timur. Ia menyatakan bahwa salah satu tantangan utama dalam pengentasan kemiskinan adalah posisi warga yang tinggal di tengah lahan BUMN. Menurut aturan, warga yang dapat menerima bantuan pertanian harus memiliki lahan. Namun, warga yang tinggal di lahan PTPN tidak memiliki lahan, sehingga tidak layak menerima bantuan tersebut.
“Kami kesulitan memberi bantuan secara langsung karena mereka tidak memiliki lahan. Namun, kami tidak akan berpangku tangan,” ujar Bupati Fawait. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mencari solusi untuk membantu warga miskin ekstrem, termasuk melalui pelatihan keterampilan dan penguatan kewirausahaan.
Upaya Pemerintah dalam Memberdayakan Warga
Gus Fawait berencana untuk melatih warga miskin ekstrem agar memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk berwirausaha. Tujuannya adalah menciptakan UMKM baru yang bisa memberikan penghasilan stabil. Dengan demikian, diharapkan warga miskin ekstrem dapat lebih mandiri dan memiliki akses terhadap sumber penghidupan yang lebih baik.
Artikel ini merupakan bagian dari perjalanan tim Ekspedisi Nusaraya gubukinspirasi.id di Kabupaten Jember, mulai dari 27 November hingga 2 Desember.
0 Komentar