
Kementan Perkuat Pengembangan Lahan Pertanian di Dataran Tinggi Indonesia
Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pengembangan lahan pertanian di dataran tinggi Indonesia yang memiliki potensi mencapai 5,51 juta hektar. Kawasan ini dinilai sangat strategis untuk pengembangan berbagai komoditas seperti pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Hal ini juga mendukung ketahanan pangan nasional sesuai dengan visi yang dicanangkan.
Direktur Jenderal (Dirjen) Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menegaskan bahwa Kementan saat ini fokus pada percepatan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani melalui program "The Development of Integrated System in Upland Areas Project (UPLAND)". Program ini adalah sebuah proyek pengembangan kawasan pertanian dataran tinggi yang didanai oleh IFAD dan ISDB. UPLAND bukan sekadar proyek biasa, tetapi merupakan lompatan besar menuju pertanian modern yang terpadu, produktif, tangguh, dan berkelanjutan.
Pendekatan Terintegrasi: Dari Lahan Hingga Pasar
Program UPLAND hadir dengan pendekatan sistem pertanian terpadu yang menyentuh semua rantai produksi dan pasca panen, mulai dari:
- Dukungan lingkungan sosial dan alamiah yang terintegrasi dengan kebutuhan budidaya;
- Pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jaringan irigasi, jalan usaha tani, dan alat mesin pertanian;
- Penguatan produksi melalui penerapan teknologi, input produksi, dan praktik budidaya modern (Good Agricultural Practices/GAP);
- Peningkatan pascapanen hingga meningkatkan daya saing produk;
- Penguatan kelembagaan petani, termasuk pengembangan bisnis petani dan akses permodalan (microfinance);
- Pemberdayaan perempuan melalui pengarusutamaan gender dan penguatan nutrisi keluarga.
Menurut Hermanto, program UPLAND merupakan salah satu kebijakan strategis Kementan untuk mengurangi kemiskinan masyarakat dan meningkatkan ketahanan pangan di dataran tinggi melalui mata pencaharian yang menguntungkan, berkelanjutan, dan tangguh.
Dampak Nyata di Daerah: Lahan Kembali Produktif
Di Kabupaten Tasikmalaya, dampak program ini sudah dirasakan langsung oleh petani. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan setempat, Tatang Wahyudin, menyebut UPLAND berhasil membuka kembali peluang pertanian di wilayah selatan yang sebelumnya kekurangan air. Daerah yang dulu tidak bisa menanam padi kini kembali produktif berkat ketersediaan irigasi. Program ini bahkan mendorong bangkitnya kembali potensi pertanian organik yang dulu sangat terkenal.
Petani Merasakan Manfaat: Produksi Naik, Pendapatan Bertambah
Perubahan positif juga dirasakan langsung oleh petani. Ahmad Ismail, Ketua Kelompok Tani Sri Asih Mandiri, Desa Sukahening, mengaku bahwa produksi pertanian kelompoknya meningkat sejak mendapatkan pembinaan dan fasilitas dari UPLAND. Hal senada disampaikan Hendar, pengelola Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) Desa Padawaras. Ia menjelaskan bahwa lahan-lahan yang dulu terbengkalai kini sudah terairi secara normal sehingga bisa dikelola kembali. Selain itu, pengemasan pupuk organik cair dan padat di desanya kini lebih baik berkat dukungan program UPLAND.
Menatap Ke Depan: Dataran Tinggi sebagai Pusat Pertumbuhan Baru Pertanian Indonesia
Dengan berbagai capaian yang sudah terlihat, Kementan optimistis bahwa dataran tinggi Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang potensial dan strategis di sektor pertanian di masa mendatang. Program UPLAND bukan sekadar proyek, ini adalah momentum kebangkitan. Momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas, dan pendapatan petani yang berujung pada kesejahteraan masyarakat petani, serta mencetak generasi baru pertanian yang sehat dan bergizi, modern, mandiri, serta mendunia dalam prestasi.
0 Komentar