
Peran Bahasa Indonesia dalam Diplomasi Global
Pengakuan internasional terhadap Bahasa Indonesia semakin kuat dan terlihat dari berbagai inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk memperkuat posisi Bahasa Indonesia di tingkat regional dan global semakin konsisten. Salah satu momen penting dalam proses ini adalah kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq di The First Australian Congress for Indonesian Language 2025 yang diselenggarakan di Australian National University (ANU) pada hari Sabtu, 6 Desember 2025.
Kongres ini menjadi ajang penting bagi para pemangku kepentingan bahasa dari Indonesia dan Australia. Acara ini tidak hanya menunjukkan komitmen kedua negara dalam menjaga hubungan baik, tetapi juga menegaskan pentingnya Bahasa Indonesia sebagai bagian dari diplomasi pendidikan dan budaya. Wamen Fajar menyampaikan pesan bahwa penguatan Bahasa Indonesia sangat diperlukan mengingat peran strategis Indonesia dan Australia dalam dinamika Indo-Pasifik.
Kekuatan Geoeconomis Indonesia dan Australia
Indonesia dan Australia memiliki hubungan yang lebih dari sekadar kedekatan geografis. Kedua negara ini memiliki peran signifikan dalam peta ekonomi masa depan. Kekayaan sumber daya alam, khususnya mineral strategis, menjadikan keduanya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global. Di tengah transisi energi dan industri berkelanjutan, peran Bahasa Indonesia dan pendidikan menjadi jembatan untuk membangun kemitraan jangka panjang antara kedua negara.
Wamen Fajar menegaskan bahwa kehadirannya di acara ini adalah wujud komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan. Ia menilai bahwa pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan, November lalu, bukan hanya simbol kehormatan, tetapi juga pengakuan global terhadap Bahasa Indonesia.
Kolaborasi dan Partisipasi Berbagai Pihak
Kongres pertama Bahasa Indonesia di Australia dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari kedua negara. Sesi pembukaan menghadirkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono; Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa Kemendikdasmen, Iwa Lukmana; serta Chair of Australian Indonesia Institute, Lydia Santoso. Selain itu, panel diskusi lintas negara juga turut dihadiri oleh George Quinn (ANU), Helvy Tiana Rosa (Penulis dan Akademisi UNJ), Joel Backwell (Public Policy and Governance Adviser Australia–Indonesia), serta Mei Turnip, pengajar Bahasa Indonesia.
Selain sesi diskusi, forum ini juga melibatkan berbagai lembaga seperti Balai Bahasa Indonesia, Balai Bahasa dan Budaya Indonesia, serta asosiasi guru Bahasa Indonesia dari berbagai negara bagian dan teritori Australia. Hal ini menunjukkan komitmen bersama dalam memperluas cakupan penggunaan dan pemahaman terhadap Bahasa Indonesia.
Momentum Penting untuk Penguatan Bahasa Indonesia
Di akhir sambutannya, Wamen Fajar menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berperan dalam penyelenggaraan kongres ini. Ia menilai bahwa acara ini adalah sejarah dan momentum penting untuk terus memperkuat ekosistem dan pembudayaan Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global. Dengan partisipasi aktif dari berbagai pihak, harapan besar dapat terwujud dalam memperkenalkan dan mempromosikan Bahasa Indonesia di panggung internasional.
0 Komentar