Berita Populer Kota Padang: Penganiayaan Berat, Larangan Penggunaan Kendaraan Dinas, dan Krisis Air Bersih
1. Diduga Sakit Hati Dengar Ucapan Korban, Pria di Padang Bakar Ibu Angkat Pakai Pertalite
Seorang perempuan paruh baya berusia 50 tahun menjadi korban penganiayaan berat setelah disiram bahan bakar jenis pertalite lalu dibakar oleh seorang pria di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (12/3/2026). Kapolsek Padang Utara, AKP Yuliadi mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.50 WIB di kawasan Jalan Prof. Dr. Hamka, Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, tepatnya di kantor PT Lubuk Basung Ekspres.
"Korban diketahui berinisial AY (50), seorang ibu rumah tangga asal Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan," kata Yuliadi. "Sementara itu, terduga pelaku adalah IK (36) yang diketahui bekerja sebagai agen dan berdomisili di lokasi yang sama dengan tempat kejadian perkara."
Menurut Yuliadi, kejadian bermula saat terduga pelaku diduga sakit hati terhadap ucapan korban yang merupakan ibu angkatnya. Pelaku kemudian mengambil botol air mineral yang berisi bahan bakar pertalite, lalu menyiramkannya ke tubuh korban. Setelah itu, pelaku menyulut api sehingga menyebabkan tubuh korban terbakar.
Melihat kejadian tersebut, sejumlah saksi yang berada di lokasi langsung berupaya memadamkan api yang membakar tubuh korban. Setelah api berhasil dipadamkan, korban kemudian dibawa oleh suaminya ke RS Siti Rahmah Padang untuk mendapatkan perawatan medis. Namun karena kondisi luka bakar yang cukup parah, korban kemudian dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Korban dilaporkan mengalami luka bakar derajat 2A dengan luas sekitar 90 persen di sekujur tubuhnya. Sementara itu, setelah kejadian, terduga pelaku langsung menyerahkan diri ke Polsek Padang Utara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Beberapa saksi juga telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait peristiwa tersebut. Saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk mengamankan pelaku, mendata saksi-saksi, serta menyita barang bukti yang berkaitan dengan kejadian tersebut.

2. Wako Padang Larang ASN Gunakan Kendaraan Dinas untuk Kepentingan Pribadi Saat Momen Lebaran
Wali Kota Padang Fadly Amran menegaskan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Padang dilarang menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi, termasuk untuk mudik Lebaran. Menurut Fadly Amran, kendaraan dinas merupakan fasilitas negara yang disediakan untuk menunjang pelaksanaan tugas kedinasan. Karena itu, penggunaannya harus sesuai aturan dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Ia mengingatkan setiap ASN memiliki kewajiban menjaga integritas, profesionalitas, dan etika dalam menjalankan tugas, termasuk dalam penggunaan fasilitas negara. “ASN wajib menjaga integritas, profesionalitas, serta menggunakan fasilitas negara secara bertanggung jawab. ASN dilarang menyalahgunakan wewenang dan fasilitas jabatan untuk kepentingan pribadi,” kata Fadly Amran.
Ia menegaskan bahwa kendaraan dinas hanya boleh digunakan untuk kepentingan kedinasan dan tidak diperkenankan dibawa pulang kampung atau urusan lainnya saat momen mudik Lebaran. “Mobil dinas itu untuk dinas. Mobil dinas bukan untuk keperluan pribadi, itu sudah pasti. Saya yakin para ASN juga sudah mengetahui syarat-syarat yang berlaku, khususnya untuk penggunaan mobil dinas ini,” ujarnya.
Fadly menambahkan, penggunaan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi merupakan pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan pemerintah. “Tidak mungkin mobil dinas dibawa untuk pulang kampung dan lain-lain. Itu sudah jelas tidak diperbolehkan,” tegasnya.
3. Empat Bulan Kekeringan, Warga Kuranji Padang Bergantung pada Bantuan dan Air Hujan
Deretan baskom, ember, hingga jeriken plastik aneka warna berjejer rapi di sepanjang tepian jalan RT 01/RW 01, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Baskom tersebut menjadi saksi bisu penantian panjang warga yang yang terdampak krisis air bersih akibat kekeringan berkepanjangan.
Sudah empat bulan lamanya pascabanjir akhir tahun 2025 lalu, tanah di wilayah ini merekah. Sumur-sumur warga yang biasanya menjadi tumpuan hidup kini hanya menyisakan dasar yang kering dan berdebu. Kini, harapan satu-satunya hanyalah bantuan air bersih yang datangnya sering kali tak menentu.
Mariani salah satu warga setempat, tampak berdiri lesu di samping barisan wadah miliknya. Baginya, menunggu bantuan air telah menjadi rutinitas baru yang melelahkan sekaligus mencemaskan. "Tanah sudah benar-benar kering. Kalaupun ada air dari bantuan, datangnya tidak tentu jam berapa," ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (12/3/2026).
Ketidakpastian jadwal pendistribusian air bersih ini membuat warga harus berjaga sepanjang waktu. Terkadang air datang di pagi hari, namun tak jarang pula baru tiba saat hari sudah gelap. Kondisi ini memaksa warga untuk menunggu di rumah agar tidak ketinggalan.
Mariani menceritakan, dalam kondisi normal, lima ember atau baskom air mungkin cukup untuk kebutuhan dasar. Namun, kenyataannya kebutuhan air sangat bergantung pada jumlah anggota keluarga di dalam rumah. “Kadang lima ember itu tidak cukup untuk sehari. Harus benar-benar pandai mengatur,” tambahnya.
Krisis ini memaksa warga untuk mempraktikkan gaya hidup hemat air yang ekstrem. Istilah irit mandi bukan lagi sekadar gurauan, melainkan keharusan demi menyambung hidup. Air diprioritaskan untuk memasak dan minum, sementara urusan sanitasi berada di urutan sekian. Kecemasan warga semakin memuncak ketika bantuan air bersih tak kunjung datang selama dua hari berturut-turut. Dalam masa jeda tersebut, warga terpaksa memutar otak untuk mendapatkan air bersih, termasuk menanti berkah dari langit melalui air hujan.
0 Komentar