Badawi Rahman: Sang Perakit Senjata JI yang Terbuka untuk Perdamaian

Perjalanan dari Ekstremisme ke Kedamaian

Badawi Rahman, seorang mantan perakit senjata jaringan terorisme Jamaah Islamiyah (JI), kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Ia kini sibuk menjual bubur kacang hijau di Kota Semarang, Jawa Tengah. Dalam wawancara dengan JPNN Jateng, ia menceritakan bagaimana perjalanannya dari ekstremisme menuju kedamaian dan toleransi.

Saat ditemui, Badawi yang berusia 56 tahun itu tampak tenang saat duduk bersama pengurus Yayasan Kristen Jelai Kasih Indonesia dalam acara buka puasa bersama di salah satu restoran di Semarang. Ia jauh dari sosok yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari jaringan terorisme yang merakit senjata.

Perkenalan pertamanya dengan ekstremisme tidak berasal dari buku radikal atau internet, melainkan dari masjid dekat rumahnya di Semarang. "Dari kecil, saya suka mengaji. Di masjid itu ada orang-orang yang mengajarkan ekstremisme dan saya mengalir begitu saja," ujarnya.

Pada awal 2000-an, ketika kerusuhan Poso memuncak, Badawi merasa perlu menyediakan senjata. Di Jawa, jauh dari pusat konflik, ia dan jaringannya mendirikan bengkel perakit senjata. "Saya belajar merakit senjata secara autodidak," katanya.

Bengkel senjata mereka berada di Prambanan dan Klaten. Bahan baku besi berkualitas tinggi didatangkan dari Surabaya. Dengan keahlian membongkar-pasang senjata hingga komponen terkecil, Badawi memimpin proses duplikasi berbagai jenis senjata, mulai dari laras panjang hingga pendek.

"Kami membuat senjata secara kelompok dengan bagian merakit masing-masing komponen. Setelah jadi, langsung dikirim ke bunker-bunker di Jogja," ungkapnya.

Titik Mula Kesadaran

Selama bertahun-tahun, Badawi selalu lolos dari kejaran polisi. Namun, pada 2014, di bengkelnya sendiri di Prambanan, ia memilih untuk tidak lari. "Waktu terakhir itu sebenarnya saya bisa lolos, tetapi saya berpikir ada yang salah dalam perjuangan saya. Sudah saatnya saya pasang badan," kenangnya.

Di penjara, dia bertemu dua hal yang mengubah hidupnya: teman-teman seperjuangan yang membuatnya berpikir ulang dan sejarah yang selama ini tidak pernah dia baca dengan utuh. "Mereka salah menerapkan ajaran. Saya belajar berbagai aliran dan sejarah Indonesia serta Rasulullah," katanya.

Dari sanalah dia menemukan kesimpulan bahwa Pancasila dan Islam tidak saling bertentangan. "Lima sila yang mendasari negara dibangun dari Alquran. Yang membuat Pancasila adalah ulama-ulama terdahulu," ujarnya.

Hari ini, Badawi menjual bubur kacang hijau di Pusponjolo, Semarang. Perubahan tidak hanya terjadi pada pekerjaannya, tetapi juga cara pandangnya terhadap aparat dan institusi negara.

Pembinaan yang Berkelanjutan

Perubahan Badawi tidak terjadi dalam ruang hampa. Di baliknya ada Yayasan Persadani dan Bripka Purnomo Budi Setiawan, yang mendampingi eks napiter di Semarang setelah bebas.

Ketua Yayasan Persadani Sri Pujimulyo Siswanto menjelaskan bahwa organisasi ini menaungi 67 mantan napiter di Jawa Tengah, 20 di antaranya berdomisili di Kota Semarang. "Sebagian besar berasal dari JI, sisanya dari JAD," ujarnya.

Persadani baru resmi berdiri pada Maret 2020. Sri Pujimulyo mengakui bahwa sebelumnya masih ada ganjalan untuk menerima pihak luar. "Setelah 2020, hal-hal seperti itu sudah mulai hilang," tuturnya.

Bripka Purnomo menegaskan bahwa program ke depan akan terus diarahkan pada pemberdayaan ekonomi. "Kami memberikan pelatihan produktif untuk kesejahteraan para mantan napiter dan keluarganya," katanya.

Badawi adalah salah satu dari mereka yang aktif dalam lingkaran Persadani. Ia hadir di pertemuan dan ikut dalam program, bahkan dalam acara buka puasa bersama yayasan Kristen.

Satu dari Ribuan

Kisah Badawi adalah salah satu contoh keberhasilan deradikalisasi di Indonesia. Data menunjukkan bahwa hingga Oktober 2023, tercatat 374 narapidana terorisme masih mendekam di lembaga pemasyarakatan. Namun, Indonesia tidak mencatat satu pun serangan terorisme sejak 2023 hingga 2025.

Global Terrorism Index (GTI) 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-30 dalam kategori medium impact of terrorism. Ini mencerminkan perbaikan signifikan dalam penanganan ancaman teror.

Pada 21 Desember 2024, sekitar 7.000 eks anggota JI mendeklarasikan pembubaran organisasi mereka dan ikrar setia kepada NKRI. BNPT bahkan sedang mengkaji kemungkinan pembebasan bersyarat bagi dua mantan pemimpin JI.

Meski begitu, ancaman belum sepenuhnya padam. Radikalisasi kini bermigrasi ke ruang digital yang lebih sulit dilacak, tetapi tidak kalah berbahaya.

0 Komentar