Artikel ini menjelaskan kondisi keamanan negara Indonesia setelah kemerdekaan. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini
Intisari-Online.com - Pada 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Rakyat bersorak, pemuda bersiap, hanya saja Belanda yang merasa tidak nyaman, dan hasilnya adalah pertempuran-pertempuran yang terjadi. Artikel ini akan membahas tentang bagaimana kondisi keamanan negara Indonesia pasca-kemerdekaan. Semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Bisa dibilang, kondisi Indonesia pasca-Agustus 1945 sangat tidak aman. Alih-alih menyiapkan pemerintahan dengan sebaik mungkin, masyarakat Indonesia justru harus mati-matian mempertahankan kemerdekaan dari tangan Belanda yang ingin berkuasa lagi. Belum lagi, Indonesia harus dihadapkan pada sejumlah pemberontakan. Hasilnya adalah pertempuran-pertempuran yang ikonik. Menurut laporan Kompas.com, situasi Indonesia saat itu benar-benar tidak stabil. Bangsa Indonesia masih terus berjuang dalam menghadapi agresi penjajah Belanda untuk yang kedua kalinya ingin menguasai Indonesia. Inilah sejumlah pertempuran ikonik di Indonesia yang terjadi setelah Indonesia merdeka, seperti yang dilaporkan oleh Gramedia.com.
Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area adalah pertempuran pertama yang terjadi setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ini adalah pertempuran antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu yang mendarat di Medan, Sumatera Utara. Pada 9 Oktober 1945, di bawah pimpinan T.E.D Kelly, tentara Sekutu mendarat untuk pertama kalinya di Medan. Diikuti pasukan sekutu dan NICA yang telah dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan Indonesia. Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memancing terjadinya berbagai insiden yang salah satunya terjadi di Hotel yang terletak di Jalan Bali, Kota Medan, Sumatera Utara, 13 Oktober 1945. Sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Indonesia agar menyerahkan seluruh senjata kepada Sekutu. Ultimatum ini tak pernah dihiraukan hingga 1 Desember 1945, Sekutu memasang banyak papan yang tertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area” (batas resmi wilayah Medan) di berbagai pinggiran kota Medan. Tindakan Sekutu itu dianggap sebagai tantangan bagi para pemuda. Pada 10 Desember 1945, Sekutu bersama dengan NICA melancarkan serangan besar-besaran di Kota Medan. Serangan ini menyebabkan banyak kerusakan serta banyak korban dari kedua belah pihak.
Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
Pertempuran selanjutnya, yang juga tak kalah ikonik, adalah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur. Sama dengan di Medan, ini adalah pertempuran antara para pemuda Indonesia, dalam hal ini arek-arek Suroboyo dan sekitarnya, melawan tentara Sekutu di mana NICA membonceng di belakangnya. Setelah serangkaian kericuhan sejak awal Oktober, termasuk tewasnya Brigjen Mallaby, hingga munculnya ultimatum dari pihak Sekutu, pada 10 November 1945, Sekutu benar-benar menyerang Kota Surabaya dari berbagai arah. Sekitar 16.000 pejuang Surabaya gugur dengan perbandingan sekitar 2.000 tentara sekutu yang mati. Untuk mengenang semangat juang para pemuda Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tanggal 10 November akhirnya diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Pertempuran Ambarawa
Palagan Ambarawa atau Pertempuran Ambarawa terjadi di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 20 November 1945 hingga 15 Desember 1945. Yang terlibat dalam pertempuran ini adalah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Indonesia melawan pasukan tentara Inggris. Pasukan Inggris mendarat di Jawa Tengah dengan tujuan untuk menyelamatkan para tawanan serta interniran yang ditahan oleh pasukan Jepang. Timbul perselisihan yang disebabkan karena sikap orang Belanda yang tidak mengenakkan ketika sedang menangani para tawanan tersebut. Akhirnya terjadi bentrokan antara pasukan sekutu dengan TKR. Para pejuang Indonesia melakukan blokade pada sejumlah jalan serta menembaki pasukan Inggris, dan dibalas dengan menggunakan senapan mesin beserta mortir. Panglima Besar Sudirman langsung mengambil alih komando pasukan dalam pertempuran Ambarawa. Pertempuran Ambarawa berlangsung dengan sengit. Pasukan sekutu dengan sangat serius ingin menghabis pasukan Republik Indonesia. Mereka mendatangkan beberapa pesawat terbang pemburu serta kapal penjelajah Inggris HMS Sussex, juga turut menembakkan meriam artilerinya ke daerah gunung Ungaran. Betapa seriusnya perang Ambarawa, hingga 75 orang yang pada masa itu berstatus sebagai bekas tawanan perang pun harus turut bertempur melawan TKR. Walau begitu, memasuki pertengahan Desember, posisi pasukan Inggris semakin terjepit dalam pertempuran tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki tugas untuk melindungi para tawanan yang telah dibebaskan. Pasukan Inggris pun akhirnya memutuskan untuk menyerah dan mundur dari Ambarawa.
Bandung Lautan Api
Pertempuran selanjutnya adalah Bandung Lautan Api. Ini adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, Jawa Barat, pada 23 Maret 1946. Dalam waktu kurang lebih tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar tempat tinggal mereka dan meninggalkan kota untuk menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Pembakaran kota ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan NICA menjadikan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam upaya perang untuk merusak kemerdekaan Indonesia. Pemimpin pasukan Inggris adalah Brigade MacDonald. Dia tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Awalnya hubungan mereka dengan pemerintah Republik Indonesia sudah tidak baik, tapi mereka kemudian menuntut supaya semua senjata api yang ada di tangan masyarakat, kecuali bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), diserahkan kepada sekutu. Tak hanya itu, para tahanan Belanda yang dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan berbagai tindakan yang mengganggu keamanan sekitar. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara tentara Inggris dengan TKR tak bisa terhindarkan. Pada 21 November 1945 malam, TKR dibantu dengan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap tempat yang dijadikan markas oleh tentara Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Preanger dan Hotel Homann. Tiga hari kemudian, pemimpin pasukan Inggris, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat untuk mengosongkan Bandung Utara dari para penduduk Indonesia termasuk juga para pasukan bersenjata. Ultimatum itu mendorong TRI melakukan operasi “bumi hangus”. Para pejuang pihak Republik Indonesia merasa tak rela apabila Bandung digunakan oleh pihak Sekutu dan NICA untuk dijadikan sebagai markas. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diputuskan melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946. AH Nasution, yang ketika itu masih kolonel, adalah Komandan Divisi III TRI. Dia mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk segera melakukan evakuasi ke luar Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang untuk meninggalkan kota Bandung dan pada malam itu juga pembakaran kota berlangsung. Kota Bandung dengan sengaja dibakar oleh TRI dan masyarakat setempat dengan maksud supaya Sekutu tidak bisa menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Tentara Inggris murka dan mulai menyerang sehingga terjadi sebuah pertempuran sengit. Pertempuran terbesar terjadi di Desa Dayeuhkolot, yakni daerah sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar yang dimiliki oleh Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) yakni Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan terjun ke dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang dengan menggunakan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi yang berada di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya berencana tetap tinggal di kota, tetapi demi keselamatan, pada pukul 21.00 WIB, mereka turut ikut dalam rombongan yang melakukan evakuasi dari kota Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih sekitar pukul 00.00 WIB, Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan juga TRI. Meski demikian, api masih membubung tinggi membakar kota, sehingga Bandung pun seakan menjadi lautan api. Pembakaran total kota Bandung tersebut dianggap sebagai strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena pada masa itu, kekuatan TRI bersama dengan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan dari pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Pasca peristiwa tersebut, TRI bersama dengan milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya di luar Bandung.
Puputan Margarana
Pertempuran selanjutnya adalah Puputan Margarana, terjadi di Bali pada 20 November 1946. Kolonel I Gusti Ngurah Rai adalah pemimpin tentara Indonesia dalam pertempuran ini. Setelah merdeka, I Gusti Ngurah Rai menerima tugas membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di daerahnya untuk menghadang agresi dari pihak Belanda yang ingin kembali untuk menguasai Bali. Dia kemudian membentuk pasukan yang dinamakan sebagai pasukan Ciung Wanara. Hasil Perjanjian Linggarjati 10 November 1946, Belanda hanya mengakui Sumatera, Jawa, dan Madura sebagai wilayah dari Republik Indonesia. Untuk Bali sendiri, Belanda ingin memasukkannya dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT). I Gusti Ngurah Rai dibujuk untuk bergabung. Tapi karena sikap cinta tanah airnya, dia tidak mau. Alih-alih, dia justru memerintahkan pasukan Ciung Wanara untuk merampas seluruh persenjataan yang dimiliki oleh polisi NICA yang sedang menduduki Kota Tabanan. Sikap dari Ngurah Rai membuat pihak Belanda geram dan ingin membalas dendam. Saat sedang longmarch ke Gunung Agung, pasukan Ciung Wanara diserang oleh pasukan Belanda. Dalam kondisi terdesak, Ngurah Rai mengeluarkan perintah Puputan atau pertempuran habis-habisan yang mengeluarkan seluruh tenaga. Dalam pandangan para pejuang Bali, lebih baik berjuang sebagai ksatria daripada menyerah dan jatuh ke tangan musuh. Sengitnya perlawanan tersebut, membuat militer Belanda mengerahkan pesawat tempur yang diterbangkan dari Makassar. Pasukan Ciung Wanara dijatuhi bom dan juga rentetan tembakan. Pasukan Ngurah Rai tak mundur, I Gusti Ngurah Rai pun gugur bersama 95 pasukannya. Sedangkan sekitar 400 orang dari pihak Belanda tewas. Begitulah artikel tentang bagaimana kondisi keamanan negara Indonesia pasca-kemerdekaan. Semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.
0 Komentar