:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-Pemilu-2024.jpg)
Perubahan Nama Anak di Indonesia: Dari Tradisional ke Modern
Nama bukan sekadar identitas, tetapi juga mencerminkan era dan perubahan budaya. Data terbaru dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) menunjukkan bagaimana tren penamaan di Indonesia terus berubah. Dulu, nama-nama seperti Junaidi dan Nurhayati sering digunakan, namun kini muncul nama-nama modern yang lebih populer di kalangan Generasi Alpha.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran selera, pengaruh budaya, serta harapan orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka. Penamaan menjadi salah satu aspek unik yang dipaparkan oleh Dukcapil mengenai profil masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa tren dan fakta menarik yang ditemukan:
Tren Nama Anak Generasi Alpha
Pada Generasi Alpha, nama seperti Inara hingga Muhammad Al Fatih mulai banyak digunakan. Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menjelaskan bahwa nama-nama yang dulu populer kini semakin jarang digunakan oleh generasi yang lebih muda.
“Mulai dari Generasi Milenial, Gen Z, dan Gen Alpha, sudah hampir tidak ada nama-nama seperti Nurhayati, Slamet, atau Joko,” ujar Teguh dalam acara Rilis Data Kependudukan Bersih Semester 2 Tahun 2025 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).
Ia menjelaskan bahwa pada generasi yang lebih tua masih banyak ditemukan nama-nama yang kini dianggap klasik. Contohnya, pada Generasi Baby Boomer, nama-nama seperti Aminah, Nurhayati, dan Sumiati masih umum. Sementara itu, pada Generasi X, nama seperti Sutrisno dan Mulyati masih dominan.
Di Generasi Z, nama seperti Sri Wahyuni masih ada, tetapi mulai muncul nama-nama baru seperti Siti Aisyah dan Fitriani. Adapun pada Generasi Alpha, tren nama semakin beragam dan cenderung modern, seperti Al Fatih, Rafasya, Yusuf, Siti Aisyah, Aisyah Ayudia Inara, dan Alika Naila Putri.
Junaidi dan Nurhayati: Nama Paling Banyak Digunakan
Junaidi dan Nurhayati menjadi nama yang paling banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Teguh Setyabudi menjelaskan bahwa temuan ini berdasarkan data kependudukan nasional lintas wilayah dan generasi.
“Nama-nama paling banyak untuk semua gender dan semua umur, ternyata Junaidi dan Nurhayati itu adalah nama yang paling banyak digunakan di Indonesia,” kata Teguh.
Ia menambahkan bahwa nama tersebut paling banyak ditemukan di sejumlah wilayah. Di Sumatera, misalnya, nama Junaidi dan Nurhayati mendominasi. Sementara di Sulawesi, nama Sudirman cukup banyak digunakan untuk laki-laki.
“Di Sulawesi, Sudirman ternyata luar biasa. Sudirman lahir di Pulau Jawa tapi Sudirman paling banyak juga di Sulawesi, perempuannya Nurhayati,” jelas Teguh.
Nama Satu Huruf dan Nama Terpanjang
Dalam kesempatan itu, Teguh juga menyebut adanya nama yang sangat panjang dalam data kependudukan, bahkan mencapai puluhan karakter.
“Ada nama yang terpanjang, sampai 79 karakter,” kata dia.
Selain itu, ada pula nama yang sangat pendek, bahkan hanya satu huruf. “Nama terpendek itu ada yang cuma satu huruf: M, D, C, N, J, Q,” tutur Teguh.
Ia menjelaskan bahwa nama-nama yang sangat panjang atau terlalu pendek tersebut umumnya tercatat sebelum adanya aturan baru terkait pencatatan nama dalam dokumen kependudukan.
“Mulai tahun 2022, ada pengaturan terkait pencatatan nama dalam dokumen kependudukan untuk melindungi si anak,” jelasnya.
Penduduk Bogor Paling Dinamis
Teguh menyebut Kabupaten Bogor sebagai daerah dengan dinamika perpindahan penduduk paling tinggi di Indonesia.
“Kabupaten/kota dengan perpindahan penduduk paling dinamis, tidak heran Bogor adalah penduduk yang terbesar dan mobilitas penduduk pindah-datang sangat tinggi,” kata Teguh.
Ia menjelaskan bahwa tingginya mobilitas penduduk di Kabupaten Bogor berkaitan juga dengan jumlah penduduknya yang besar. Ia menyebut wilayah tersebut masih menjadi kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia.
“Sedang kabupaten yang berpenduduk paling banyak, masih juara bertahan, adalah Kabupaten Bogor. Berapa jumlahnya? Luar biasa, 5.948.925 jiwa,” kata Teguh.
Menurutnya, jumlah tersebut bahkan melampaui populasi sejumlah provinsi di Indonesia. Selain Kabupaten Bogor, Teguh mengatakan sejumlah daerah lain juga memiliki dinamika perpindahan penduduk yang cukup tinggi, di antaranya Bekasi, Bandung, Tangerang, dan Batam.
Warga Indonesia yang Paling Tua
Data penduduk tertua yang ada di Indonesia berusia 118 tahun. Ia adalah seorang nenek bernama Maryam yang tinggal di Bangkalan, Madura.
"Berdasarkan catatan kependudukan dan catatan sipil, penduduk kita ada yang sangat tua. Ibu Maryam, usianya 118 tahun ada di Bangkalan," ungkap Teguh.
Selain Maryam, Teguh juga menyebutkan tiga warga lain yang usianya tak terpaut jauh dengan Maryam. "Ada Ibu Sahami usia 117 tahun di Pamekasan. Ini Madura ternyata. Ada juga Nenek Aniah di Cianjur usianya 116 tahun, dan Parini (116 tahun di Batanghari)," tutur Teguh.
Saat memaparkan hal ini, Teguh turut melampirkan foto dari keempat warga tersebut sebagai wujud keakuratan data. Dokumentasi itu ia peroleh dari stakeholder Dukcapil yang berada di wilayah-wilayah terkait.
[NAMA-2]
0 Komentar