
Pengalaman WNI yang Dievakuasi dari Iran
Sebanyak 22 warga negara Indonesia (WNI) berhasil dievakuasi dari Iran, mengikuti perkembangan situasi konflik yang semakin memburuk setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut. Salah satu dari mereka adalah Ahmad Hukam Mujtaba, seorang mahasiswa asal Banyumas yang turut dalam gelombang pertama evakuasi.
Hukam masih ingat dengan jelas momen ketika kabar serangan pertama muncul. Saat itu, ia sedang berkumpul bersama rekan-rekan pelajar lain di Iran. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat sore, bertepatan dengan 2 Ramadan atau sekitar 20 Februari 2026. Pada hari itu, aktivitas kampus masih berjalan seperti biasa. Bahkan ada kegiatan yang digelar di lingkungan kampus. Namun keesokan harinya, pada Sabtu bertepatan dengan 2 Ramadan, serangan mulai terjadi.
Kondisi Awal dan Imbauan dari KBRI
Saat itu, belum ada instruksi khusus yang diterima oleh para mahasiswa Indonesia. Mereka hanya mendapat imbauan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini juga terkait dengan situasi yang sebelumnya sempat memanas pada Januari, ketika terjadi aksi damai di Iran.
Situasi semakin berubah ketika pada 1 Maret 2026, muncul pengumuman mengenai imbauan evakuasi atau mengungsi secara mandiri. Pada saat yang sama, jaringan internet di Iran mulai dimatikan. Kondisi ini membuat komunikasi menjadi sangat terbatas. “Komunikasi memang terbatas. Waktu perang tidak bisa berkomunikasi bebas. Sebelum internet mati kami sudah menyampaikan kepada orang tua bahwa komunikasi akan terganggu,” kata Hukam.
Komunikasi Terbatas dan Persiapan Keluarga
Komunikasi yang tersisa saat itu hanya melalui telepon seluler biasa. Namun jaringan tersebut pun tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi ke luar negeri. Meski begitu, orang tuanya di Indonesia telah memahami situasi tersebut. “Tahun sebelumnya Iran juga sempat mengalami konflik sehingga keluarga sudah cukup memahami kemungkinan gangguan komunikasi, jika situasi memanas kembali,” ujarnya.
Situasi di Sekitar Kampus
Meskipun berada di tengah situasi konflik, Hukam mengaku tidak berada di lokasi yang menjadi sasaran langsung serangan. Ia menjelaskan bahwa kondisi di kampus masih relatif aman. Namun, ia tetap merasakan ketegangan karena beberapa serangan mulai mengarah ke wilayah kota. Target serangan, menurutnya, lebih banyak menyasar fasilitas pemerintahan seperti kantor pemerintahan daerah, dinas, hingga kementerian.
Hukam juga sempat menyaksikan langsung keberadaan drone di langit Teheran. “Di sana saya melihat drone-drone beroperasi. Pemandangan seperti itu memang terlihat,” ujarnya.
Jumlah Mahasiswa Indonesia di Iran
Di Kota Teheran terdapat 10 mahasiswa Indonesia. Sementara secara keseluruhan, jumlah mahasiswa Indonesia di Iran diperkirakan mencapai sekitar 150 orang. Namun tidak semua memilih untuk kembali ke Indonesia. Sebagian masih bertahan untuk melanjutkan studi di sana.
Sementara itu, sekitar 22 orang memutuskan pulang ke Indonesia. “Mereka berasal dari berbagai kampus dan juga termasuk diaspora Indonesia,” ujarnya.
Pilihan dari KBRI
Menurut Hukam, pihak KBRI memberikan pilihan kepada warga negara Indonesia di Iran. Bagi yang ingin pulang dipersilakan mengikuti proses kepulangan, sementara yang memilih tetap tinggal juga tetap mendapat pengawasan serta pemantauan dari pihak kedutaan.
Kondisi Kebutuhan Harian
Di tengah situasi konflik, Hukam mengatakan kondisi kebutuhan sehari-hari masyarakat masih relatif aman. Ketersediaan bahan makanan dan sembako tidak mengalami masalah berarti. “Hal yang paling terasa justru adalah keterbatasan akses internet yang membuat komunikasi dan informasi menjadi sangat terbatas,” imbuhnya.
0 Komentar