
Kinerja Ekspor Indonesia ke Timur Tengah Tidak Terpengaruh Konflik Amerika-Israel dan Iran
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak memengaruhi kinerja ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah. Ia menjelaskan bahwa meskipun ada dampak terhadap sejumlah negara di kawasan tersebut, permintaan dari pasar Timur Tengah tetap stabil.
“Ada beberapa pengaruh terutama untuk yang ke Timur Tengah. Tetapi sebenarnya permintaan dari Timur Tengah itu tidak turun,” ujar Budi Santoso dalam sebuah pertemuan dengan anggota Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) di Graha Mandiri, Jakarta, pada Jumat, 13 Maret 2026.
Budi Santoso menekankan bahwa pernyataannya ini bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada para pelaku usaha mengenai situasi terkini. Meskipun permintaan tidak mengalami penurunan, ia mengungkapkan bahwa para eksportir mengeluhkan naiknya biaya logistik akibat eskalasi geopolitik.
“Itu problemnya, tapi (pengusaha) tetap ekspor,” tambahnya.
Dampak Konflik pada Perdagangan Indonesia
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa dampak konflik di Iran terhadap perdagangan Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah masih perlu dikaji lebih lanjut. Namun, sebagai gambaran umum, terdapat tiga mitra dagang utama Indonesia yang berada di jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Ateng menyebutkan bahwa nilai impor nonmigas dari Iran ke Indonesia selama tahun 2025 mencapai US$ 8,4 juta. Rincian komoditas yang diperoleh dari Iran adalah:
- Buah-buahan sebesar US$ 5,9 juta
- Besi dan baja sebesar US$ 0,8 juta
- Mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya sebesar US$ 0,7 juta
Sementara itu, ekspor nonmigas dari Indonesia ke Iran pada tahun 2025 mencapai US$ 249,1 juta. Komoditas utamanya adalah:
- Buah-buahan sebesar US$ 86,4 juta
- Kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 34,1 juta
- Lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 22 juta
Perdagangan dengan Oman dan Uni Emirat Arab
Nilai impor nonmigas Indonesia dari Oman pada 2025 mencapai US$ 718,8 juta. Komoditas yang masuk meliputi:
- Besi dan baja sebesar US$ 590,5 juta
- Bahan bakar organik sebesar US$ 56,7 juta
- Garam, belerang, batu, dan semen sebesar US$ 44,2 juta
Ekspor nonmigas Indonesia ke Oman mencapai US$ 428,8 juta, dengan komoditas utama:
- Lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 227,7 juta
- Kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 64,2 juta
- Bahan bakar mineral sebesar US$ 48,1 juta
Sementara itu, nilai impor Indonesia dari Uni Emirat Arab mencapai US$ 1,4 miliar. Adapun ekspor nonmigas ke negara tersebut pada 2025 mencapai US$ 4,0 miliar, dengan komoditas utama:
- Logam mulia dan perhiasan sebesar US$ 183,6 juta
- Lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 510,3 juta
- Kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 363,5 juta
Jalur Vital Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan global. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global melalui jalur ini. Gangguan di jalur tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Ahad, 1 Maret 2026, mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz menggunakan rudal hingga terbakar. Dalam pernyataannya, IRGC juga menyebut telah menargetkan instalasi militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Anastasya Lavenia
berkontribusi dalam penulisan artikel ini
0 Komentar