Sejarah dan Makna Tradisi Gulat Okol di Gresik
Gulat Okol adalah salah satu tradisi bela diri rakyat yang berasal dari Desa Setro, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Tradisi ini digelar sebagai bagian dari upacara sedekah bumi untuk menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen. Selain itu, Gulat Okol juga memiliki nilai sejarah, spiritual, serta kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Asal Usul Tradisi yang Unik
Sejarah Gulat Okol terkait erat dengan peristiwa kemarau panjang pada abad ke-19. Pada tahun 1817, wilayah Desa Setro mengalami musim kemarau yang sangat panjang. Akibatnya, ladang para petani mengering, tanaman mati, dan hewan ternak kesulitan mendapatkan makanan. Dalam situasi tersebut, pemimpin desa dan warga mengadakan doa bersama agar hujan segera turun.
Beberapa hari setelah doa tersebut, hujan akhirnya turun. Ketika panen tiba, masyarakat menggelar syukuran atau sedekah bumi sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih atas berkah yang diberikan Tuhan. Dalam suasana penuh kegembiraan, para penggembala saling berpelukan dan mendorong di atas jerami hasil panen. Kegiatan ini dikenal dengan istilah "srokol-srokolan" atau "nyrokol" dalam bahasa Jawa. Dari kata inilah kemudian muncul istilah "okol" yang menjadi nama tradisi tersebut.
Tradisi yang Masuk dalam Upacara Sedekah Bumi
Gulat Okol biasanya digelar setelah musim panen, yaitu antara bulan Agustus hingga Oktober. Pelaksanaannya menjadi bagian dari rangkaian upacara sedekah bumi yang diselenggarakan masyarakat desa. Setelah prosesi sedekah bumi seperti arak-arakan tumpeng keliling desa selesai, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Gulat Okol.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah. Pertunjukan ini menampilkan dua orang peserta yang saling beradu kekuatan dengan teknik pegangan dan bantingan dalam sebuah arena khusus. Meski terlihat seperti kompetisi, tujuan utama dari tradisi ini bukan untuk menyakiti lawan, melainkan sebagai hiburan rakyat sekaligus simbol persaudaraan di tengah masyarakat.
Arena dan Aturan Pertandingan
Dalam pelaksanaannya, Gulat Okol digelar di arena khusus berbentuk seperti ring. Arena tersebut biasanya berukuran sekitar 6 × 8 meter dan dilapisi dengan jerami atau karung goni untuk menjaga keamanan para peserta. Arena juga dibatasi menggunakan tali tambang besar agar penonton tidak terlalu dekat dengan area pertandingan.
Setiap pertandingan melibatkan dua orang peserta dengan berat badan yang relatif seimbang. Dalam pertandingan, dua peserta akan saling berhadapan dengan menggunakan atribut khas seperti udeng (ikat kepala) dan selendang. Selendang tersebut menjadi alat utama dalam pertandingan, yang digunakan untuk menarik atau menjatuhkan lawan tanpa harus memukul secara langsung. Peserta yang berhasil menjatuhkan lawan sebanyak dua kali akan dinyatakan sebagai pemenang. Namun, jika tidak ada yang berhasil menjatuhkan lawan hingga pertandingan berakhir, maka pertandingan dinyatakan seri.
Pertandingan biasanya diawasi oleh seorang wasit yang memastikan jalannya permainan berlangsung adil dan aman.
Tradisi yang Melibatkan Seluruh Warga
Menariknya, peserta Gulat Okol tidak hanya berasal dari kalangan pemuda saja. Anak-anak hingga orang dewasa, bahkan perempuan, juga dapat mengikuti tradisi ini. Selain itu, peserta tidak hanya berasal dari Desa Setro, tetapi juga dari desa lain bahkan dari luar Kabupaten Gresik.
Kehadiran berbagai kelompok usia tersebut membuat suasana pertunjukan menjadi semakin meriah dan penuh kebersamaan. Selama pertandingan berlangsung, suasana arena biasanya semakin meriah dengan iringan musik gamelan khas Jawa Timur. Penonton yang datang tidak hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga menikmati suasana kebersamaan yang penuh semangat.
Kini Menjadi Atraksi Wisata Budaya
Seiring perkembangan zaman, Gulat Okol tidak hanya ditampilkan dalam acara sedekah bumi. Tradisi ini juga kerap dipentaskan dalam berbagai acara budaya, festival daerah, hingga pertunjukan di luar daerah. Gulat Okol bahkan pernah dipentaskan di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Selain itu, tradisi ini juga sering ditampilkan dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Gresik sebagai bagian dari promosi budaya daerah.
Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Keunikan dan nilai budaya yang terkandung dalam Gulat Okol membuat tradisi ini mendapat perhatian dari pemerintah. Pada tahun 2021, tradisi Gulat Okol resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Penetapan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Setro.
Upaya Pelestarian Tradisi
Saat ini, masyarakat Desa Setro bersama pemerintah daerah terus berupaya menjaga kelestarian Gulat Okol. Selain itu, komunitas budaya setempat juga aktif mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda melalui kegiatan sanggar seni dan paguyuban Okol yang memiliki kepengurusan khusus.
Melalui berbagai upaya tersebut, masyarakat berharap Gulat Okol tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya Desa Setro dan menjadi kebanggaan masyarakat Gresik.


0 Komentar