Profil Pdt Ryan Kolantung: Dari Polisi ke Pelayanan Jemaat GMIM Betlehem Baru Oarai Jepang

Profil Pdt Ryan Kolantung: Dari Polisi ke Pelayanan Jemaat GMIM Betlehem Baru Oarai Jepang

Profil Pdt Ryan Kolantung, Seorang Pendeta yang Kini Menggembalakan Jemaat di Jepang

Garis hidup seseorang seringkali menjadi rahasia ilahi yang tak terduga. Hal inilah yang dirasakan oleh Pdt Ryan Kolantung, S.Th, seorang pelayan Tuhan yang kini menggembalakan jemaat di ujung timur Asia, tepatnya di GMIM Betlehem Baru Oarai, Jepang.

Pria kelahiran Manado, 6 Oktober 1994 ini memiliki perjalanan hidup yang tidak berjalan sesuai rencana masa kecilnya. Awalnya, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang pendeta. Cita-citanya waktu kecil justru sangat berbeda; ia ingin menjadi seorang polisi. Keinginan tersebut ia pegang teguh hingga kelas 3 SMA. Namun, Tuhan tampaknya memiliki rancangan lain.

Pintu demi pintu tertutup bagi Ryan; ia sempat gagal dalam tes masuk PLN hingga seleksi TNI Angkatan Laut. Bahkan, berkas pendaftaran kepolisian yang sudah ia kumpulkan pun entah mengapa tidak ia lanjutkan prosesnya. Kejadian unik hampir membawanya ke Fakultas Bahasa dan Seni UNIMA. Dirinya sempat mengatakan kepada orang tua, “Sudah, masuk saja di Fakultas Bahasa dan Seni UNIMA.” Namun, karena alasan sederhana enggan mengantri di bank untuk membayar pendaftaran, rencana itu batal.

Siapa sangka, keengganan mengantri tersebut menjadi titik balik yang mengarahkannya pada panggilan pelayanan. Momentum spiritual itu datang saat Ryan menemani Ayahnya yang sedang dirawat di RS Bethesda Tomohon. Di tengah kunjungan doa dari para pelayan khusus, seorang hamba Tuhan berujar lirih, "Rayen, jadi pendeta jo iko pa mama." (Rayen, jadilah pendeta mengikuti jejak ibumu). Kalimat sederhana itu entah mengapa sangat melekat dalam hatinya. Tanpa berpikir panjang, hari itu juga ia bersama Ibunya, yang saat itu melayani di Jemaat GMIM Nazaret Matani, langsung menuju Fakultas Teologi UKIT untuk mengambil formulir.

Dari situlah perjalanan baru dimulai. Ryan mengikuti semua proses seleksi, dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Teologi UKIT. Masa-masa awal di bangku kuliah tidaklah mudah. Ryan mengaku sempat merasa terpaksa. Namun, kehidupan di Asrama Providentia di bawah bimbingan Pdt. Dr. Roy D. Tamaweol dan Pdt. Dr. Peggy S. Tewu, perlahan mengubah hatinya. Interaksi dengan dosen dan teman-teman pendeta menumbuhkan benih panggilan yang sesungguhnya hingga ia berhasil menyelesaikan studi delapan semester dan lulus dari Fakultas Teologi.

Sembari menunggu masa Vikaris, Ryan aktif dalam pelayanan paduan suara, mulai dari melatih tingkat ASM, Remaja, Pemuda, WKI hingga tingkat jemaat. Kemudian Ryan mendaftar Calon Vikaris GMIM, mengikuti berbagai tahapan tes, dan dinyatakan lulus. Masa Vikarisnya berlangsung sekitar dua tahun.

Jawab Panggilan ke Negeri Matahari Terbit

Jalan menuju Jepang terbuka saat ia menjalani masa vikaris di Jemaat GMIM Bethel Bulo. Sebuah tawaran datang dari Jemaat GMIM Betlehem Baru Oarai. Suatu hari Ryan dihubungi oleh salah satu Pelayan Khusus dari Jemaat GMIM Betlehem Baru Oarai. "Beliau bertanya kepada saya beberapa hal, berapa lama lagi masa vikaris saya, dan apakah saya bersedia melayani di Jepang, dengan beberapa kriteria yang mereka sampaikan," sebutnya. Tanpa ragu, Ryan menjawab "Ya," meskipun saat itu masa vikarisnya masih tersisa dua tahun.

"Di pikiran saya hanya satu: ini kesempatan untuk melayani di luar negeri dan belajar melayani jemaat yang tentu sangat berbeda dengan jemaat di Minahasa," tuturnya. Menurutnya, setelah itu komunikasi dengan Jemaat Betlehem Baru Oarai terus berjalan. Mereka kemudian mengirimkan surat permohonan resmi kepada Sinode GMIM, meminta seorang pendeta jemaat dengan kriteria tertentu dan nama Ryan langsung dicantumkan dalam surat tersebut.

Namun prosesnya tidak sederhana. Saat itu, anak bungsu dari 4 bersaudara ini, belum diteguhkan menjadi pendeta. Menurut Ryan, prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak serta merta langsung diiyakan untuk melayani di Jepang, ada pertimbangan-pertimbangan dari BPMS GMIM. Selama proses itu berjalan, Ryan tetap menjalani masa vikaris berpindah dari GMIM Bethel Bulo Wilayah Wori 2 ke GMIM Betel Pintu Kota Besar Wilayah Bitung 6, dan akhirnya masuk asrama di PPWG Kaaten.

Beberapa kali saya juga dipanggil ke Kantor Sinode GMIM untuk bertemu dengan BPMS GMIM. Akhirnya, puji Tuhan, saya diteguhkan menjadi Pendeta GMIM. Setelah itu, Ryan masih harus menunggu beberapa bulan sampai surat keputusan penempatan keluar. Ia pun sangat kaget ketika membaca isi SK tersebut. Di situ tertulis bahwa dirinya ditempatkan sebagai Pendeta Jemaat di GMIM Betlehem Baru Oarai, Jepang.

Setelah itu proses dilanjutkan dengan pengurusan berbagai dokumen untuk tinggal dan melayani di Jepang, yang memakan waktu sekitar tujuh bulan. Akhirnya pada bulan November, Ryan resmi diterima sebagai Pendeta Jemaat GMIM Betlehem Baru Oarai. Ryan menyebutkan sampai saat ini dirinya sudah 2 tahun melayani di jemaat GMIM Betlehem Baru Oarai, Jepang.

Kehidupan Baru dan Harapan di Tanah Rantau

Kini, Pdt. Ryan tidak hanya disibukkan dengan urusan mimbar. Kehidupan pribadinya pun berkembang di Jepang. Ia menikah pada 18 Januari 2025, dan istrinya menyusul dan mendapat visa tinggal di Jepang pada Januari 2026. Saat ini, kebahagiaan mereka semakin lengkap karena sang istri tengah mengandung lima bulan.

"Kami menantikan kelahiran anak pertama kami pada bulan Juli nanti di Jepang. Kami memohon dukungan doa agar Tuhan terus memimpin pelayanan dan keluarga kami," harapnya. Bagi Pdt Ryan, di saat melayani di Jepang dirinya merasa dibentuk dengan luar biasa, karena bisa belajar menghadapi berbagai situasi, belajar merespon berbagai persoalan jemaat dan bertumbuh sebagai seorang pelayan Tuhan.

Dirinya pun sangat terharu melihat perjuangan jemaat di tanah rantau. Tidak mudah hidup sebagai perantau. Ada banyak pergumulan pekerjaan, keluarga yang jauh, tekanan hidup. Ia belajar dari keteguhan jemaat perantau yang tetap setia beribadah di tengah tekanan pekerjaan dan kerinduan pada keluarga di tanah air. "Itu adalah sesuatu yang sangat menguatkan hati saya sebagai pendeta," sebutnya.

Ryan juga bersyukur karena Tuhan memberikan teman-teman pelayan khusus yang luar biasa. Sampai hari ini Ryan mengaku terus bekerja bersama, saling mendukung, dan saling mendoakan untuk pribadi, keluarga, dan juga jemaat. Ada satu kalimat yang sering kami dengar di kalangan pendeta: “Kalau Tuhan so utus Tuhan pasti Tuhan urus”, semakin percaya bahwa kalimat itu bukan sekedar kalimat biasa.

Mengutip Yesaya 6:8, ketika Tuhan memanggil Yesaya, Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Dan Yesaya menjawab: “Ini aku, utuslah aku!” Ketika Tuhan mengutus seseorang, Tuhan tidak pernah membiarkan utusan-Nya berjalan sendiri. Matius 28:20: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Artinya, Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga menyertai, memelihara, dan mencukupkan segala sesuatu.

Itulah yang terus Ryan pegang sampai hari ini, bersama istri tinggal dan melayani di Jepang. Ryan pun percaya Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untuk perjalanan hidup saya dan keluarga. "Karena itu kami sangat memohon dukungan doa, supaya Tuhan terus memimpin pelayanan, keluarga, dan masa depan kami. Sebab sampai hari ini saya belajar satu hal, Ketika Tuhan memanggil dan mengutus seseorang, Tuhan sendiri yang akan membuka jalan, memelihara, dan mencukupkan segala sesuatu dalam hidupnya," tutupnya.





0 Komentar