
Kekecewaan Perantau yang Tidak Bisa Mudik Akibat Harga Tiket Pesawat yang Melonjak
Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, banyak perantau di Palangka Raya mengalami kekecewaan karena tidak bisa kembali ke kampung halaman. Hal ini disebabkan oleh lonjakan harga tiket pesawat yang sangat tinggi, sehingga membuat banyak orang membatalkan rencana mudik mereka.
Harga Tiket Pesawat yang Membuat Kehadiran Lebaran Terancam
Berdasarkan pantauan terhadap aplikasi Traveloka, harga tiket pesawat rute Palangka Raya (PKY) menuju Jakarta (CGK) untuk keberangkatan menjelang Lebaran 2026 menunjukkan kenaikan yang signifikan. Pada tanggal 19 dan 21 Maret 2026, harga tiket berkisar antara Rp 4 juta hingga lebih dari Rp 6 juta untuk sekali jalan. Sedangkan tanggal-tanggal lainnya sebelum Lebaran sudah habis terjual.
Wahyudi Putera (31), seorang perantau asal Jakarta, mengaku sangat kecewa karena harus membatalkan rencana mudik tahun ini. Ia menyatakan bahwa harga tiket pesawat yang melonjak tajam membuatnya tidak mampu membayar biaya perjalanan.
“Harganya sudah tidak terjangkau,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pada hari-hari biasa, harga tiket masih berada di kisaran Rp 1 juta lebih. Namun, menjelang Lebaran, harganya melonjak berkali-kali lipat. “Sekarang berkali-kali lipat naiknya, jadi semakin tidak bisa dijangkau,” tambahnya.
Putera mengakui bahwa momentum Lebaran yang seharusnya menjadi waktu berkumpul bersama keluarga tidak dapat terwujud tahun ini. Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga silaturahmi dengan keluarga di kampung halaman melalui video call.
Anggieta Bayunanda: Kekecewaan yang Menyedihkan
Anggieta Bayunanda (35) juga merasakan kekecewaan yang sama. Ia terpaksa menunda niatnya untuk merayakan Lebaran di kampung halamannya di Malang akibat biaya tiket yang sangat mahal.
“Ya kecewa tentu. Seharusnya momentum Lebaran bisa berkumpul dengan keluarga besar di Malang, tetapi tahun ini tidak bisa akibat biaya yang sangat mahal untuk tiket,” ujarnya.
Anggieta mengaku sangat terkejut saat mengecek harga tiket pesawat tujuan Surabaya. Ia menyebutkan bahwa harga tiket yang ditemukan mencapai Rp 14 juta lebih untuk sekali terbang. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak mudik karena biaya tiket yang sangat meroket tersebut, terlebih ia juga membawa dua anak untuk ke kampung halaman.
“Bayangkan saja, pulang pergi satu orang bisa Rp 20 juta bahkan lebih,” katanya.
Alternatif Rute dan Transportasi Laut yang Tidak Efektif
Anggieta sempat mencoba mencari alternatif rute lain melalui Banjarmasin menuju Surabaya. Namun, harga yang ditawarkan juga tidak jauh berbeda. Ia menemukan bahwa harga tiket lewat Banjar ke Surabaya juga sekitar Rp 13 juta. Maskapai lain sudah penuh, dan tiket H-1, H-2, dan H-3 bahkan H+1 pun sudah ludes di aplikasi.
Ia juga mempertimbangkan jalur transportasi laut. Namun, opsi tersebut tidak mudah karena harus menuju kota lain terlebih dahulu. “Jalur kapal agak jauh, harus ke Banjar atau ke Sampit dulu, dan belum tentu juga tiket ada. Kalaupun ada biasanya kapal penuh, jadi lesehan di lantai kapal. Perjalanan laut juga memakan waktu cukup lama,” jelasnya.
Harapan kepada Pemerintah
Akhirnya, Anggieta memutuskan untuk tetap berada di Palangka Raya saat Lebaran. Ia menyampaikan harapan agar pemerintah dapat melakukan intervensi terhadap harga-harga maskapai agar lebih terjangkau bagi masyarakat.
0 Komentar