
Pengalaman Neneng Karlina dalam Menyambut Idulfitri dengan Daging Beku
Di sebuah kontrakan sempit berdinding kuning di Desa Lalang Jaya, Kabupaten Belitung Timur, suara mesin cuci yang berputar sesekali bercampur dengan desis setrika panas. Di dekat pintu kayu yang mulai kusam, sebuah spanduk sederhana bertuliskan Sifa Laundry tergantung di dinding. Di ruangan yang sekaligus menjadi tempat tinggal dan tempat usaha itu, Neneng Karlina (46) tampak sibuk menyetrika tumpukan pakaian pelanggan.
Tangannya bergerak cepat di atas papan setrika, sementara sebuah kipas angin kecil berputar pelan mengurangi hawa panas di ruangan tersebut. Di sela kesibukannya, Neneng memikirkan satu hal yang sama seperti banyak keluarga lain menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, yaitu menyiapkan hidangan lebaran.
Meski penghasilannya dari usaha laundry kecil tidak menentu, ia tetap ingin menghadirkan masakan berbahan daging sapi di meja makan. Namun, seperti tahun sebelumnya, ia memilih membeli daging sapi beku karena harganya lebih terjangkau dibandingkan daging segar di pasar.
Harga Menentukan Pilihan
Neneng masih mengingat pengalaman lebaran tahun lalu ketika memesan tiga kilogram daging beku melalui koordinasi RT setempat. Bagi Neneng, langkah tersebut menjadi solusi yang paling realistis di tengah kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan.
“Mungkin kalau orang mampu ya beli dari pasar. Kalau kita mah kebantunya ya karena harga lebih rendah, apalagi perekonomian lagi enggak terlalu lancar,” katanya.
Tahun lalu, daging beku yang ia beli dihargai Rp110 ribu per kilogram. Tahun ini harganya naik menjadi Rp120 ribu per kilogram. Meski demikian, harga tersebut masih jauh di bawah daging sapi segar yang dijual sekitar Rp170 ribu per kilogram.
“Iya, karena murah. Jadi solusi sih, alasannya ya karena murah,” ujarnya sambil tersenyum.
Tidak Beda Rasa
Pengalaman memasak daging beku pada lebaran sebelumnya membuat Neneng tidak lagi ragu dengan kualitasnya. Menurutnya, setelah dimasak menjadi rendang atau opor, rasanya tidak jauh berbeda dengan daging segar.
“Bagus sih, bagus. Enggak jauh beda lah. Cuman bedanya mungkin kalau itu mah langsung, kalau ini mah sudah dibekuin gitu. Pas dimasak pun enggak ada bedanya,” katanya.
Satu-satunya hal yang perlu diperhatikan adalah mencairkan daging sebelum dimasak. Daging yang datang dalam kondisi beku harus didiamkan terlebih dahulu hingga lunak. Meski demikian, Neneng mengakui pilihan itu lebih karena keterbatasan dana.
“Kalau andanya ada sih mungkin kebanyakan ke segar. Tapi kalau sekarang mungkin andanya enggak ada, ya Alhamdulillah terbantu daging beku lah,” ujarnya.
Tahun ini ia berencana memesan lebih banyak, yakni sekitar lima kilogram daging beku. Sebagian akan dibagikan kepada kakaknya yang tinggal tidak jauh dari kontrakan. Dari jumlah tersebut, dua kilogram disiapkan untuk kebutuhan keluarganya sendiri.
Harapan Sederhana di Idulfitri
Menjelang akhir percakapan, harapannya untuk Idulfitri terdengar sederhana.
“Harapan tahun ini? Ya moga sehat selalu ya, ibadahnya pada lancar, pada sehat. Gitu aja,” tuturnya.
Pengawasan Pemerintah Terhadap Daging Beku
Pemerintah daerah memastikan pengawasan terhadap peredaran daging beku menjelang Idulfitri. Kepala Bidang Pengendalian Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edi Kurniadi, mengatakan pihaknya akan memantau distribusi di sejumlah ritel.
“Daging beku itu ada di ritel-ritel, nanti kami akan melakukan pengawasan melekatlah ke teman-teman Hypermart serta yang menjual daging beku,” kata Edi.
Berdasarkan data Disperindag, stok daging beku di wilayah tersebut sekitar 1.004 kilogram dengan harga berkisar Rp151 ribu per kilogram. Pemerintah juga akan memeriksa kualitas produk yang beredar di pasaran.
Meski begitu, Edi menyebut masyarakat masih cenderung memilih daging sapi segar untuk kebutuhan lebaran.
“Sebenarnya, daging yang paling dibutuhkan itu daging segar. Memang kalau secara harga ada kenaikan sedikit dari Rp135 ribu sampai Rp140 ribu per kilogram,” ujarnya.
Ia memastikan ketersediaan sapi potong di Bangka Belitung masih mencukupi, dengan stok sekitar 1.600 ekor. Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan.
“Belanja seperlunya, tidak perlu panik dengan stok daging sapi segar karena sudah sangat cukup. Kami juga tetap kontrol harga di pasar,” kata Edi.
Tips Memilih Daging Beku yang Baik
Dokter hewan, Correy Wahyu Adi, mengatakan masyarakat perlu mengetahui dan tips dalam memilih daging beku yang baik untuk dikonsumsi menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
“Pilih yang dijual di tempat berpendingin dengan suhu di bawah 0 derajat celcius. Lalu periksa juga label masa berlakunya,” kata Wahyu Adi.
Meskipun beku, kata Wahyu Adi, warnanya tidak sampai kehitaman kecuali bagian organ dalam atau jeroan. Menurutnya, perputaran stok daging beku di toko frozen food yang relatif cepat habis karena harganya lebih murah dibandingkan daging segar.
Penjual daging beku biasanya sudah memahami proses penyimpanan. Mereka tidak mau mengambil risiko menjual di lapak yang tidak berpendingin, karena daging akan cepat rusak, berbau, dan mengundang lalat.
Terdapat perbedaan dalam proses memasak antara daging segar dan daging beku, meskipun perbedaan nutrisi di antara keduanya tidak terlalu signifikan.
“Untuk daging beku butuh waktu untuk proses thawing atau pencairan sebelum dimasak, sedangkan daging segar bisa langsung diolah,” lata Wahyu Adi.
Untuk kandungan protein dan nutrisi daging beku mungkin sedikit berkurang sekitar 10 persen hingga 20 persen karena proses penyimpanan yang lama, terutama jika berasal dari luar daerah seperti Jakarta atau Jawa Barat yang menempuh perjalanan jauh ke Bangka.
“Masyarakat agar tidak hanya tergiur harga murah ketika membeli daging beku. Untuk daging beku, pastikan kondisinya tetap dingin saat dibeli,” kata Wahyu Adi.
0 Komentar