Bogor-Grogol: Aku Sudah Enam Tahun, Bro

Pengalaman Perjalanan yang Menginspirasi

Sore hari, seperti biasa saya menggunakan moda transportasi Commuter Line jurusan Bogor. Mata saya sudah cukup mengantuk, dan beruntungnya, saya mendapat tempat duduk. Saya membayangkan perjalanan ini akan menyenangkan karena bisa tidur selama perjalanan. Lumayan, ada lima belas stasiun yang akan dilewati, cukup untuk memejamkan mata.

Baru dua stasiun terlewati, samar-samar mulai terdengar orang sedang berbicara. Semakin lama semakin jelas terdengar dan suaranya lebih keras dari sebelumnya. "Ah, ini orang, ngobrolnya kenapa ngga bisa pelan ya....?", pikir saya. Saya membuka mata dan melihat dua orang yang naik dari stasiun yang sama dengan saya sedang mengobrol. Sebenarnya percakapan mereka berdua biasa-biasa saja, saya pun tidak tertarik untuk mendengarnya.

Namun, ada satu kalimat yang membuat saya berpikir, ketika mengatakan,"Aku Bro, enam tahun Bogor-Citraland, Grogol. Bayangin, 120 km. Tiga motor gue ancur, dua matic." Kalimat itu membuat saya berpikir keras, benar atau tidak. Tapi kemudian dia bersumpah bahwa yang dikatakannya itu benar. Saya positif thinking saja dan berusaha menerima saja pendengaran saya itu.

Singkatnya, percakapan mereka itu berisi tentang tantangan yang harus mereka hadapi untuk mencukupi ekonomi keluarganya. Saya mencoba membayangkan jika dia adalah saya. Tinggal di Bogor dan bekerja di Grogol. Saya langsung membuka aplikasi google maps di smartphone saya untuk mengecek jaraknya. Dan hasilnya, benar. Jaraknya sekitar 60 kilometer. Itu berarti benar, jika pergi-pulang, lebih kurang sama dengan 120 kilometer setiap hari. Dan, rute itu ditempuh setiap hari selama enam tahun.

Sejenak kekesalan saya berubah menjadi kagum kepada orang itu. Perjalanan sejauh itu membutuhkan effort yang luar biasa. Dengan kisahnya yang harus bangun subuh dan pulang malam hari, tentu bukan hal yang mudah.

Bekerja Jauh Dari Rumah

Saya kagum dengan orang ini. Tinggal di Bogor, tetapi setiap hari menempuh perjalanan sekitar 120 kilometer pulang--pergi dengan sepeda motor untuk bekerja di Grogol. Jika alasannya faktor ekonomi, buat saya sangat masuk akal dan bisa menjadi alasan utama. Sekalipun biaya hidup di Bogor relatif lebih terjangkau dibandingkan kawasan Jakarta, saya yakin, jika tidak memiliki penghasilan tetap, tentu tidak baik untuk keluarga.

Keputusan untuk bekerja jauh dari rumah tentu bukan keputusan yang mudah. Orang harus siap dengan konsekuensi jarak tempuh yang jauh. Mereka mungkin terpaksa melakukannya demi hasil yang akan didapatnya, meskipun hasilnya tidak selalu memuaskan. Saya banyak melihat, sebagian orang menganggap pengorbanan waktu dan tenaga lebih "murah" dibandingkan menyewa rumah di dekat tempat kerja.

Melihat kondisi ini, saya menilai bahwa ketersediaan lapangan kerja sangat tidak merata. Banyak pekerjaan formal dan informal terkonsentrasi di Jakarta, sementara tempat tinggal yang layak dan terjangkau justru berada di kota penyangga. Ketidakseimbangan ini memaksa banyak pekerja melakukan komuter jarak jauh setiap hari karena pilihan pekerjaan di sekitar tempat tinggalnya terbatas atau penghasilannya lebih kecil.

Transportasi yang Efisien dan Realistis

Bagi masyarakat dengan penghasilan sedang, sepeda motor merupakan sarana transportasi yang dianggap paling realistis. Dengan sepeda motor, waktu tempuh bisa lebih terprediksi dibandingkan transportasi umum yang harus berganti-ganti moda atau kereta yang penuh. Sepeda motor juga dianggap lebih fleksibel karena bisa menghindari macet tertentu. Selain itu, biaya hariannya cenderung relatif lebih rendah dibandingkan mobil atau kombinasi transportasi lain.

Bagi mereka yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, ini merupakan alasan non-materi yang kuat. Mereka tidak mau melepaskan kedekatan dengan keluarga, lingkungan yang lebih tenang, atau kualitas hidup yang dirasakan lebih baik di Bogor. Bagi sebagian orang, tinggal di rumah sendiri, dekat orang tua, atau di lingkungan yang lebih hijau memberi ketenangan batin yang tidak tergantikan, meskipun harus dibayar dengan perjalanan panjang setiap hari.

Tapi, sekalipun terdengar merupakan pilihan yang tepat, ternyata ada harga yang harus dibayar. Seperti yang dikatakan penumpang tadi, ia harus rela tiga sepeda motornya rusak karena beban yang tinggi. Selain itu, dengan rutinitas berangkat pagi dan pulang malam hari, kondisi fisik dan kesehatan akan terus tergerus. Kondisi ini berpotensi menciptakan masalah baru.

Insight

Singkatnya, perjalanan ekstrem ini memang terlihat merupakan pilihan nekat. Sebuah cerminan dari realitas sosial dimana ketimpangan konsentrasi pekerjaan, dan biaya perjalanan yang lebih besar. Nilai-nilai personal yang dimiliki seseorang membuatnya rela menukar waktu dan tenaga demi kehidupan yang dianggap lebih layak. Mereka seperti sedang membenturkan nilai-nilai itu dengan resiko yang selalu mengintai mereka.

Pengalaman ini bukan sekedar refleksi buat saya, tapi juga masukan bagi pemerintah untuk membuka lapangan kerja yang lebih luas dan merata di daerah. Tidak lupa, hal ini menunjukkan betapa besar pengorbanan yang dilakukan banyak pekerja demi keluarganya.

0 Komentar