Wisata Taman Limo di Cikarang Barat yang Kini Terbengkalai
Wisata Taman Limo di Jatiwangi, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi kini berada dalam kondisi yang sangat berbeda dari masa kejayaannya. Dulu, tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi warga sekitar karena fasilitas yang lengkap dan harga yang terjangkau. Namun, kini wisata tersebut tampak seram dan tidak terawat.
Area wisata yang dulunya ramai dengan pengunjung kini terlihat sunyi. Rumput liar dan semak-semak tumbuh tinggi, sementara ranting-ranting pohon dan potongan pohon berserakan di sekitar. Bambu-bambu bekas bongkaran rumah makan juga dibiarkan begitu saja. Benda-benda seperti perahu bebek-bebekan, permainan kolam renang mandi bola, serta kereta api dan komedi putar pesawat terbang menunjukkan bahwa dulu lokasi ini adalah tempat wisata yang aktif.
Saung-saung yang dahulu digunakan untuk berteduh pengunjung juga tampak reyot dan hampir roboh. Suara riuh anak-anak bermain dan percakapan keluarga yang biasanya terdengar kini telah hilang. Hanya sedikit warga yang datang untuk memancing di danau buatan tersebut.
Di sisi lain, para warga yang dahulu mengelola daerah itu kini beralih memanfaatkan lahan yang ada untuk program ketahanan pangan dari pemerintah, yakni dengan membuat ternak ikan lele.
Sejarah Awal Berdirinya Taman Limo
Santung (37), eks pengelola wisata Taman Limo di Jatiwangi, Cikarang Barat, menceritakan bahwa lokasi wisata ini berdiri sejak pertengahan 2016. Awalnya, warga setempat memanfaatkan lahan milik kawasan industri. Warga bersama pemerintah desa merapikan area tersebut dibuat seperti taman bermain.
Tujuannya agar warga ibu-ibu tidak ada kegiatan bisa berjualan di area tersebut, begitupula para anak muda yang belum mendapatkan pekerjaan bisa sedikit ada perputaran ekonomi. Seperti berjualan es, kopi, wahana bermain anak maupun makanan.
Lama-lama maju itu, mulai banyak yang lirik dari swasta. Dapat bantuan CSR penamaman pohon, maupun bantuan sarana dan prasarana infrastruktur di lokasi wisata.

Untuk danau resapan air sudah ada sejak dulu, akan tetapi areanya dulu gersang tidak ada pepohonan. Sehingga tim pengelola membuat aksi penanaman pohon hingga dibangun gazebo maupun saung-saung untuk berteduh pengunjung.
Perlahan tempat wisata itu sudah banyak diketahui warga Cikarang dan sekitar. Bahkan banyak pula dari warga diluar Cikarang yang datang.
Masa Kejayaan dan Kegagalan
Akan tetapi ketika sudah mulai berjalan baik dengan jumlah pengunjung alami peningkatan. Badai menerpa ialah Covid-19, yang membuat tempat wisata itu harus tutup awal 2020. Sekira Oktober 2020, lokasi wisata mulai bisa dibuka akan tetapi dengan memperhatikan protokol kesehatan.
Covid-19 reda dan perlahan pemerintah sudah memperbolehkan kembali masyarakat beraktifitas normal. Wisata Taman Limo Jatiwangi Cikarang kembali bangkit dan mencapai puncak kejayaan pada tahun 2021-2022. Dimana kala itu jumlah pengunjung mencapai 500 hingga 1.000 di hari biasa dan saat akhir pekan atau hari libur jumlah pengunjung mencapai 1.000 hingga 3.000.
Kelebihan Taman Limo Jatiwangi ini ialah sejak dahulu tidak ada biaya tiket masuk, pengunjung cuman membayar parkir saja. Untuk motor Rp 5.000 dan mobil Rp 15.000.
Jumlah pedagang juga semakin bertambah, baik itu yang pedagang kaki lima, pedagang restoran yang jual makanan ikan dan ayam. Juga pedagang yang menjajarkan permainan mandi bola, wahana bermain anak lainnya.
Bencana Banjir dan Penutupan Wisata
Namun, pada akhir tahun 2022 terjadi bencana banjir besar di Bekasi. Lokasi wisata itu terdampak, bahkan akses jalannya pun ikut terputus akibat diterjang banjir. Akibat dampak banjir kondisi tempat wisata itu tidak sebagus dahulu karena alami sejumlah kerusakan.
Ditambah akses jalan yang terputus yang membuat tahun 2023 mulai terjadi penurunan minat pengunjung. Mental Pedagang Diuji, Lokasi Wisata Sepi Justru Pilih Pergi.
Santung mengungkapkan, ketika kondisi tempat wisata sepi para pedagang baik makanan minuman maupun tempat wahana bermain anak mulai pergi meninggalkan. Padahal, daya tarik wisata itu ketika banyak tempat makan dan permainan anak.
"Dari pas Covid-19 memang sudah banyak pedagang tutup, tambah ada bencana banjir, akses terputus kondisinya sepi. Itu jadi semakin banyak pedagang pergi tutup," kata dia.
Kondisi itulah yang membuat Taman Limo Jatiwangi semakin ditinggal pengunjung. Akhirnya, pihak pengelola memutuskan pada akhir 2023 menutup tempat wisata tersebut.
Usai diputuskan ditutup, para pedagang meninggalkan begitu saja tempatnya. Bahkan beberapa wahana mainan ditinggalkan tidak dibawa oleh pedagang.
Saat ini Santung bersama beberapa warga memanfaatkan lahan ini sebagai lokasi ketahanan pangan. Mulai menanam jagung, cabai, kangkung hingga menernak ikan lele.
Hal itu ia jalani sejak awal tahun 2024, sekarang ini hasil dari ketahanan pangan itu bisa dikonsumsi oleh keluarga pengelola dan lelenya untuk bisa dijual ke pengepul untuk tempat makan pecel lele maupun kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kalau prihal nanti lanjut atau tidaknya kami juga sih belum tau mau dibawa kemana nih buat kedepannya. Yang pasti untuk saat ini saya coba buat fokus dulu program yang sedang jalan sekarang buat ketahanan pangan," tutur Santung.
0 Komentar