Dulu favorit warga, kini Taman Limo Cikarang terlantar dan bangkrut

Wisata Taman Limo Kini Terbengkalai, Warga Manfaatkan untuk Ketahanan Pangan

Wisata Taman Limo yang dulu menjadi salah satu destinasi favorit warga Cikarang dan sekitarnya kini terlihat sunyi dan tidak terawat. Area wisata yang berdiri sejak tahun 2016 ini kini tampak seram dengan rumput liar dan semak-semak yang tumbuh tinggi. Banyak perahu bebek-bebekan, permainan kolam renang mandi bola, hingga kereta api dan komedi putar pesawat terbang yang dulunya menjadi daya tarik pengunjung kini hanya tersisa sebagai sisa-sisa masa lalu.

Saung-saung yang dahulu digunakan untuk berteduh pengunjung juga tampak reyot dan hampir roboh. Suara riuh anak-anak bermain atau percakapan keluarga yang biasanya ramai kini telah hilang. Hanya nampak sejumlah warga yang datang untuk memancing di area danau buatan tersebut.

Awal Mula Berdirinya Taman Limo

Taman Limo awalnya dibangun oleh warga setempat bersama pemerintah desa. Lokasi ini awalnya merupakan lahan milik kawasan industri yang kemudian dirapikan menjadi taman bermain. Tujuannya adalah agar warga ibu-ibu bisa berjualan di area tersebut, serta memberikan kesempatan bagi para anak muda yang belum memiliki pekerjaan untuk berpartisipasi dalam perputaran ekonomi lokal.

Pada awalnya, warga menawarkan berbagai jenis jajanan seperti es, kopi, wahana bermain anak, maupun makanan. Perlahan-lahan, tempat ini mulai dikenal dan banyak dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah.

Puncak Kejayaan Taman Limo

Pada periode 2021–2022, Taman Limo mencapai puncak kejayaannya. Jumlah pengunjung meningkat secara signifikan, dengan rata-rata 500 hingga 1.000 pengunjung pada hari biasa, dan hingga 3.000 pengunjung pada akhir pekan. Saat itu, tempat parkir pun tidak cukup untuk menampung kendaraan para pengunjung.

Santung, eks pengelola wisata Taman Limo, mengungkapkan bahwa pada masa itu, banyak perusahaan swasta tertarik dan memberikan bantuan CSR, baik dalam bentuk penanaman pohon maupun bantuan sarana dan prasarana infrastruktur.

Banjir dan Akses Terputus Jadi Titik Balik

Namun, situasi berubah drastis pada akhir 2022 ketika banjir besar melanda Bekasi. Akses jalan terputus dan sejumlah fasilitas wisata rusak. Akibatnya, minat pengunjung menurun secara signifikan pada 2023.

Pedagang-pedagang yang dulunya menjajakan makanan dan wahana permainan pun mulai pergi. Sebagian besar dari mereka menutup usaha mereka karena kondisi yang semakin sepi. Akhirnya, pengelola memutuskan untuk menutup Taman Limo pada akhir 2023.

Kini Jadi Lahan Ketahanan Pangan

Setelah ditutup, lokasi Taman Limo kini dimanfaatkan oleh warga untuk program ketahanan pangan sejak awal 2024. Warga mulai menanam jagung, cabai, kangkung, serta beternak ikan lele. Hasil pertanian dan ternak ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau dijual ke pengepul.

Santung mengatakan bahwa saat ini fokus utamanya adalah menjalankan program ketahanan pangan yang sedang berjalan. Meski kondisi Taman Limo kini berbeda, ia tetap berharap bisa ada inisiatif baru yang dapat membawa kembali kejayaan wisata ini.

0 Komentar