Kinerja Ekspor Jawa Timur yang Mengagumkan
Performa perdagangan luar negeri Jawa Timur (Jatim) mencatat peningkatan yang signifikan di tengah dinamika geopolitik dunia. Pada tahun 2025, nilai ekspor nonmigas Jawa Timur mencapai 29,77 miliar dolar AS, meningkat sebesar 18,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 25,19 miliar dolar AS. Pencapaian ini tidak lepas dari strategi diversifikasi pasar yang agresif. China masih menjadi pasar utama dengan porsi sebesar 13 persen, diikuti oleh Jepang dengan 9 persen, serta kawasan ASEAN yang menguasai hampir 20 persen dari total pangsa pasar.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menegaskan bahwa penguatan kemitraan ekonomi melalui skema Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) menjadi kunci akses produk lokal ke pasar global, termasuk Australia dan Uni Eropa yang kontribusinya kini berada di kisaran 7 persen hingga 14 persen. Sektor manufaktur, yang menopang 30 persen perekonomian Jawa Timur, menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Industri makanan dan minuman (mamin) menyumbang sepertiga dari total nilai manufaktur tersebut. Dengan nilai ekspor mamin mencapai 2,4 miliar dolar AS atau berkontribusi sebesar 8,7 persen, sektor ini menjadi tulang punggung baru bagi stabilitas ekonomi daerah.
“Ekspor makanan dan olahan kita pada 2025 naik 13,85 persen secara year on year (yoy). Ini didorong oleh diversifikasi olahan, peningkatan kualitas, serta perluasan pasar ekspor alternatif yang terpaksa dilakukan karena adanya trade war. Kita melihat pertumbuhan luar biasa pada produk kakao yang naik 20,62 persen dan minuman yang melonjak hingga 72,58 persen. Ekspor produk mamin ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan Indonesia,” ujar Emil Dardak dalam acara Kunjungan Kerja Pers 2026 bertema “Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi”, di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).

Dari kiri ke kanan: Kepala Departemen Komunikasi, Indonesia Eximbank, Iwan Kurniawan, Direktur Pelaksana Bisnis II, Indonesia Eximbank, Bapak Sulaeman, Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Emil Elistianto Dardak, Direktur PT Mega Global Food Industry, Bapak Richard Cahadi dan Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko, Tony Prianto. - (Dok istimewa)
Keberhasilan ekspansi ini juga terlihat pada keberanian pelaku usaha dalam menyasar destinasi ekspor nontradisional seperti Yaman. Salah satu contohnya adalah PT Mega Global Food Industry (MGFI) yang berhasil mencatat peningkatan volume ekspor signifikan, dari 7.500 ton menjadi 13.000 ton. Emil menekankan pentingnya integrasi dalam rantai pasok global, di mana kemudahan arus barang keluar-masuk yang didukung Bea Cukai dan pembiayaan strategis menjadi faktor penentu dalam menghilangkan hambatan usaha.
Dukungan finansial melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang dikelola Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terbukti memberikan daya tahan bagi eksportir Jawa Timur. Sinergi antara pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dengan pemerintah daerah memastikan perusahaan yang memiliki potensi ekspor besar mendapatkan injeksi modal dan penjaminan yang tepat sasaran, terutama saat menghadapi ketidakpastian pasokan bahan baku di pasar internasional.
“Terima kasih kepada LPEI dan DJPPR yang sudah memberikan dukungan melalui PKE bagi perusahaan di Jawa Timur. Kita hidup dalam global supply chain, hampir tidak ada pabrik yang rantai pasoknya murni hanya dari dalam negeri. Oleh karena itu, dukungan pembiayaan ini sangat krusial. Kami terus memantau apa saja hambatannya, apakah itu perizinan atau masalah lainnya, untuk memastikan pertumbuhan volume ekspor yang signifikan ini tetap terjaga,” tambah Emil.
Tantangan Geopolitik Jadi Katalisator
Dari sisi pelaku usaha, tantangan geopolitik justru dipandang sebagai katalisator untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi. Direktur PT Mega Global Food Industry Richard Cahadi mengungkapkan, pertumbuhan ekspor perusahaannya tahun lalu mencapai 28 persen, yang mendorong utilitas kapasitas produksi hingga menyentuh angka 80 persen. Angka tersebut dianggap sebagai titik ideal dalam industri, di mana perusahaan harus segera melakukan ekspansi untuk menghindari keterbatasan suplai saat permintaan global terus berdatangan akibat pengalihan pesanan dari negara-negara yang terlibat konflik.
Meskipun dihadapkan pada ancaman kelangkaan bahan baku kemasan dan kenaikan biaya logistik global, optimisme pelaku usaha tetap tinggi. Target pertumbuhan di atas 20 persen dipatok untuk tahun ini, dengan memanfaatkan momentum terdisrupsinya pasar-pasar besar seperti China dan Amerika Serikat. Keamanan rantai pasok yang dikawal oleh fasilitas pembiayaan memungkinkan perusahaan mengamankan bahan baku lebih awal, sehingga keberlanjutan ekspor ke pasar dunia tetap terjamin di tengah situasi yang serba tidak pasti.
“Kami yakin peluang bagi ekspor Indonesia untuk mengisi pasar dunia justru semakin terbuka lebar di tengah krisis yang ada,” tegas Richard.

Biskuit di bawah merek dagang Kokola produksi PT Mega Global Food Industry (MGFI), di Gresik, Jawa Timur. - (PT Mega Global Food Industry (MGFI))
Sementara itu, Pemerintah melalui DJPPR berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan PKE guna memastikan tidak ada eksportir potensial yang terhambat karena kendala akses finansial. Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara DJPPR Tony Prianto menjelaskan, LPEI dibentuk sebagai instrumen negara untuk melakukan intervensi positif di pasar yang tidak terjangkau bank komersial. Dalam kondisi geopolitik yang genting, PKE berfungsi sebagai jaring pengaman sekaligus pendorong bagi pengusaha untuk berani mengambil risiko masuk ke pasar nontradisional.
Kehadiran PKE memberikan kepercayaan diri bagi para pengusaha untuk bersaing di panggung internasional, meskipun kondisi mata uang sedang bergejolak atau rantai pasok terganggu. Dengan memastikan ketersediaan modal kerja dan penjaminan risiko yang mumpuni, pemerintah berharap struktur ekspor nasional semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada komoditas mentah, melainkan beralih ke produk manufaktur olahan yang memiliki nilai tambah tinggi.
“Melalui fasilitas PKE, kami memberikan dukungan bagi pengusaha yang membutuhkan pembiayaan dan penjaminan. Harapan kami, LPEI dapat terus mendorong penguatan ekspor sehingga gejolak dunia ini justru menjadi sisi positif bagi neraca perdagangan Indonesia,” ujar Tony.
0 Komentar