
Siapa yang tidak mengenal gambar ikonik di kaleng biskuit Khong Guan? Dalam ilustrasi tersebut, terdapat sosok ibu dan dua anak yang sedang menikmati waktu bersama. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: ke mana perginya sang ayah?
Sejarah Ilustrasi Biskuit Khong Guan
Gambar yang ada pada kaleng biskuit berwarna merah itu telah menjadi bagian dari memori banyak orang. Tidak hanya sebagai desain kemasan, ilustrasi ini juga kerap menjadi bahan parodi. Meski begitu, hingga saat ini masih menjadi misteri siapa sebenarnya sosok “sang ayah” dalam gambar tersebut.
Sosok yang menciptakan ilustrasi ini adalah Bernardus Prasodjo, seorang pelukis yang dikenal dengan karya-karyanya. Menurutnya, gambar tersebut dibuat sesuai pesanan perusahaan pada tahun 1970-an. Ia mendapatkan contoh gambar dari sebuah majalah sebagai inspirasi awal pembuatan ilustrasi ini.
"Kami menerima banyak pesanan gambar dari berbagai pihak. Salah satunya adalah untuk kaleng biskuit Khong Guan," ujarnya dalam sebuah video yang diunggah ANTARA News di YouTube.
Proses Membuat Ilustrasi
Bernardus menjelaskan bahwa proses pembuatan ilustrasi ini dimulai dengan sketsa. Setelah itu, ia melakukan penyesuaian sesuai dengan arahan pemesan. "Ya cuma ini bajunya warna kuning, yang ini merah. Kemudian anaknya yang ini rada digeser ke mari, yang ini jadi pegang biskuit. Ya begitu aja," jelasnya.
Menurut Bernardus, tidak adanya sosok “ayah” dalam gambar itu sejatinya terjadi secara tidak sengaja. Ia sendiri tidak tahu persis alasan di balik hal ini. Namun, menurutnya, gambar ini berkaitan dengan strategi promosi perusahaan.
"Menurut saya itu cara untuk mempengaruhi ibu rumah tangga supaya membeli. Jadi yang penting ada ibunya di situ," ujarnya. "Karena yang belanja ibunya kok."
Asal Usul Gambar dan Cerita di Baliknya
Bila melihat sejarah ilustrasinya, jawaban atas misteri sosok ayah pada kaleng Khong Guan cukup sederhana. Dari sisi desain kemasan, gambar tersebut memang menonjolkan sosok ibu sebagai target utama konsumen. Sedangkan dari sisi cerita, adegan di meja makan hanyalah satu bagian dari rangkaian cerita yang belum menampilkan kehadiran sang ayah.
Penelusuran sejumlah peneliti menemukan bahwa gambar keluarga tersebut memiliki kemiripan dengan ilustrasi dalam buku anak-anak klasik Inggris terbitan 1959 dari penerbit Ladybird Books. Buku tersebut menampilkan ilustrasi karya seniman Inggris Harry Wingfield.
Dalam ilustrasi pertama yang sangat mirip dengan gambar di kaleng Khong Guan, terlihat ibu dan dua anak sedang menikmati teh sore hari. Keterangan di halaman itu menyebutkan bahwa kegiatan tersebut berlangsung pukul empat sore. Pada halaman berikutnya, cerita berlanjut dengan menggambarkan anak-anak berlari menyambut seseorang yang baru datang ke rumah.
Keterangan di samping gambar menyebutkan: “Pada pukul enam sore ayah pulang.” Dua anak yang muncul dalam ilustrasi keluarga tersebut bernama Peter dan Jane. Dalam kelanjutan cerita, keduanya kemudian digambarkan berlari ke halaman rumah untuk menyambut ayah mereka yang baru saja pulang dari bekerja.
Artinya, sang ayah sebenarnya tidak hilang. Dia hanya belum ada di rumah saat keluarga menikmati teh sore, karena masih berada di tempat kerja. Dua jam kemudian, ia kembali dan disambut gembira oleh istri serta anak-anaknya.
Keberlanjutan Ilustrasi dan Pengaruh Budaya
Terlepas dari pertanyaan ke mana perginya sosok ayah pada kaleng Khong Guan, ilustrasi keluarga tersebut tetap bertahan tanpa perubahan berarti selama lebih dari setengah abad. Khong Guan saat ini menjual biskuit kaleng dan pak dalam tiga ukuran yakni 300 gram, 650 gram, dan 1600 gram bersisi 13 macam biskuit.
Gambar sederhana di kaleng biskuit asal Singapura itu terus muncul setiap Ramadhan dan Lebaran, mengingatkan banyak orang pada masa kecil, tradisi keluarga, dan momen berkumpul bersama. Bisa jadi, misteri ayah di kaleng Khong Guan justru memancing rasa penasaran sehingga tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Ilustrasi sederhana yang awalnya hanya desain kemasan, akhirnya berubah menjadi icon budaya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.
Khong Guan, meskipun didirikan di Singapura, menjadi favorit di Indonesia, terutama saat Lebaran tiba. Pemilik Khong Guan adalah seorang imigran asal Fujian, China. Perusahaan ini didirikan oleh kakak-beradik Chew Choo Han dan Chew Coo Keng yang menetap di Singapura.
Menurut beberapa sumber, keduanya awalnya bekerja di sebuah pabrik biskuit lokal untuk menafkahi keluarga mereka di China. Lalu pada pertengahan 1940-an, Jepang menginvasi Singapura. Karena itulah keduanya kemudian pergi ke Perak, Malaysia, untuk berlindung. Di sana, mereka membuat biskuit dengan tangan untuk dijual dan bertahan hidup.
Biskuit mereka cukup laku, tetapi ada kendala yang dihadapi, yakni kekurangan pasokan tepung dan gula. Karena sedikitnya pasokan bahan, keduanya banting setir, menjual garam juga sabun. Singkat cerita, Jepang angkat kaki dari Singapura. Keduanya kemudian kembali ke negara kecil itu dan memulai bisnis biskuit lagi.
Mereka merintis Khong Guan ketika Chew Choo Han secara kebetulan menemukan beberapa mesin pembuat biskuit yang sudah tua dan rusak akibat perang. Mesin tersebut dari sisa pabrik tua tempat mereka dulu bekerja yang dijual pemiliknya. Chew Choo Han kemudian memproduksi kue biskuit dengan mesin semi-otomatis itu. Mesin tersebut terbilang sederhana, penggeraknya menggunakan rantai sepeda untuk memindahkan biskuit pada sistem konveyor.
Tak butuh lama, bisnis biskuit itu melesat. Penjualannya meningkat tajam. Hingga pada 1947, Khong Guan Biscuit Factory (Singapore) Limited diresmikan di Singapura. Dari situ, perusahaan tersebut kemudian melebarkan sayap hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia. Pabrik Khong Guan juga berdiri di beberapa kota pesisir di China pada awal 1980-an.
Di Indonesia sendiri, Khong Guan juga memproduksi kue-kue lain seperti Malkist rasa abon, Malkist Crackers, dan Khong Guan Saltcheese Combo. Tapi yang paling terkenal di antara itu semua adalah Khong Guan Red Assorted Biscuits.
0 Komentar