Keindahan Toleransi, 4 Mahasiswi Non-Muslim Wisuda di UMI Makassar

Keindahan Toleransi, 4 Mahasiswi Non-Muslim Wisuda di UMI Makassar

Keharuan dan Toleransi di Wisuda UMI

Di tengah suasana haru dan bahagia, prosesi wisuda hari kedua Universitas Muslim Indonesia (UMI) berlangsung di Hotel Claro, Jl AP Pettarani, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat (17/4/2026). Acara ini tidak hanya menjadi momen kebanggaan bagi para wisudawan, tetapi juga menjadi bukti bahwa UMI adalah kampus yang mampu menyatukan berbagai latar belakang, baik agama maupun budaya.

Sebanyak 844 wisudawan hadir dalam acara tersebut. Di antara mereka, empat di antaranya berasal dari latar belakang non-muslim. Bagi mereka, menjadi minoritas bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Sebaliknya, UMI justru memberikan ruang yang penuh toleransi dan kesetaraan.

Pengalaman Tristina: Dari Ragu Hingga Percaya Diri

Tristina Wisranje, wisudawati UMI asal Maumere Flores, Nusa Tenggara Timur, mengungkapkan perasaannya tentang masuk ke UMI. Ia berasal dari keluarga Katolik dan awalnya ragu karena UMI dikenal sebagai kampus dengan nuansa keislaman yang kuat. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dan merasa diterima sepenuhnya.

"Awalnya saya ragu-ragu, takutnya tidak diterima. Tapi ternyata saya diterima," ujarnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Sekretaris Prodi atas nama Nesha Akbar yang memberinya bimbingan dan motivasi selama masa studi.

Serliana: Toleransi yang Mengubah Pandangan

Serliana, wisudawati asal Mamuju, Sulawesi Barat, juga merasakan indahnya toleransi di UMI. Ia berasal dari latar belakang Kristen dan awalnya mengira akan sulit beradaptasi. Namun, saat mengikuti pendidikan karakter di Pesantren Darul Mukhlisin, Padanglampe UMI, ia merasa dihargai dan diterima tanpa perbedaan.

"Di sana saya diajarkan arti toleransi, tidak membedakan satu sama lain. Dan di sana juga kita diajarkan tentang merangkul satu sama lain," katanya. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada mahasiswa dan dosen yang ramah dan tidak pernah menyudutkannya.

Desiana Dewi: Merasa Seperti Rumah Kedua

Desiana Dewi, seorang ners asal Sumba, juga mengungkapkan pengalamannya. Ia berasal dari latar belakang Kristen Protestan dan merasa UMI seperti rumah keduanya. Pendidikan karakter di Padanglampe membuatnya terharu karena adanya toleransi yang nyata.

"Di situ saya benar-benar merasakan, dihargai dan dianggap. Bahkan makan saja, makan sepiring semeja sama teman-teman yang muslim," ujarnya.

Sri Radhika: Tidak Dikucilkan

Sri Radhika, wisudawan beragama Hindu dari Bali, juga merasa tidak diasingkan oleh dosen maupun teman-temannya. Ia mengaku banyak belajar tentang perbedaan, tetapi tetap menjaga toleransi.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk para dosen dan teman-teman yang telah membantu saya dalam berbagai hal dan sangat sabar jika saya banyak bertanya mengenai pembelajaran-pembelajaran yang baru di UMI ini," ujarnya.

Rektor UMI: Pentingnya Empati dalam Pendidikan

Rektor UMI Prof Hambali Thalib dalam pidatonya menekankan pentingnya empati dalam pendidikan. Menurutnya, teknologi tanpa empati hanya akan melahirkan jarak, keilmuan tanpa kasih sayang hanya akan melahirkan kesombongan, dan profesi tanpa hati nurani hanya akan melahirkan pelayanan yang dingin.

Ia juga mengutip ayat Alquran Surah Al Isra 70 yang menekankan pentingnya saling memuliakan. "Setiap manusia dimuliakan. Maka pendidikan harus menjaga kemuliaan manusia. Kampus harus menjadi tempat yang merangkul, bukan menghakimi," imbuhnya.

UMI: Kampus yang Menerima Semua Latar Belakang

Prof Hambali juga menegaskan bahwa UMI menerima semua kalangan tanpa melihat latar belakang. Mulai dari keluarga yang hidup berkecukupan hingga yang berjuang dari keterbatasan, dari kota besar sampai pelosok desa, dan bahkan dari berbagai negara.

"UMI tempat yang membuka peluang, bukan menutup harapan. UMI sejak awal menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang," ujarnya.

Di hari pertama wisuda, UMI menamatkan sebanyak 1.099 wisudawan dari total 3.024 wisudawan pada periode pertama ini. Rencananya, pada hari ketiga Sabtu (18/4/2026) besok, sebanyak 1.081 wisudawan akan diwisuda di lokasi yang sama.

0 Komentar