Legenda Candi Keboireng: Harta Karun Tersembunyi Ngerong Pasuruan

Legenda Candi Keboireng: Harta Karun Tersembunyi Ngerong Pasuruan

Sejarah Penemuan Candi Keboireng

Candi Keboireng ditemukan pada tahun 1983 di pekarangan warga. Awalnya, situs ini terkubur gundukan tanah dan pohon bambu sebelum akhirnya diekskavasi oleh tim arkeolog. Candi ini memiliki struktur batu andesit dengan isian bata merah dan menyimpan simbol Surya Majapahit. Selain itu, candi ini juga memiliki candi perwara yang jarang ditemukan pada situs seukurannya.

Candi Keboireng terletak di Desa Ngerong, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Meskipun kini bangunannya sudah tidak utuh, keberadaan candi ini menjadi bukti kuat kemegahan peradaban masa lalu di wilayah Gempol. Lokasi candi ini cukup unik karena berada tepat di belakang rumah penduduk, yaitu milik seorang warga bernama Pawiji.

Sebelum dilakukan ekskavasi oleh tim ahli, area candi tersebut merupakan pekarangan gelap yang ditumbuhi rimbun pohon bambu serta pohon kemuning di tengahnya. Masyarakat sekitar awalnya tidak menyadari bahwa di bawah gundukan tanah tempat mereka beraktivitas, terkubur sebuah monumen suci peninggalan era Kerajaan Majapahit yang sangat berharga.

Akses menuju situs ini memang terbilang cukup menantang karena posisinya yang tersembunyi dari jalan kampung. Minimnya papan petunjuk arah membuat Candi Keboireng jarang dikunjungi oleh masyarakat luas, kecuali warga dusun setempat atau para peneliti sejarah.

Pawiji sebagai pemilik lahan telah mewakafkan tanah tersebut kepada pemerintah demi kepentingan pelestarian cagar budaya. Upaya perlindungan dilakukan secara mandiri oleh juru pelihara dengan menutupi bagian atas candi dan kumpulan relief menggunakan terpal. Langkah ini diambil guna menjaga batuan kuno tersebut dari paparan air hujan yang dapat memicu tumbuhnya lumut perusak.

Kronologi Penemuan Candi Keboireng

Penemuan Candi Keboireng berawal dari ketidaksengajaan yang terjadi puluhan tahun lalu. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1975, orang tua Pawiji sebenarnya sudah menemukan dan menyimpan sebuah arca di dalam rumah mereka. Namun, titik terang mengenai keberadaan bangunan candi baru muncul pada tahun 1983 ketika ditemukan banyak reruntuhan relief di area pekarangan tersebut.

Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke pemerintah hingga tim arkeolog dari Yogyakarta datang untuk melakukan penelitian resmi pada tahun 1984. Nama "Keboireng" yang disematkan pada candi ini ternyata memiliki latar belakang cerita rakyat yang kuat. Menurut penuturan masyarakat desa, nama tersebut diambil dari sosok tokoh yang paling dihormati di wilayah itu pada masa lampau, yang bernama Kebo Ireng.

Saking besarnya rasa hormat warga kepada tokoh tersebut, namanya tidak hanya diabadikan menjadi nama dusun, tetapi juga melekat pada situs candi yang ditemukan di wilayah tersebut hingga saat ini.

Keunikan Arsitektur Gaya Tantrayana

Secara arsitektural, Candi Keboireng memiliki karakteristik yang unik karena memadukan gaya bangunan Jawa Timur dengan sentuhan Jawa Tengahan atau yang sering disebut gaya Tantrayana. Bangunan induk candi memiliki bentuk bujur sangkar dengan panjang sisi masing-masing sekitar 6,5 meter dan tinggi bagian kaki yang tersisa mencapai 90 sentimeter.

Candi ini berada pada ketinggian 44,88 mdpl dan dikelilingi oleh lahan pertanian masyarakat yang subur. Struktur candi ini dibangun dengan teknik "pembungkus", di mana batu andesit digunakan untuk bagian luar dan kaki candi, sedangkan bagian dalamnya disusun dari batu bata merah.

Pada bagian tengah bilik candi, ditemukan sebuah sumuran dengan pola bujur sangkar berukuran 1,75 x 1,75 meter. Keberadaan tangga dengan dua buah undakan yang menghadap ke arah barat menjadi penanda kuat mengenai orientasi bangunan ini sebagai candi induk yang sakral.

Hal yang paling istimewa dari situs ini adalah adanya tiga buah candi pewara atau candi pendamping. Penemuan candi pewara ini dianggap sebagai hal langka untuk situs-situs kecil di Jawa Timur. Adanya candi pewara membuat kompleks Candi Keboireng memiliki kemiripan tata letak dengan kompleks candi besar seperti Prambanan atau Borobudur, yang menunjukkan bahwa pada zamannya, situs ini merupakan bangunan yang cukup megah dan penting.

Simbol Surya Majapahit

Dugaan kuat bahwa Candi Keboireng merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit diperkuat dengan ditemukannya batu berlambang Surya Majapahit di tengah reruntuhan candi. Simbol matahari ini merupakan lambang kebesaran kerajaan yang berpusat di Trowulan. Benda bersejarah tersebut kini telah diamankan dan disimpan di Balai Informasi Majapahit (BIM) Trowulan guna mencegah kerusakan atau kehilangan akibat tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Selain simbol kerajaan, kekayaan seni pahat di Candi Keboireng juga terlihat pada ragam hias reliefnya yang sangat detail. Pada dinding-dinding candi terdapat ukiran bermotif manusia, flora (berupa pohon dan sulur-suluran), serta fauna. Fragmen relief yang ditemukan mencakup berbagai bentuk seperti kepala kala, makara (hiasan pancuran air), antefiks, hingga jaladwara yang biasanya digunakan sebagai saluran pembuangan air pada bangunan suci.

Relief binatang dan tumbuhan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sering kali mengandung makna filosofis terkait ajaran agama Hindu-Buddha yang berkembang saat itu. Meskipun banyak bagian dinding yang sudah runtuh, potongan-potongan batu berelief halus tersebut masih terkumpul di samping rumah juru pelihara.

Upaya Pemetaan dan Harapan Wisata Edukasi

Menyadari pentingnya nilai sejarah Candi Keboireng, tim dari BPCB Jawa Timur terus berupaya melakukan langkah pelestarian. Pada bulan April 2019, dilakukan kegiatan pemetaan dan penggambaran secara mendalam guna merekam data terkini kondisi candi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mendapatkan dokumen piktorial yang akurat melalui observasi, pemotretan, dan perekaman fisik bangunan agar data sejarahnya tidak hilang ditelan zaman.

Namun, di balik upaya teknis tersebut, terdapat tantangan besar dalam hal pelayanan publik dan pengembangan pariwisata. Kurangnya koordinasi serta perhatian dari pihak terkait sempat dikeluhkan oleh awak media saat mencoba meminta konfirmasi mengenai pengembangan situs ini. Padahal, potensi Candi Keboireng untuk dijadikan destinasi wisata budaya sangatlah besar.

Keberadaan situs ini di tengah pedesaan dapat menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar jika dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah. Pawiji selaku pemilik lahan dan juru pelihara berharap adanya perhatian serius agar Candi Keboireng bisa segera dijadikan lokasi wisata edukasi.

Dengan adanya infrastruktur yang memadai dan papan petunjuk jalan, situs ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk belajar sejarah. Harapan ini menjadi penutup penting bahwa pelestarian cagar budaya harus sejalan dengan pemberdayaan masyarakat sekitarnya.

0 Komentar