Mengapa Bandung, Jogja, dan Semarang Kaya Bangunan Kuno Belanda?

Jejak Arsitektur Kolonial di Kota-Kota Besar Indonesia

Banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda masih dapat ditemukan di berbagai kota besar di Indonesia. Bandung, Jakarta, Solo, Yogyakarta, Magelang, dan Semarang masih menyimpan jejak sejarah melalui arsitektur yang berdiri kokoh di sudut-sudut kota. Gedung-gedung tua tersebut menjadi saksi bisu perjalanan sejarah sekaligus memperkaya identitas kota dengan nuansa klasik yang menarik.

Namun, tidak semua kota memiliki jejak serupa. Di beberapa kota lain di Indonesia, bangunan kuno Belanda hanya tersisa sedikit atau bahkan sudah tak ada sama sekali. Pertanyaannya adalah, mengapa di beberapa kota masih terdapat banyak rumah/bangunan Belanda, sementara di tempat lain tidak begitu?

Kota Utama pada Masa Kolonial

Sejarawan publik di Jakarta, Hendaru Tri Hanggoro, menjelaskan bahwa kota-kota yang masih memiliki bangunan kolonial Belanda dulunya termasuk kota utama. "Beberapa kota tersebut yang masih ada bangunan Belanda, karena termasuk kota utama pada masanya," ujarnya saat dihubungi.

Ia menambahkan, "Ada tingkatan status kota di zaman kolonial. Tiga kota seperti Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta termasuk yang utama." Selain itu, faktor banyaknya penduduk Belanda atau orang Eropa saat itu juga berpengaruh terhadap eksistensi bangunan Belanda di Indonesia.

Alasan Bangunan Belanda Masih Bertahan

Selain karena status kota utama, kualitas arsitektur dan konstruksi kolonial menjadi modal utama bagi keberlangsungan bangunan tersebut hingga kini. Hendaru menjelaskan, bangunan Belanda umumnya dirancang dengan material kuat, seperti bata tebal dan kayu jati.

"Bangunan Belanda juga ada penyesuaian iklim tropis, misalnya plafon tinggi dan jendela besar untuk sirkulasi udara tropis," kata Hendaru. "Sehingga tidak heran banyak bangunan ini mampu bertahan secara fisik melintasi dekade."

Selain itu, gedung kolonial terus difungsikan pascakemerdekaan, sehingga terawat. Contohnya, Gedung Balai Kota Batavia dialihfungsikan menjadi Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Benteng Vredeburg Yogyakarta menjadi museum perjuangan, dan stasiun-stasiun kereta kolonial masih beroperasi.

"Pemanfaatan ulang ( adaptive reuse ) ini memastikan bangunan tidak terbengkalai dan mendapatkan pemeliharaan rutin," tambah Hendaru.

Dukungan Regulasi dan Komunitas

Di samping itu, dukungan regulasi dan komunitas di kota-kota yang masih ada bangunan Belandanya juga menjadi faktor bangunan tetap bertahan. Hendaru menjelaskan, adanya status cagar budaya secara hukum membuat bangunan itu cukup aman dari ancaman pembongkaran.

"Di tingkat komunitas, gerakan masyarakat dan pegiat heritage lokal sangat berperan. Mereka membuat tur kota tua, festival heritage, hingga advokasi kebijakan," katanya.

Pengaruh Faktor Politik, Ekonomi, dan Geografis

Hendaru menyampaikan, banyaknya bangunan kolonial di satu daerah juga tak lepas dari faktor politik, ekonomi, dan letak geografis. "Tiga faktor ini sama-sama berpengaruh dengan porsi berbeda di tiap kota," ucapnya.

Menurut dia, kota Jakarta dan Semarang tumbuh pesat karena posisi geografis pelabuhan strategis dan keuntungan ekonomi perdagangan, lalu diperkuat oleh peran politik (terutama Jakarta sebagai ibu kota negara). Sementara Yogyakarta, karena letaknya bukan di jalur dagang utama, ditambah statusnya sebagai ibu kota kesultanan lokal, membuat faktor politik lebih menonjol dalam menentukan kenapa dan di mana Belanda mendirikan bangunan di sana.

"Yang jelas, kombinasi tiga faktor tadi yang bikin mengapa kota-kota tersebut memiliki lanskap kolonial yang berbeda namun sama-sama kaya peninggalan hingga kini," kata Hendaru.

0 Komentar