Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Menelusuri Sejarah Bandung 1955

Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika di Kota Bandung

Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18 April memiliki makna sejarah yang mendalam bagi Kota Bandung. Berbagai bangunan dengan gaya heritage ini menyimpan kisah-kisah yang hingga kini masih bisa dilihat oleh wisatawan. Di momen ini, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) mengajak publik untuk menyelami memori kolektif melalui kegiatan walking tour.

Kegiatan Walking Tour: Mengunjungi Titik-Titik Penting

Walking tour ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga melintasi waktu, kembali ke 1955 saat Bandung menjadi panggung solidaritas dunia. Dipandu oleh edukator Museum KAA, Nadia Inggrida, rombongan peserta diajak menyusuri titik-titik penting yang menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah tersebut.

Perjalanan dimulai dari Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jalan Naripan. Bangunan yang kini dikenal sebagai pusat seni itu dulunya merupakan pusat perbelanjaan sekaligus tempat berkumpul masyarakat Belanda. Nadia menjelaskan bahwa pada masa KAA, gedung ini difungsikan sebagai ruang pameran yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya Jawa Barat.

Di sini ada pameran tanaman seperti anggrek, kaktus, teratai, juga kerajinan seperti wayang golek yang bisa dibeli para delegasi. Lukisan seniman lokal hingga instalasi seni turut dipamerkan. Ruang ini menjadi etalase budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.

Jalan Braga: Ruang Diplomasi Budaya

Dari YPK, rombongan bergerak ke Jalan Braga. Nadia menjelaskan bahwa kini Braga dikenal sebagai tempat nongkrong. Namun, pada masa KAA, Braga berubah menjadi ruang diplomasi budaya yang meriah.

Sepanjang jalan, bendera negara-negara Asia-Afrika berkibar. Etalase toko dihias dengan ornamen khas berbagai negara. Bahkan, instalasi seni dan ukiran yang menyerupai karya luar negeri turut dipamerkan. Braga bukan hanya jalan biasa, tapi menjadi ruang interaksi budaya antarnegara.

Ia juga menekankan bahwa KAA tidak hanya dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia. Negara-negara peserta pun turut menggelar acara. Salah satunya Sudan, yang mengadakan pemutaran film di Hotel Grand Preanger untuk memperkenalkan negaranya kepada publik Bandung.

Hotel Grand Preanger: Kesiapan Indonesia Sebagai Tujuan

Memasuki Hotel Grand Preanger, peserta mulai melihat bagaimana kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah. Berbagai fasilitas disediakan, mulai dari layanan kesehatan hingga transportasi. Bahkan, tersedia dokter umum dan dokter gigi bagi para delegasi semuanya gratis.

Yang paling unik di Hotel Grand Preanger adalah bagian lift tua dengan sekat besi yang digunakan pada saat KAA. Namun sekarang, lift ini sudah tidak bisa digunakan lagi.

Hotel Savoy Homann: Simbol Diplomasi Meja Makan

Perjalanan berlanjut ke Hotel Savoy Homann, salah satu bangunan paling ikonik di kawasan Asia Afrika. Di titik ini, penjelasan tidak hanya datang dari pemandu, tetapi juga diperkuat oleh keterangan dari pihak hotel.

Marketing Communication Hotel Savoy Homann, Yuke, menjelaskan bahwa hotel ini menyimpan banyak peninggalan penting Konferensi Asia Afrika yang masih terjaga hingga hari ini. Salah satunya adalah Golden Book, buku bersejarah yang memuat daftar hadir para delegasi sejak tahun 1955.

Golden Book ini pun dipajang di area dekat lobby, ukurannya cukup besar, dan para tamu pun bisa melihat lebih dekat isi buku tersebut. Buku ini tidak hanya berisi tanda tangan saat KAA berlangsung, tapi juga saat peringatan-peringatan berikutnya ketika para delegasi kembali berkunjung.

Di area belakang hotel, terdapat pula ruang Memorabilia, yang menyimpan satu set peralatan makan yang digunakan dalam jamuan resmi KAA. Set peralatan makan seperti sendok, garpu, gelas, hingga wajan, dan vas bunga pun tersimpan rapi dengan memori yang tersimpan.

Kantor Pos Bandung: Pusat Komunikasi

Selanjutnya, rombongan menuju Kantor Pos Bandung, yang pada masa KAA berfungsi sebagai pusat komunikasi. Di sinilah berita tentang konferensi dikirim ke berbagai negara melalui pos, telepon, dan telegraf. Pemerintah Indonesia bahkan menerbitkan prangko khusus edisi KAA sebagai penanda peristiwa besar ini.

Salah satu bagian paling menarik adalah cerita tentang press room. Ruangan ini disediakan di beberapa titik, salah satunya adalah Museum Konferensi Asia Afrika. Para jurnalis dari berbagai negara berkumpul di ruang ini untuk menulis dan mengirim berita. Menariknya, area Museum KAA saat ini dulunya merupakan press room tersebut.

Gedung Merdeka: Titik Paling Penting

Perjalanan ditutup di Gedung Merdeka, titik paling penting dari seluruh rangkaian. Di sinilah para pemimpin Asia dan Afrika berkumpul dan melahirkan Dasasila Bandung, sebuah deklarasi yang berisi prinsip-prinsip perdamaian, kedaulatan, dan kerja sama internasional.

0 Komentar