Sedihnya Nasib Korban Banjir di Lambung Bukik Jelang Lebaran: Bantuan Menipis, Sawah Tak Bisa Ditanam

Sedihnya Nasib Korban Banjir di Lambung Bukik Jelang Lebaran: Bantuan Menipis, Sawah Tak Bisa Ditanam

Kondisi Penyintas Banjir Bandang di Hunian Sementara Kapalo Koto

Di bawah terik matahari yang menyengat, warga penyintas banjir bandang di Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, masih berjuang untuk membangun kembali kehidupan mereka. Tahun 2025 lalu, banjir bandang menghancurkan rumah dan lahan pertanian mereka, yang menjadi sumber penghidupan utama. Kini, mereka tinggal di hunian sementara yang tidak bisa disebut sebagai tempat permanen.

Jelang Lebaran 2026, warga terus berupaya memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Namun, proses pemulihan ini berjalan lambat karena hilangnya aset produktif seperti sawah-sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan. Bagi banyak keluarga, persiapan Lebaran kali ini bukan lagi tentang kue atau tradisi biasa, tetapi lebih pada bagaimana menjamin keberlanjutan hidup di masa depan.

Kehidupan di Hunian Sementara

Murni, salah satu warga yang tinggal di Huntara Kapalo Koto, duduk dengan wajah murung, menatap bangunan semipermanen yang kini menjadi tempat tinggalnya. Ia mengakui bahwa perayaan Lebaran tahun ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tradisi seperti membuat kue kering atau mempersiapkan makanan khas tidak lagi menjadi fokus utama.

"Persiapan raya kali ini sedikit berbeda. Kami tidak fokus ke kue, tapi bagaimana ekonomi ke depan," ujar Murni saat ditemui di sela aktivitasnya. Kalimat itu bukan hanya sekadar keluhan, melainkan refleksi atas situasi yang memaksanya untuk mengubah prioritas hidup.

Banjir bandang itu tidak hanya merusak rumah, tetapi juga menghilangkan sumber penghidupan utama. Sawah-sawah yang dulunya menjadi tumpuan harapan kini tertutup material lumpur dan batu, sehingga tidak bisa digarap dalam waktu dekat. Murni menyadari bahwa tinggal di Huntara bukan solusi permanen. Ia merasa ada sesuatu yang lebih mendesak daripada sekadar merayakan kemenangan setelah bulan Ramadhan, yaitu kepastian tentang bagaimana asap dapur akan terus mengepul di masa depan.

Kekhawatiran Terhadap Bantuan

Kekhawatiran Murni kian beralasan seiring dengan mulai menipisnya aliran bantuan dari berbagai pihak. Masa tanggap darurat telah lama berlalu, dan perhatian publik perlahan mulai teralihkan ke isu-isu lain, meninggalkan para penyintas dalam ketidakpastian.

"Bantuan pun tidak banyak lagi sekarang. Pertanyaannya, sampai kapan kita harus mengharapkan bantuan?" ucapnya. Nada suaranya menyiratkan keinginan kuat untuk mandiri, meski modal untuk bangkit kembali nyaris tidak ada.

Kondisi serupa dialami oleh Ija, warga Lambung Bukik lainnya yang juga menghuni kompleks Huntara tersebut. Bagi Ija, Lebaran kali ini adalah fase adaptasi yang sangat berat bagi mental dan fisik para penyintas. Ia mengakui, untuk urusan dapur jelang hari raya, ia bahkan belum berani memastikan apakah tradisi merendang (memasak rendang) bisa dilakukan.

Rendang yang biasanya menjadi simbol kemapanan dan kegembiraan di ranah Minang, kini terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau. "Untuk merendang, belum tentu. Soalnya kami masih terkendala ekonomi dan harus beradaptasi dengan suasana sekarang," tutur Ija. Kendala biaya belanja bumbu dan daging menjadi tembok besar yang sulit ditembus di tengah kondisi keuangan yang belum pulih.

Perubahan Prioritas Hidup

Ija memandang bahwa esensi hari raya tahun ini bukan lagi terletak pada apa yang tersaji di atas meja. Baginya, bertahan hidup dan tetap bersama keluarga di tengah keterbatasan sudah merupakan sebuah pencapaian tersendiri yang patut disyukuri. Ia menekankan pentingnya sikap batin dalam menghadapi cobaan ini. Menurutnya, satu-satunya cara untuk tidak terpuruk dalam kesedihan adalah dengan melipatgandakan rasa sabar dan keikhlasan dalam menerima kenyataan yang ada.

"Perbanyak sabar dan ikhlas. Raya tahun ini tentu sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tapi hidup harus tetap berjalan," tambah Ija dengan suara lirih namun tegas.

Tantangan Ekonomi yang Berat

Apa yang dialami Murni dan Ija di Huntara Kapalo Koto menjadi potret nyata dari rapuhnya ketahanan ekonomi warga pascabencana. Hilangnya aset produktif seperti lahan pertanian membuat pemulihan ekonomi berjalan jauh lebih lambat dibandingkan pemulihan fisik bangunan. Kini, para penyintas Lambung Bukik ini hanya bisa berharap adanya solusi jangka panjang yang mampu mengembalikan kemandirian mereka.

Bukan sekadar bantuan pangan sesaat, melainkan skema pemulihan mata pencaharian yang memungkinkan mereka kembali berdikari tanpa harus terus menanti uluran tangan bantuan.

0 Komentar