Dampak Konflik Timur Tengah pada Industri Pariwisata Indonesia
Konflik antara Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Iran telah berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata di Indonesia. Wisatawan menjadi salah satu pihak yang terdampak lebih dulu, terutama karena serangan balasan Iran pada akhir Februari 2026. Hal ini menyebabkan para pelancong yang sedang berada di kawasan Timur Tengah mengalami kesulitan dalam melakukan perjalanan. Selain itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga berdampak pada kenaikan harga bahan bakar, termasuk avtur.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperhatikan hal ini karena bisa berdampak pada penurunan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Namun, menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, dampak konflik Timur Tengah tidak hanya terbatas pada kunjungan wisman.
“Dampak timur-tengah itu sebenarnya kita enggak bisa bicara pariwisata itu cuma bicara wisman. Saya selalu sampaikan, wisman itu berkontribusi tidak banyak. Wisman itu hanya berkontribusi hanya di beberapa wilayah, terbesar itu di Bali dan Jakarta,” kata Maulana.
Maulana menjelaskan bahwa konflik Timur Tengah telah meningkatkan biaya perjalanan atau cost of travelling, terutama dari sisi kenaikan harga tiket pesawat dan avtur. Kondisi ini dapat menurunkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke destinasi-destinasi dalam negeri. Padahal, kunjungan wisnus menjadi penopang utama industri pariwisata.
“Dengan dampak aktivitas di berbagai daerah, tentu hubungannya semua ujung-ujungnya adalah daya beli masyarakat. Nah begitu daya beli masyarakat yang kena, dampak wisatawan domestik pun akan menjadi cukup besar,” ucap Maulana.
Apa Saja Dampak Konflik Timur Tengah pada Industri Pariwisata?
Dampak konflik Timur Tengah bukan hanya terbatas pada turunnya jumlah wisman. Tiket pesawat domestik juga mengalami kenaikan. Masalah ini juga berdampak pada wisnus, yang menjadi masalah utama saat ini.
“Wisman itu terdampak karena pesawat yang asal dari Timur-Tengah kan tidak jelas schedule-nya. Karena masih ada konflik di sana. Mereka pergerakannya tergantung dari situasi. Nah itu juga membuat traveler juga agak sedikit ragu untuk melakukan perjalanan. Selain itu dampak avtur yang meningkat di mana-mana, itu juga bisa berdampak meningkatnya cost of traveling.”
Walaupun Indonesia dianggap sebagai daerah aman yang bisa menjadi alternatif untuk berwisata, namun dampak dari konflik Timur Tengah tetap terasa. Terutama pada wisman yang datang dari negara-negara Asia Tenggara.
Penurunan Okupansi Hotel di Berbagai Wilayah

Sudah, sudah. Okupansi kita kan rendah sekali sekarang. Di berbagai daerah sudah mulai terjadi penurunan. Ada yang okupansinya cuma rata-rata 30 persen.
Kita sudah melihat juga, dari waktu Lebaran saja kan, di sekitar Pulau Jawa dan beberapa daerah itu, menunjukkan okupansi itu cuma terjadi peningkatan di hari plus satu dan plus dua Lebaran saja yang meningkat. Setelah 22-23 Maret saja yang meningkat. Habis itu terjadi penurunan lagi. Ada yang 50, ada yang menuju ke 40.
Nah, sekarang tentu sudah mulai terasa Pak, aktivitas itu makin menurun di berbagai daerah, sehingga okupansi hotel juga akan mengikuti terjadinya penurunan.
Wilayah Mana yang Mengalami Penurunan Okupansi?

Hampir semua wilayah. Contoh misalnya kayak di Pulau Jawa itu, sudah mulai itu dampak okupansi yang menurun. Kita sudah melihat juga, dari waktu Lebaran saja kan, di sekitar Pulau Jawa dan beberapa daerah itu, menunjukkan okupansi itu cuma terjadi peningkatan di hari plus satu dan plus dua Lebaran saja yang meningkat. Setelah 22-23 Maret saja yang meningkat. Habis itu terjadi penurunan lagi. Ada yang 50, ada yang menuju ke 40.
Dampak Terbesar Bukan Datang dari Wisman, Melainkan dari Internal

Saya agak aneh gitu lho, kalau kita pemerintahnya bicaranya wisman mulu gitu lho. Padahal kita udah bicara dari zaman COVID-19. Kita punya penduduk 257 juta, yang justru kita kalau bicara pembangunan pariwisata nasional Indonesia, ya kita enggak bisa bicara daerah cuma segelencar wisman saja. Justru wisnus ini yang bisa berkontribusi untuk bisa tetap menghidupi ekonomi di berbagai daerah. Jadi kuncinya menjaga daerah beli dulu gitu lho.
Komposisi Pengunjung Hotel: Wisnus atau Wisman?

Iya dong. Coba bayangin wisman itu yang masuk paling tinggi 16 juta kan. 16 juta dibanding 257 juta, katakan 150 juta lah, yang akan bergerak kan masih jauh. Gak usah 150 juta, 100 juta saja sudah lumayan. Tapi kan dia bergerak antarprovinsi, antarkabupaten, kota, itu kan menghidupkan ekonomi di daerah. Jadi pergerakan wisnus itu yang menjadi utama kan.
Dampak Geopolitik vs Pandemi COVID-19

Kalau itu pertanyaannya, saya bisa bicara data yang dikeluarkan oleh BPS saja. Saat 2025 itu, situasi okupansi kita kan minus, enggak ada tumbuh di situ, hampir 4 persen lah, 3,9 persen sekian, itu data BPS ya. Karena dari mulai bulan Februari sampai Desember itu, okupansi kalau dibandingkan tahun 2024 pasti negatif. Kecuali Januari 2025 itu saja yang tinggi. Kenapa? Karena itu masih ada transisi akhir tahun kan. Libur Natal tahun baru.
Tindakan Jangka Pendek untuk Mencegah Dampak yang Lebih Buruk

Yang sulit untuk dijawab. Karena di tengah situasi geopolitik ini pemerintah pun mengalami tekanan di APBN. Yang paling penting itu sebenarnya pemerintah harus fokus dengan program di mana menjaga daya beli masyarakat. Ini yang paling sulit sepertinya. Itu sebenarnya gampang sih mencontohnya. Pada saat waktu COVID-19, yang terparah. Tapi kalau pemerintah tidak bisa mengalihkan program yang bisa menggerakkan semua ekonomi, yang ada lapangan pekerjaannya makin susut. Itu yang terjadi. Karena dalam menjaga daya beli memang spending pemerintah dari APBN yang dibutuhkan.
Target Okupansi Nasional PHRI di Tahun 2026
Ya sebenarnya dengan apa yang terjadi di tahun 2025, harapan kita di 2026 ini kita bisa tumbuh. Karena bagaimana pun daya tahan dari industri itu kan memang sangat dibutuhkan.
0 Komentar