Hobi Memancing di Muaro Lasak yang Kini Terancam
Muaro Lasak, sebuah lokasi yang dulu menjadi tempat favorit para pemancing di Kota Padang, kini menghadapi tantangan besar. Di tengah perubahan lingkungan dan penurunan hasil tangkapan, hobi memancing yang selama ini menjadi sarana melepas stres bagi banyak warga mulai terganggu.
Januardi (66), seorang pensiunan pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Padang, adalah salah satu dari mereka yang setia datang ke Muaro Lasak setiap hari. Baginya, memancing bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga cara untuk menenangkan pikiran setelah pensiun. Selain itu, kondisi kesehatan istrinya yang menderita stroke selama empat tahun terakhir juga menjadi alasan utama ia mencari hiburan di sana.
Rutinitas Harian yang Tidak Pernah Terputus
Setiap pagi, Januardi berangkat ke Muaro Lasak dengan membawa alat pancingnya. Ia biasanya tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB dan menghabiskan waktu hingga salat Asar. Namun, sebelum memancing, ia selalu melakukan rutinitas lain: membawa istri berjemur di luar rumah agar kesehatannya bisa sedikit membaik.
"Kecuali hari Jumat, saya selalu memancing setiap pukul 10.00 hingga 16.00 WIB," ujarnya. Bagi Januardi, hasil tangkapan ikan bukanlah prioritas utama. Yang lebih penting adalah kesempatan untuk melepas penat dan menikmati suasana alam yang masih tersisa di Muaro Lasak.

Perubahan Lingkungan yang Membuat Memancing Menjadi Sulit
Hobi memancing Januardi sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Dulu, kondisi Muaro Lasak jauh berbeda. Saat itu, tidak ada bendungan di bagian pinggir muara, sehingga laut langsung berhubungan dengan muara. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi para pemancing karena ikan mudah masuk dan keluar dari muara.
Namun, sejak dibangunnya dam, situasi berubah drastis. Ikan mulai sulit ditemukan, bahkan beberapa jenis ikan yang dulu sering ditangkap kini jarang muncul. "Dulu, saya bisa mendapat 10 ekor ikan sehari. Sekarang, kail sering tersangkut sampah dan hasil tangkapan semakin sedikit," kata Januardi.
Selain itu, debit air muara juga meningkat akibat curah hujan yang tinggi. Hal ini membuat air menjadi lebih keruh dan membawa banyak sampah plastik yang menyebabkan ketergangguan dalam aktivitas memancing.
Ancaman Sampah yang Mengancam Keberlanjutan Hobi
Sampah menjadi masalah besar di Muaro Lasak. Banyak sampah plastik yang terbawa oleh air dan menumpuk di sekitar muara. Ini tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga berdampak pada kesehatan ekosistem perairan. Kail pancing sering kali tersangkut di antara sampah-sampah tersebut, membuat proses memancing menjadi lebih sulit.
Januardi mengaku bahwa ia harus lebih waspada saat memancing. Ia sering melihat sampah-sampah yang terapung di permukaan air, serta bau yang tidak sedap yang berasal dari limbah yang tercampur.
Kehilangan Kenyamanan yang Dulu Ada
Bagi Januardi, Muaro Lasak bukan hanya sekadar tempat memancing, tetapi juga ruang yang memberikan ketenangan. Ia merasa kehilangan sesuatu yang dulu sangat ia nikmati. Meski begitu, ia tetap setia datang ke sana setiap hari, harapan untuk menemukan kebahagiaan sederhana di tengah perubahan lingkungan yang terus berlangsung.
0 Komentar