CORE: Kenaikan Harga Tiket Pesawat Tekan Ekonomi Hiburan dan Konsumsi Rumah Tangga

Dampak Kenaikan Tarif Tiket Pesawat terhadap Ekonomi Waktu Senggang di Indonesia

Kenaikan tarif tiket pesawat dan penyesuaian biaya bahan bakar (fuel surcharge) dianggap memiliki potensi besar untuk menekan aktivitas ekonomi waktu senggang atau leisure economy di Indonesia tahun ini. Perkiraan ini mengindikasikan bahwa dampaknya akan meluas ke berbagai sektor, termasuk pariwisata, hiburan, rekreasi, hingga UMKM daerah wisata.

Menurut Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, kenaikan harga tiket pesawat akan langsung memengaruhi keputusan konsumsi rumah tangga, terutama dalam perjalanan wisata domestik antarpulau. Ia menjelaskan bahwa untuk wisata domestik antar pulau, tiket biasanya menyumbang porsi terbesar dari total biaya liburan. Jadi ketika tarif naik karena fuel surcharge, avtur yang mahal, dan rupiah melemah ke kisaran Rp 17.600, dampaknya langsung terasa ke keputusan konsumsi rumah tangga.

Yusuf menambahkan bahwa masyarakat mulai mengurangi frekuensi liburan, memilih destinasi yang lebih dekat, hingga membatalkan perjalanan. Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan daya beli kelas menengah yang telah berlangsung dalam dua tahun terakhir.

“Dan karena daya beli kelas menengah memang sedang tertekan dalam dua tahun terakhir, efeknya jadi jauh lebih besar dibanding kondisi normal,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan aktivitas leisure economy biasanya terjadi secara bertahap. Kelompok kelas menengah atas cenderung mulai mengurangi frekuensi bepergian, sementara kelas menengah yang sensitif terhadap harga mulai beralih ke moda transportasi darat dan kereta.

Sementara kelompok yang paling rentan terdampak adalah first-time traveler dari daerah yang baru aktif melakukan perjalanan dalam beberapa tahun terakhir. “Begitu tiket keluar dari jangkauan mereka, permintaan langsung turun cukup tajam,” ujarnya.

Padahal, sektor leisure economy memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian daerah. Menurut Yusuf, satu wisatawan tidak hanya membelanjakan uang untuk tiket dan hotel, tetapi juga untuk restoran lokal, transportasi daerah, oleh-oleh UMKM, hingga objek wisata.

“Jadi ketika satu perjalanan batal, yang kehilangan pendapatan bukan hanya maskapai, tetapi rantai ekonomi kecil di daerah wisata,” katanya.

CORE mencatat kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai sekitar 4%–5% secara langsung. Jika dihitung bersama efek ikutannya ke transportasi, hotel, restoran, hiburan, dan perdagangan, kontribusinya dapat mendekati 10% PDB. Sementara jika digabung dengan sektor ekonomi kreatif, kontribusi leisure economy diperkirakan dapat mendekati belasan persen PDB nasional.

“Dan yang penting, sektor ini menyerap tenaga kerja besar, terutama pekerja informal dan UMKM daerah,” ujar Yusuf.

Ia menilai perlambatan di sektor leisure biasanya menjadi indikator awal tekanan ekonomi rumah tangga. Saat kondisi ekonomi melemah, pengeluaran untuk liburan dan hiburan menjadi pos pertama yang dipangkas masyarakat.

Yusuf memperkirakan industri yang paling rentan terdampak adalah maskapai penerbangan, hotel, restoran wisata, serta UMKM di daerah destinasi yang sangat bergantung pada penerbangan seperti Bali, Labuan Bajo, Lombok, Raja Ampat, dan Danau Toba.

Selain itu, ia juga mengingatkan adanya potensi pengurangan frekuensi penerbangan hingga penutupan rute ke kota tier-2 dan tier-3 apabila tekanan biaya maskapai terus meningkat.

“Kalau itu terjadi, konektivitas makin buruk dan harga tiket sulit turun karena kompetisi berkurang. Ini bisa menciptakan lingkaran negatif untuk sektor pariwisata,” katanya.

Yusuf menilai posisi Indonesia juga cukup berat dibanding negara pesaing di kawasan seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia yang memiliki konektivitas penerbangan dan transportasi lebih efisien.

“Ironinya, pelemahan rupiah sebenarnya seharusnya membuat Indonesia lebih murah bagi wisatawan asing. Tetapi keuntungan itu sering hilang karena konektivitas yang mahal dan pengalaman perjalanan yang belum seefisien pesaing regional,” tutupnya.

0 Komentar