Hadapi Tekanan Ekonomi Global, DIY Mengandalkan Industri Kreatif untuk Jaga Ekspor

Hadapi Tekanan Ekonomi Global, DIY Mengandalkan Industri Kreatif untuk Jaga Ekspor

Kinerja Ekspor DIY pada Awal Tahun 2026

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai fluktuasi kinerja ekspor daerah pada awal tahun ini sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Pelemahan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama memaksa para importir luar negeri membatasi volume permintaan barang.

Meskipun demikian, struktur perdagangan luar negeri DIY dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup kokoh. Hal ini tercermin dari kemampuan komoditas industri kreatif bernilai seni tinggi dalam menjaga penetrasi pasar, serta melebarnya surplus neraca perdagangan regional pada triwulan I-2026.

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menjelaskan bahwa penurunan atau fluktuasi yang terjadi pada performa ekspor bulanan tidak dapat serta-merta dijadikan acuan tunggal untuk menyimpulkan kemunduran performa dagang. Diperlukan analisis berbasis tren dalam beberapa periode laporan untuk memetakan arah kinerja perdagangan secara akurat.

Menurut Yuna, situasi ekonomi global saat ini masih menjadi variabel utama yang menekan aktivitas ekspor, baik di tingkat nasional maupun regional di DIY. Kendala ini diperparah oleh naiknya biaya bahan baku, tingginya harga bahan penolong produksi, serta lonjakan ongkos logistik internasional yang secara akumulatif menekan daya saing produk di pasar global.

“Sehingga importir masih ada yang menahan permintaan barang seperti ASEAN, Eropa, Jepang, Inggris dan Korea Selatan, walaupun untuk beberapa produk saat ini masih aman permintaannya, paling tidak sampai pertengahan tahun,” ujar Yuna saat memberikan evaluasi mengenai perkembangan perdagangan luar negeri DIY.

Kondisi riil di lapangan tersebut tercermin dari data mutakhir yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) DIY. Secara umum, meski nilai ekspor dan impor DIY kompak terkoreksi secara tahunan (year-on-year), performa neraca perdagangan regional justru mencatatkan kinerja positif dengan surplus yang meningkat.

Plt Kepala BPS DIY, Ir. Endang Tri Wahyuningsih, memaparkan bahwa surplus neraca perdagangan luar negeri DIY sepanjang periode Januari–Maret 2026 berhasil menyentuh angka 99,96 juta dolar AS. Realisasi ini menunjukkan kenaikan sebesar 10,79 juta dolar AS jika dibandingkan dengan capaian triwulan I-2025.

Berdasarkan pencatatan sektoral, dinamika ekspor DIY menunjukkan perkembangan yang beragam pada kuartal pertama tahun ini. Pada bulan Maret 2026, nilai ekspor tercatat sebesar 39,56 juta dolar AS, mengalami penurunan sebesar 14,61 persen dibandingkan Maret 2025 akibat melemahnya sektor industri pengolahan.

Meskipun terjadi penurunan secara bulanan, kinerja ekspor kumulatif sepanjang Januari hingga Maret 2026 mampu mencapai 137,97 juta dolar AS, yang berarti masih mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,60 persen dibanding kuartal pertama tahun sebelumnya.

Dalam struktur komoditas andalannya, sektor industri pengolahan memegang kendali mutlak dengan kontribusi mencapai 99,04 persen dari total ekspor. Produk tekstil dan turunannya menjadi penopang utama dalam sektor ini, khususnya pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) yang menguasai pangsa sebesar 34,67 persen, disusul oleh produk pakaian rajutan serta barang dari kulit samak.

Sementara itu, untuk negara tujuan utama, Amerika Serikat menempati posisi teratas sebagai pasar terbesar dengan nilai serapan mencapai 64,64 juta dolar AS pada triwulan pertama. Secara keseluruhan, Amerika Serikat bersama dengan Jerman dan Australia mendominasi 62,37 persen dari total pengiriman barang dari wilayah DIY.

Di sisi lain, kebijakan para pelaku industri lokal untuk menyesuaikan volume produksi berimbas pada penurunan tajam di sektor impor. Nilai impor DIY pada Maret 2026 bertengger di angka 9,29 juta dolar AS, merosot hingga 36,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara kumulatif sepanjang Januari–Maret 2026, total nilai impor DIY berada di angka 38,01 juta dolar AS, atau turun sebesar 20,77 persen secara tahunan. Penurunan ini didominasi oleh berkurangnya belanja bahan baku serta bahan penolong oleh sektor manufaktur lokal.

Struktur impor DIY sendiri masih memperlihatkan ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan luar negeri, di mana komponen bahan baku dan penolong menguasai 89,10 persen dari total impor. Komoditas yang paling banyak didatangkan adalah kain rajutan dan bahan tekstil penunjang produksi garmen.

Tiongkok, Hong Kong, dan Amerika Serikat menjadi tiga negara asal impor terbesar dengan total pasokan mencapai hampir 70 persen.

Optimalisasi Potensi Industri Kreatif

Mencermati tingginya ketergantungan industri garmen pada bahan baku impor serta adanya perlambatan permintaan dari sejumlah negara tradisional, Pemda DIY mengalihkan fokus strategi pada optimalisasi potensi industri kreatif yang tidak padat modal bahan baku impor tetapi memiliki nilai tambah tinggi.

Yuna Pancawati menegaskan bahwa pasar Amerika Serikat, Australia, dan Spanyol terbukti menjadi penyelamat yang mendongkrak nilai ekspor DIY pada awal tahun ini. Untuk menjaga momentum tersebut, Pemda DIY secara intensif memperluas jangkauan pasar nontradisional melalui serangkaian program taktis seperti business matching, pelatihan ekspor bagi pelaku usaha lokal, hingga fasilitasi penyediaan informasi akses pasar internasional.

Disperindag DIY optimistis bahwa karakter produk industri kreatif hasil kerajinan tangan dan seni dari Yogyakarta memiliki basis konsumen loyal tersendiri di negara barat yang relatif kebal terhadap fluktuasi ekonomi makro.

“Pasar Amerika dan Eropa akan tetap terus kita tingkatkan ekspornya, mengingat produk DIY yang lebih banyak produk industri kreatif dengan nilai seni tinggi,” pungkasnya.


0 Komentar