Industri Nikel Melambat, Ihwan Kadir Soroti Nasib Perusahaan Nasional dan Ekonomi Rakyat

Industri Nikel Melambat, Ihwan Kadir Soroti Nasib Perusahaan Nasional dan Ekonomi Rakyat

Kehilangan Arah dalam Hilirisasi Nikel, Dampak pada Ekonomi Masyarakat

Pendiri Poros Musyawarah Masyarakat Blok Lapaopao (PORMMAL), Ihwan Kadir, menyampaikan bahwa arah hilirisasi nikel di Indonesia saat ini mulai kehilangan arah. Ia menilai bahwa kebijakan yang diterapkan tidak sepenuhnya berpihak pada perusahaan nasional.

Perlahan Terjadi Perlambatan Industri Nikel

Perlambatan industri nikel disebut telah memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar tambang. Mulai dari para pedagang, sopir hauling hingga kontraktor lokal. Banyak dari mereka mengalami penurunan omzet dan kesulitan dalam menjalankan aktivitas bisnis.

Di beberapa wilayah tambang di Sulawesi, tercatat adanya PHK dan penghentian operasional smelter akibat tekanan harga nikel global. Hal ini semakin memperparah situasi ekonomi masyarakat sekitar.

Penilaian terhadap Kebijakan Pemerintah

Menurut Ihwan, pemerintah sering kali membicarakan tentang nasionalisme dan kedaulatan sumber daya alam. Namun, ketika ada perusahaan nasional yang benar-benar berupaya membangun smelter dengan modal sendiri, pemerintah justru tampak dingin.

Ihwan menyoroti sosok Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang dinilai menjadi figur utama dalam narasi hilirisasi nasional. Namun, di kawasan lingkar tambang, keresahan masyarakat semakin terasa akibat perlambatan aktivitas industri nikel.

Dampak pada Masyarakat Sekitar Tambang

Banyak pedagang kecil mengeluh tentang turunnya omzet, kontraktor lokal mulai kehilangan ritme kerja, dan sopir hauling khawatir kendaraan mereka berhenti beroperasi. Warung-warung juga mulai sepi, dan masyarakat mulai bertanya-tanya bagaimana mereka bisa bertahan jika industri melambat.

Di Morowali Utara, perlambatan industri smelter mulai berdampak nyata terhadap ekonomi masyarakat lingkar tambang. Sejumlah kios dilaporkan terancam tutup akibat stagnasi aktivitas kontraktor tambang dan gejolak PHK pekerja kontrak.

Di Kolaka, Sulawesi Tenggara, ratusan masyarakat adat bahkan turun melakukan aksi menuntut aktivitas tambang kembali berjalan karena ekonomi warga ikut lumpuh saat operasi berhenti.

Tekanan Industri Nikel di Wilayah Lain

Lebih lanjut, Ihwan menyampaikan bahwa tekanan industri nikel juga semakin terasa di sejumlah wilayah lain di Sulawesi. Tren pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantui akibat tekanan harga nikel dan lemahnya permintaan global.

Di Bantaeng, Sulawesi Selatan, smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia menghentikan operasional dan merumahkan pekerja tanpa kepastian waktu. Di Kabaena, Bombana, lebih dari 800 pekerja terkena PHK setelah penghentian operasi tambang.

Pertanyaan terhadap Kebijakan Pemerintah

Sekarang, pemerintah justru bicara tentang pemangkasan produksi nasional demi menjaga harga global. Untuk itu, Ihwan mempertanyakan apakah pemerintah benar-benar menghitung dampak sosial dari kebijakan tersebut terhadap masyarakat kawasan tambang.

Di Jakarta, pengurangan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) mungkin hanya terlihat sebagai angka statistik. Namun, di lingkar tambang, itu berarti cicilan motor terancam macet, anak sekolah bisa berhenti kuliah, rumah makan kehilangan pelanggan, dan ekonomi desa bisa lumpuh perlahan.

Perusahaan Nasional yang Rentan

Selain itu, Ihwan menyoroti posisi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang dinilai paling rentan menghadapi tekanan industri. Contohnya, Ceria Group melalui proyek Smelter Merah Putih di Kolaka, sebagai perusahaan nasional yang berupaya bertahan di tengah dominasi modal asing.

Perusahaan asing memiliki bantalan modal global, akses pembiayaan internasional hingga rantai pasok atau supply chain lintas negara yang membuat mereka memiliki daya tahan lebih panjang menghadapi tekanan pasar.

Sebaliknya, perusahaan nasional justru bertarung menghadapi tantangan jauh lebih berat karena harus menjaga keberlangsungan operasional di tengah tekanan industri dan minimnya perlindungan negara.

Nasionalisme yang Tidak Berpihak

Nasionalisme akhirnya terdengar seperti slogan yang kehilangan keberpihakan. Padahal, nasionalisme sejati bukan sekadar melarang ekspor mentah. Nasionalisme sejati adalah memastikan anak bangsa tidak tumbang lebih dulu di rumahnya sendiri.

Ihwan mengingatkan bahwa jika perusahaan nasional terus melemah dan masyarakat lingkar tambang ikut terdampak, tetapi pemain asing tetap bertahan dengan kekuatan modalnya, maka sejarah akan mencatat ironi paling pahit dalam hilirisasi Indonesia.

Negara terlalu sibuk meneriakkan “Merah Putih”, tetapi gagal menjaga rakyat dan industri nasional yang benar-benar sedang memikulnya. Gagal menjaga Merah Putih-nya sendiri.

0 Komentar