Kisah Lumba-Lumba Militer Soviet yang Dibeli Iran

Penggunaan Lumba-Lumba dalam Perang: Sejarah dan Kontroversi

Pada konferensi pers Pentagon yang membahas perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, muncul pertanyaan menarik tentang penggunaan lumba-lumba bunuh diri. Pertanyaan ini diajukan oleh seorang reporter dari The Daily Wire, yang meminta Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, untuk menjawab laporan mengenai penggunaan lumba-lumba bunuh diri dalam peperangan.

Hegseth menjawab bahwa ia tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal apakah Amerika Serikat memiliki lumba-lumba seperti itu, tetapi ia menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki hal semacam itu. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, juga menyatakan bahwa ia belum mendengar laporan serupa. Ia bahkan bertanya, "Ini terdengar seperti cerita tentang hiu yang dilengkapi sinar laser, bukan?"

Pernyataan-pernyataan tersebut merujuk pada sebuah artikel yang diterbitkan lima hari sebelumnya oleh The Wall Street Journal berjudul “Iran Is Looking for a Way to Counter a Blockade It Cannot Break.” Artikel tersebut menyebutkan bahwa blokade angkatan laut AS telah mengungkap kelemahan strategi Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz, dan bahwa Iran sedang mencari cara untuk menutupi celah tersebut.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa pejabat Iran menyatakan bahwa Teheran mungkin menggunakan senjata baru untuk menyerang kapal perang Amerika Serikat, termasuk kapal selam dan lumba-lumba yang membawa ranjau. Korps Garda Revolusi Islam juga mengancam akan meningkatkan ketegangan dengan memutus kabel serat optik di Selat Hormuz, yang akan mengganggu lalu lintas internet global.

Meskipun penggunaan lumba-lumba untuk keperluan militer terdengar fantastis, praktik ini memiliki sejarah yang panjang. Pada 26 tahun lalu, BBC melaporkan bahwa Iran telah membeli lumba-lumba bunuh diri. Menurut laporan tersebut, lumba-lumba yang telah dilatih oleh Angkatan Laut Soviet dijual kepada Iran. Namun, apa yang akan mereka lakukan di Teluk Persia pada saat itu belum jelas.

Para ahli Rusia telah melatih lumba-lumba ini dan mamalia air lainnya untuk menyerang kapal dan penyelam musuh. Namun, setelah pendanaan dihentikan, sebagian lumba-lumba tersebut dipindahkan ke fasilitas swasta untuk dijadikan pertunjukan bagi wisatawan.

Pelatih utama mereka, baik selama masa militer maupun dalam kehidupan sipil, adalah Boris Zhurid, yang memulai kariernya sebagai perwira kapal selam dan kemudian lulus dari akademi medis. Pada saat itu, dikatakan bahwa ia menjual semua hewan air tersebut kepada Iran karena ia tidak lagi mampu menanggung biaya pakan dan perawatan mereka.

Zhurid mengatakan kepada surat kabar Rusia Komsomolskaya Pravda saat itu, "Jika saya orang yang kejam, saya bisa saja tetap tinggal di Sevastopol. Namun saya tidak tahan melihat hewan-hewan saya kelaparan. Obat-obatan kami, yang harganya ribuan dolar, telah habis, dan kami tidak lagi memiliki ikan atau suplemen gizi."

Setelah invasi Irak pada 2003, Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan lumba-lumba terlatih untuk mengidentifikasi dan membersihkan ranjau serta ranjau tiruan di Teluk Persia. Lumba-lumba terlatih tersebut juga mampu menyerang kapal musuh dalam misi bunuh diri dan membawa ranjau yang akan meledak saat bersentuhan dengan lambung kapal. Dikatakan bahwa lumba-lumba ini dapat membedakan kapal selam Soviet dan kapal selam asing berdasarkan suara baling-balingnya.

Komsomolskaya Pravda menulis pada saat itu bahwa penelitian Zhurid pada dasarnya bersifat militer dan menggambarkan lumba-lumba ini sebagai "tentara bayaran". "Pada kenyataannya, Iran telah membeli senjata rahasia kami yang dahulu dari Ukraina dengan harga murah," katanya.

Surat kabar itu juga mencatat bahwa Amerika Serikat sebelumnya telah memprotes beberapa penjualan dari militer Rusia kepada Iran. Zhurid mengatakan pada saat itu bahwa ia tidak mengetahui misi apa yang akan dijalankan lumba-lumba-lumba itu, namun menambahkan, "Saya siap pergi kepada Tuhan atau bahkan kepada Iblis, asalkan hewan-hewan saya diperlakukan dengan baik di sana."

Selain Rusia, satu-satunya negara lain yang terkenal melatih lumba-lumba militer adalah Amerika Serikat, yang menjalankan program mamalia laut di San Diego, California. Dalam beberapa tahun terakhir, juga muncul laporan tidak resmi tentang upaya serupa oleh sejumlah negara, termasuk Korea Utara. Citra satelit dilaporkan menunjukkan kandang penampungan lumba-lumba di Korea Utara, yang memicu spekulasi tentang peluncuran program serupa di Pyongyang.

Namun demikian, Rusia dan Amerika Serikat masih memiliki program mamalia laut militer yang paling maju dan tertua. Menurut laporan, sejak serangannya ke Ukraina, Rusia telah meningkatkan penggunaan lumba-lumba militer di pelabuhan Sevastopol untuk menghadapi penyelam musuh dan melindungi armada lautnya di Laut Hitam.

0 Komentar