Pemerintah Pusat Usulkan Mamuju sebagai Wilayah Izin Usaha Pertambangan Logam Tanah Jarang Pertama di Indonesia
Pemerintah pusat sedang merancang pengembangan tambang logam tanah jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Wilayah ini diusulkan menjadi wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) logam tanah jarang pertama di Indonesia. Pengusulan tersebut didasarkan pada data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang menunjukkan potensi cadangan LTJ yang cukup signifikan.
Potensi LTJ di Mamuju
Data tersebut tertuang dalam laporan akhir penyelidikan umum logam tanah jarang dengan metode geologi dan geokimia di daerah Botteng dan sekitarnya, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Analisis laboratorium terhadap sampel hasil penyelidikan meliputi analisis major elements (XRF), XRD, petrografi, ICP-MS, dan SEM Mapping. Kandungan logam tanah jarang ditemukan pada tanah maupun batuan di lokasi penyelidikan.
Potensi LTJ di lokasi tersebut dibagi ke dalam tiga blok, yakni Blok Botteng dan Blok Botteng Utara di Kecamatan Simboro, serta Blok Ahu Pasabu di Kecamatan Tapalang Barat. Blok Botteng dengan luas 1.011,33 hektar diperkirakan memiliki sumber daya tereka sebesar 122.505,99 ton. Sementara itu, Blok Botteng Utara seluas 3.165,08 hektar memiliki kisaran kadar total LTJ sebesar 263,04 hingga 22.578,03 ppm. Adapun Blok Ahu Pasabu seluas 1.659,45 hektar memiliki kisaran kadar total LTJ sebesar 546,03 hingga 2.939,49 ppm.
Apa Itu Logam Tanah Jarang?
Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang mencakup 15 unsur lantanida serta skandium dan yttrium. Unsur-unsur tersebut memiliki peran penting dalam berbagai sektor industri strategis. Dalam bidang elektronik dan teknologi, LTJ digunakan untuk magnet superkuat pada motor listrik, speaker, turbin angin, hingga perangkat digital seperti ponsel dan laptop. Di sektor pertahanan, LTJ menjadi komponen penting dalam sistem radar, sonar kapal selam, drone, hingga jet tempur.

Pada industri kendaraan listrik, LTJ seperti neodimium dan disprosium digunakan dalam baterai dan motor listrik. LTJ juga dimanfaatkan dalam industri energi untuk panel surya, turbin angin, dan penyimpanan energi. Selain itu, unsur gadolinium digunakan dalam prosedur MRI dan laser medis. Cerium digunakan untuk pemoles kaca optik dan keramik pelindung UV, sedangkan lanthanum dan cerium dimanfaatkan dalam penyulingan minyak dan produksi bahan kimia.
Tantangan Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan
Meski memiliki potensi ekonomi besar, pengelolaan LTJ harus dilakukan secara hati-hati. Dinas ESDM Sulbar menekankan pentingnya pengawasan ketat, terutama terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan dan menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Kami pastikan bahwa setiap tahapan eksplorasi dan eksploitasi nantinya berjalan sesuai prinsip berkelanjutan,” kata perwakilan Dinas ESDM Sulbar. Peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah juga sangat penting dalam pengelolaan sumber daya alam ini. Keterlibatan masyarakat penting untuk menjamin distribusi manfaat yang adil dan mendorong kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.
Potensi LTJ di Mamuju sebagai Peluang Ekonomi Hijau
Potensi LTJ di Mamuju dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku teknologi tinggi. Jika dikelola dengan baik, sumber daya tersebut dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi hijau dan industri strategis nasional.
Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi di Pasar Dunia
Logam tanah jarang diketahui memiliki nilai jual tinggi di pasar dunia. Pada Oktober 2021, harga LTJ yang didominasi China mengalami kenaikan signifikan. Jerman menjadi negara konsumen terbesar LTJ, disusul Amerika Serikat. Shanghai Metals Market (SMM) melaporkan pada September 2021, ekspor magnet permanen China meningkat 6 persen secara month on month (MoM) menjadi 4.602 metrik ton. Harga satuan ekspor tercatat sebesar US$59.952 per metrik ton atau turun 0,22 persen MoM.
China mengekspor 35.896 metrik ton magnet permanen tanah jarang dari Januari hingga September 2021 atau meningkat 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Jerman menjadi tujuan utama ekspor LTJ China, diikuti Amerika Serikat, Korea Selatan, Vietnam, dan Italia.
Kedepankan Aspek Lingkungan
Kepala Dinas ESDM Sulbar, Bujaeramy Hassan, menekankan agar rencana tata kelola LTJ di Sulbar tetap mengedepankan aspek lingkungan, kepentingan masyarakat, serta kesejahteraan warga sekitar wilayah pengelolaan. “Pak Gubernur ingin memastikan bahwa rencana tata kelola LTJ nanti harus mengedepankan aspek lingkungan, kepentingan, dan kesejahteraan masyarakat Sulbar secara umum, khususnya masyarakat sekitar wilayah yang dikelola,” ujar Bujaeramy saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, proyek hilirisasi tersebut harus sejalan dengan tujuan strategis pembangunan Sulawesi Barat. Pemerintah Provinsi Sulbar juga menegaskan pengembangan industri LTJ wajib memperhatikan keselamatan lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh. Selain itu, hilirisasi LTJ diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerah, mulai dari penurunan angka kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
“Ketika kita berbicara tentang LTJ di Sulbar, maka kita harus berbicara tentang kepentingan nasional dan kepentingan Sulbar,” kata Bujaeramy. Potensi LTJ di Sulawesi Barat dinilai memiliki nilai strategis tinggi di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku industri teknologi modern dan energi terbarukan. Karena itu, Pemprov Sulbar mendorong agar pengelolaan sumber daya tersebut dilakukan secara berkelanjutan, terukur, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat daerah.
0 Komentar