Membangun Ekosistem untuk Kemandirian

Membangun Ekosistem untuk Kemandirian

Kehidupan Faridah di Balik Layar Fatayat NU

Faridah, seorang perempuan yang awalnya tidak mengenal organisasi Fatayat NU, kini menjadi salah satu tokoh penting dalam organisasi tersebut. Ia berasal dari Desa Gunung Padi, Sungkai Baru, Simpang Empat Kabupaten Banjar. Awalnya, ia tidak memiliki keinginan untuk terlibat dalam organisasi ini. Namun, setelah berkecimpung dalam Fatayat NU, ia mulai memahami dan mencintai organisasi tersebut.

Fatayat NU adalah badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus diperuntukkan bagi perempuan muda NU dengan batas usia maksimal 40 tahun. Jabatan yang diemban oleh Faridah adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Banjar. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Komandan Satkocab Garda Fatayat NU dan Sekretaris LKP3A (Lembaga Konsultasi Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak) Kabupaten Banjar.

"Awal keterlibatan di organisasi ini adalah pada 7 Juli 2025 saya diajak kakak saya membantu berdakwah di Fatayat. Kemudian ditawari jabatan, namun saya tidak tertarik karena takut tidak bisa bertanggung jawab," ujar Faridah. Meski demikian, ia menghormati kakaknya dan akhirnya menerima tawaran tersebut dengan syarat tidak mau jadi pengurus inti, cukup sebagai anggota.

Ternyata setelah mengikuti LKD atau Latihan Kader Dasar, ia mulai tertarik dengan Fatayat. Apalagi setelah fasilitator pimpinan pusat Fatayat NU menjelaskan tentang Garda Fatayat NU (Garfa), ia merasa fashionnya di bidang itu, yaitu bertugas di bidang keamanan. Faridah yang berlatar belakang pebisnis ini pun akhirnya diangkat menjadi Ketua Umum PC Fatayat NU Banjar, Sahabat Fatimah, l SH SPd untuk menjadi wakil ketua umum.

Sebagai ketua kaderisasi dan sekaligus Komandan Satkorcab Garda Fatayat NU Banjar, sampai 11 Mei 2026 ini sudah terbangun sebelas PAC. Selain itu, setelah dua periode vakumnya PC Fatayat NU Banjar, alhamdulillah di kepemimpinan kami kembali bangkit, dan bismillah, bersinar seperti rembulan setelah gerhana.

Sebagai Komandan Satkorcab Garda Fatayat NU Banjar, Faridah juga telah berhasil merekrut 58 anggota berseragam resmi. Adapun jabatan lainnya sebagai Sekretaris LKP3A, tugas Faridah fokus terhadap kasus-kasus yang marak terjadi pada perempuan khususnya kasus asusila dan KDRT. Karena banyak perempuan yang tidak tahu harus ke mana mengadu, dan tidak ada tempat untuk berlindung, sedangkan mereka sering sekali dirugikan.

"LKP3A itu untuk umat dan untuk marwah perempuan, juga keselamatan anak," kata Faridah yang selama ini masih bisa mengatur waktu antara organisasi dan bisnis pribadinya. Prinsip Faridah dalam dunia aktivis ini adalah waktu dan kedisiplinan itu nomor satu. Sering juga ia menegaskan kepada sahabat atau klien yang ingin bertemu, harus benar-benar disiplin, supaya jadwal yang diatur tidak mengganggu jadwal selanjutnya. "Jujur, amanah, dan berpolitik, meskipun bukan anggota parpol," tegasnya.

Dari pengalaman berorganisasi, Faridah merasakan menjadi perempuan yang memiliki pemikiran terbuka dan berani tampil di depan publik, sekali pun mereka tidak harus setuju semua terhadap apa yang ia bawa untuk mereka. "Seperti hal lambang Pramuka yaitu tunas kelapa, harus siap berdiri tegak di mana pun tertanam, dan terus menebar manfaat untuk sekitar, menjadi orang yang berani berbicara tegas dan tidak pandang bulu," katanya.

Strategi Pemberdayaan Perempuan

Hal penting dalam memberdayakan perempuan adalah bukan hanya soal memberikan bantuan modal, tapi membangun sebuah ekosistem yang mendukung kemandirian mental, finansial dan sosial. Langkah-langkah strategis untuk mencapai kemandirian ekonomi dan pemberdayaan di masyarakat yaitu akses pendidikan dan literasi digital. Pendidikan adalah fondasi utama. Tanpa pengetahuan, peluang ekonomi akan sulit diraih.

Literasi finansial mengajarkan cara mengelola uang, menabung, investasi, dan memisahkan uang pribadi dengan uang usaha. Di era sekarang, pemberdayaan seringkali dimulai dari layar ponsel. Pelatihan digital marketing, cara berjualan di marketplace, hingga menjaga keamanan data pribadi sangatlah krusial. Kemudian, kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan dengan mendorong perempuan untuk memiliki sumber pendapatan sendiri, memberikan mereka posisi tawar yang lebih kuat dalam keluarga dan masyarakat.

Akses modal mikro. Memfasilitasi akses ke lembaga keuangan formal atau koperasi yang ramah bagi perempuan tanpa syarat yang memberatkan. Perlu juga pelatihan keterampilan atau upskilling. Fokus pada bidang yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yaitu pengolahan pangan, teknologi informasi, atau kerajinan tangan yang berorientasi ekspor. Berikutnya membangun support system atau jejaring. Perempuan seringkali menghadapi hambatan berupa beban ganda yaitu mengurus rumah tangga sekaligus bekerja.

Penting pula, komunitas dan mentor. Bergabung dengan komunitas sesama pengusaha atau profesional perempuan untuk berbagi pengalaman dan solusi. Mengedukasi lingkungan keluarga agar pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab bersama, sehingga perempuan memiliki waktu untuk berkembang. Berikutnya, partisipasi dalam pengambilan keputusan. Berdaya secara ekonomi tidak lengkap tanpa suara di ruang publik dan mendorong perempuan aktif dalam forum RT atau RW, organisasi desa, maupun dewan sekolah.

Mendukung kebijakan yang pro-perempuan, macam ruang laktasi di tempat kerja, cuti melahirkan yang memadai, dan perlindungan dari kekerasan di tempat kerja. Terakhir, edukasi hak-hak hukum. Banyak perempuan tidak berani melangkah karena tidak tahu hak mereka atas kepemilikan aset atau perlindungan dari diskriminasi. "Juga penghapusan stigma. Mengubah pola pikir masyarakat bahwa perempuan yang bekerja atau memimpin bukan berarti melupakan kodrat, melainkan kontribusi nyata bagi kesejahteraan bangsa," katanya.

Tantangan dan Misi

TANTANGAN dihadapi Faridah sebagai aktivis adalah soal pola pikir yang tidak selalu selaras dengan kita. Kadang tujuan baik kita disampaikan dengan hati-hati, tapi masih saja disalahpahami, karena tidak semua orang bisa menyerap informasi atau sulit menerima hal baru. "Kita harus menghadapi orang dengan SDM rendah, capek batin, capek fisik, capek pikiran. Kita harus mencari ide supaya mereka bisa maju dan berkembang. Jadi, tidak mudah membentuk atau menggerakan kader, semua kembali pada kemauan masing-masing," kata Faridah.

Faridah yang pernah menjadi Peserta Terbaik Lomba Prestasi Penegak tingkat Kwartir Cabang Pramuka Banjar 2013 ini, berharap PC Fatayat NU Banjar dan LKP3A menjadi rumah yang ramah dan menjadi kekuatan perempuan. "Menjadi tempat bonding perempuan. Dan Fatayat punya satu misi dengan seribu aksi," katanya. Peraih Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Arab tingkat MA sederajat se-Kalimantan Selatan pada Festival Kampoeng Arab yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Arab IAIN Antasari Banjarmasin pada 2014, ini juga punya semboyan yang kuat.

"Maju bersama, menguat bersama, untuk Indonesia dan peradaban dunia" ucapnya.

0 Komentar