Ancaman Kenaikan Harga Gandum terhadap Ketahanan Pangan Indonesia

Proyeksi penurunan produksi gandum dan jagung dunia pada musim 2026–2027 menunjukkan adanya ancaman baru terhadap ketahanan pangan di Indonesia. Ketergantungan tinggi terhadap impor gandum membuat gejolak harga global dan pelemahan rupiah berpotensi langsung memengaruhi inflasi pangan domestik.
Menurut Afaqa Hudaya, peneliti dari Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), risiko kenaikan harga gandum global sangat besar bagi Indonesia karena perubahan pola konsumsi masyarakat dalam satu dekade terakhir. Konsumsi gandum dan tepung terigu nasional meningkat hampir 2,5 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan konsumsi beras.
Produk berbasis gandum seperti mi instan, roti, biskuit, dan makanan olahan kini menjadi bagian penting dari konsumsi harian masyarakat. Sayangnya, hampir seluruh kebutuhan gandum Indonesia masih bergantung pada impor. Hal ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan logistik.
“Ketika harga gandum dunia naik akibat perang, gangguan logistik, atau konflik geopolitik, dampaknya langsung terasa pada inflasi pangan domestik,” ujar Afaqa. Ia menilai konflik antara Rusia dan Ukraina menjadi contoh nyata ketika gangguan pasokan Laut Hitam memicu gejolak pasar gandum global.
Tekanan terhadap Indonesia semakin berat karena terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini menciptakan double shock bagi pangan domestik. Karena transaksi impor gandum menggunakan dolar AS, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya impor meskipun harga global tidak melonjak terlalu tinggi.
“Stabilitas pangan domestik sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti dolar AS, geopolitik, dan rantai pasok global,” kata Afaqa.
Dampak kenaikan harga paling cepat biasanya terjadi pada produk berbasis tepung dengan konsumsi massal tinggi, terutama mi instan. Setelah itu tekanan harga berpotensi menjalar ke roti, biskuit, pastry, tepung kemasan, hingga makanan olahan lainnya. Dampaknya juga dinilai dapat merembet ke sektor peternakan karena sebagian gandum digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak, terutama saat harga jagung lokal tinggi. Kondisi tersebut berpotensi ikut mendorong kenaikan harga telur dan daging ayam.
Menurut Afaqa, tekanan pangan juga berisiko menekan konsumsi rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah. Ketika harga pangan naik lebih cepat dibanding pendapatan, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi atau beralih ke makanan yang lebih murah dengan kualitas gizi lebih rendah. “Biasanya masyarakat mulai melakukan trade down consumption,” katanya.
Afaqa menilai kondisi tersebut berpotensi memperburuk persoalan double burden of malnutrition alias beban ganda malnutrisi di Indonesia, yakni stunting dan obesitas yang terjadi bersamaan akibat pola konsumsi pangan murah tinggi gula dan karbohidrat tetapi rendah protein.
Untuk jangka panjang, ia menilai Indonesia perlu serius memperkuat diversifikasi pangan domestik agar tidak terus bergantung pada gandum impor. Menurutnya, Indonesia tidak memiliki kondisi ideal untuk memproduksi gandum skala besar, sehingga alternatif realistis adalah memperkuat pangan lokal seperti singkong, sagu, jagung, dan sorgum.
Selain memperkuat ketahanan pangan, penggunaan pangan lokal juga dinilai memberi multiplier effect lebih besar terhadap ekonomi domestik karena manfaat ekonominya langsung mengalir ke petani dan industri nasional. “Kalau tidak, ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor akan terus meningkat dan membuat ketahanan pangan nasional semakin rentan terhadap shock global,” ujar Afaqa.
0 Komentar