
Perbedaan dan Kemungkinan Kesamaan Pelaksanaan Iduladha 2026 antara Muhammadiyah dan NU
Pelaksanaan Hari Raya Iduladha 2026 antara organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah bisa jatuh pada tanggal yang sama. Hal ini didasarkan pada perhitungan hisab dari Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU). Sementara itu, pemerintah akan menggelar sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Zulhijah 1447 H pada Minggu, 17 Mei 2026.
Penetapan Tanggal Iduladha oleh Muhammadiyah
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Hari Raya Iduladha 2026 jatuh pada 10 Zulhijah 1447 Hijriah atau tepatnya 27 Mei 2026. Selain itu, tanggal 1 Zulhijah 1447 H diprediksi jatuh pada 18 Mei 2026 Masehi.
Perhitungan Hisab oleh LF PBNU
Berdasarkan perhitungan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menggunakan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas NU, hilal pada 17 Mei 2026 sudah berada di ufuk dan memenuhi kriteria imkanurrukyah. Dalam rilis yang diterbitkan oleh NU Online, Rabu (13/5/2026), disebutkan bahwa data hisab menunjukkan bahwa hilal akhir Zulqadah 1447 H atau bertepatan dengan Ahad Wage, 17 Mei 2026 M, adalah 4 derajat 42 menit 15 detik dengan elongasi 10 derajat 06 menit 51 detik dan lama hilal di atas ufuk 22 menit 53 detik.
Selain itu, ijtimak (konjungsi) terjadi pada Ahad Wage 17 Mei 2026 M pukul 03:03:02 WIB. Letak Matahari terbenam pada posisi 19 derajat 24 menit 31 detik utara titik barat, sedangkan letak hilal berada pada posisi 27 derajat 04 menit 56 detik utara titik barat dengan kedudukan hilal pada 07 derajat 40 menit 25 detik utara Matahari.
Parameter Hilal di Berbagai Wilayah
Dalam rilis tersebut juga dijelaskan, parameter hilal terkecil terdapat di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan. Ketinggian hilal di wilayah ini mencapai 3 derajat 15 menit dan elongasi hilal hakiki 8 derajat 57 menit, serta lama hilal di atas ufuk 16 menit 10 detik.
Sementara itu, tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh. Di wilayah ini, ketinggian hilal mencapai 6 derajat 47 menit, elongasi hilal hakiki 10 derajat 40 menit, dan lama hilal di atas ufuk 30 menit 56 detik.
"Data di atas menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria imkanurrukyah," kata rilis tersebut. "Pasalnya, tinggi hilal sudah di atas 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat. Bahkan, di Aceh, elongasinya sudah memenuhi kriteria qath'iyu rukyah Nahdlatul Ulama (QRNU), di atas 9,9 derajat."
"Artinya, hampir dipastikan, masuk bulan baru di hari berikutnya (tanggal 18 Mei 2026)," lanjut keterangan dalam rilis tersebut.
Prediksi Tanggal Iduladha
Berdasarkan hasil ini, Iduladha 10 Zulhijah 1447 H diprediksi akan jatuh pada 27 Mei 2026. Namun, pemerintah masih menunggu hasil sidang Isbat untuk menetapkan awal bulan Zulhijah 1447 H.
Sidang Isbat oleh Pemerintah
Sidang Isbat penetapan 1 Zulhijah 1447 H akan digelar pada Minggu, 17 Mei 2026. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama (Kemenag) Arsad Hidayat menjelaskan bahwa sidang Isbat akan dihadiri berbagai unsur, mulai dari Wakil Menteri Agama dan jajarannya, Komisi 8 DPR RI, duta besar negara sahabat, dan perwakilan BMKG.
Selain itu, Badan Informasi Geospasial (BIG), BRIN, Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas Islam, pakar falak, Tim Hisab Rukyat Kemenag, akademisi, hingga pimpinan pondok pesantren akan turut hadir dalam sidang tersebut.
"Sidang isbat awal Zulhijah 1447 Hijriah digelar pada 17 Mei 2026 bertepatan 29 Zulkaidah 1447 Hijriah di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama," ujar Arsad, Rabu (13/5/2026).
Menurut Arsad, pemantauan hilal akan dilakukan di 88 titik, dari Aceh hingga Papua Barat. "Pemantauan hilal dilakukan secara luas di berbagai wilayah Indonesia agar hasil rukyat yang diperoleh semakin akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam sidang isbat," tambah Arsad.
0 Komentar