Pengalaman Petugas Haji di Arab Saudi, Menemani Ibadah hingga Mencari Jemaah Tersesat

Pengalaman Petugas Haji di Arab Saudi, Menemani Ibadah hingga Mencari Jemaah Tersesat

Pengalaman Berharga Seorang Ketua Kloter Haji

Muhson, seorang petugas kloter haji asal Lampung, mengemban tanggungan berat sebagai ketua Kelompok Terbang (Kloter) JKG 09 pada musim haji 2026. Ia bertanggung jawab atas 438 jemaah yang sedang menjalani ibadah haji di tanah suci. Tugas ini bukan hanya sekadar mengawasi perjalanan fisik, tetapi juga menjadi sebuah bentuk pengabdian spiritual yang penuh tantangan dan emosi.

Tugas Utama dalam Mengawasi Kesehatan Jemaah

Salah satu tugas utama Muhson adalah memastikan kondisi kesehatan jemaah tetap stabil selama berada di Arab Saudi. Ia bekerja sama dengan tim medis kloter untuk memberikan layanan kesehatan 24 jam. Selama masa ibadah, posko pengobatan dan cek kesehatan darurat disiapkan di hotel tempat jemaah menginap.

"Kami siap melayani kapan saja, karena banyak jemaah yang mengalami sakit malam-malam, kedinginan, atau batuk-batuk. Ada juga yang memiliki penyakit bawaan seperti paru-paru dan jantung," ujar Muhson.

Selama proses tersebut, pintu kamar jemaah sering terdengar mengetuk kapan saja, mulai dari pagi hari hingga tengah malam. Meski waktu istirahatnya terganggu, Muhson tetap ikhlas demi memberikan rasa tenang bagi jemaah yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Tantangan dalam Menghadapi Jemaah Mandiri

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Muhson dan tim kloter adalah keberadaan jemaah lanjut usia (lansia) serta jemaah risiko tinggi (risti). Banyak dari mereka berangkat secara mandiri tanpa didampingi oleh anggota keluarga. Hal ini membuat Muhson dan tim harus bekerja ekstra untuk memantau kondisi fisik dan mental para jemaah agar tidak merasa sendirian.

Di situasi seperti ini, petugas kloter berperan sebagai anak dan saudara bagi jemaah. Mulai dari membantu dalam urusan ibadah hingga membimbing penggunaan fasilitas hotel. "Kami harus konsen mendampingi yang mandiri, terutama yang lansia risti karena mereka tidak ada pendampingan keluarga," ujarnya.

Penambahan Kebutuhan Fasilitas

Muhson mencatat adanya penambahan kebutuhan kursi roda secara signifikan, yaitu sebanyak 11 unit di kloternya. Hal ini disebabkan oleh banyak jemaah yang awalnya sehat saat berangkat, tetapi fisiknya menurun setibanya di Makkah sehingga membutuhkan bantuan untuk melakukan Tawaf dan Sai.

Dinamika Jemaah yang Tersasar

Selama proses ibadah, Muhson juga menghadapi dinamika jemaah yang tersasar saat menjalankan ibadah. Di Madinah, kasus jemaah tersasar terjadi hampir setiap hari karena mereka masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Petugas kloter seringkali harus melakukan pencarian di sekitar Masjid Nabawi setelah menerima telepon dari petugas sektor.

"Paling banyak tersasar itu waktu di Madinah, setiap hari ada saja yang telepon kesasar, mungkin karena lingkungan baru. Untuk di Mekkah relatif hampir tidak ada karena bus Solawat itu antar jemput dari hotel sampai Masjidil Haram," jelas Muhson.

Fokus pada Puncak Ibadah Haji

Saat ini, fokus utama Muhson adalah menjaga stamina jemaah menjelang prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Ia terus memberikan edukasi agar jemaah tidak memaksakan diri mengejar ibadah sunnah yang menguras fisik secara berlebihan.

"Jangan sampai mengejar sunnah, tapi puncaknya (wajib haji) malah tidak dapat karena kelelahan," tegas Muhson memberikan imbauan. Ia menyarankan jemaah lansia untuk sementara waktu cukup melaksanakan salat di masjid hotel saja demi menyimpan tenaga.

Keberhasilan sebagai Petugas Kloter

Bagi Muhson, melihat jemaahnya bisa pulang ke tanah air dengan predikat haji mabrur adalah bayaran tertinggi dari segala lelahnya sebagai petugas. Pengalaman ini menjadi kenangan yang tak terlupakan baginya.


0 Komentar