Pengrajin tusuk sate Tulungagung ramai pesanan jelang Idul Adha 2026

Pengrajin tusuk sate Tulungagung ramai pesanan jelang Idul Adha 2026

Lonjakan Pesanan Tusuk Sate di Tulungagung Jelang Idul Adha 2026

Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, permintaan terhadap tusuk sate mengalami lonjakan yang signifikan. Hal ini terjadi khususnya di wilayah Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), khususnya bagi perajin tusuk sate bernama Sukamto. Ia tinggal di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, dan telah menjalani usaha tersebut sejak tahun 2016.

Peningkatan Produksi yang Signifikan

Sukamto mengatakan bahwa pesanan tusuk sate biasanya stabil di angka 470 ribu tusuk per bulan. Namun, menjelang Idul Adha, jumlah pesanan meningkat drastis hingga mencapai 600 ribu hingga 700 ribu tusuk per bulan. “Setiap kali menjelang Idul Adha memang selalu meningkat. Hampir dua kali lipat,” ujar Sukamto saat ditemui.

Lonjakan permintaan ini disebabkan oleh peningkatan kebutuhan masyarakat untuk memasak daging kurban, khususnya sate, selama momen Hari Raya Kurban. Meski permintaan meningkat, Sukamto tetap mempertahankan harga jual produknya. Ia menjual tusuk sate dengan harga grosir Rp16 per batang atau Rp16 ribu untuk satu paket berisi 1.000 tusuk.

Bahan Baku yang Melimpah

Sukamto menggunakan bambu ori atau bambu duri sebagai bahan utama pembuatan tusuk sate. Menurutnya, ketersediaan bahan baku masih sangat melimpah, terutama dari daerah pegunungan. Selain itu, ia juga mengklaim bahwa tidak ada kenaikan biaya produksi karena bahan baku yang tersedia cukup banyak.

Selain Idul Adha, peningkatan pesanan juga terjadi menjelang Ramadan, Idul Fitri, serta musim hajatan dan kenduri masyarakat.

Kendala Produksi Akibat Cuaca

Meskipun permintaan tinggi, Sukamto mengakui adanya kendala dalam proses produksi. Faktor cuaca menjadi salah satu hambatan utama, karena proses pengeringan harus dilakukan secara alami dengan cara dijemur. Ia tidak menggunakan oven dalam proses produksinya.

Proses produksi tusuk sate milik Sukamto melalui delapan tahapan, mulai dari pemilihan bambu, pemotongan, pemecahan bambu, pembuatan lidi, peruncingan, penjemuran, pemolesan hingga quality control (QC).

Inovasi Mesin Rakitan Sendiri

Awalnya, Sukamto menggunakan mesin produksi buatan pabrik. Namun menurutnya, alat tersebut kurang efektif dan membuat banyak bahan baku terbuang. Misalnya, mesin pemecah lama memiliki ukuran yang tidak konsisten sehingga banyak bahan yang terbuang. Proses pembuatan lidi juga memakan waktu yang cukup lama.

Berbekal kemampuan teknik yang dimiliki, Sukamto kemudian memodifikasi berbagai alat produksi miliknya agar lebih efisien. Hasilnya, mesin rakitannya mampu mempercepat proses produksi secara signifikan. Dalam 10 menit, mesin bisa meruncingkan 3.000-4.000 tusuk sate. Sebenarnya, mesin tersebut masih bisa dipercepat, namun hasilnya kurang halus.

Selain itu, mesin poles buatannya kini mampu digunakan untuk memoles hingga 30 ribu tusuk sate dalam sekali proses.

Mesin Poles Disembunyikan Agar Tak Ditiru

Sukamto mengaku masih terus mengembangkan mesin produksinya, termasuk meningkatkan kapasitas mesin poles yang saat ini memakai dinamo 1 PK. Menurutnya, jika menggunakan dinamo 2 PK, kemampuan poles bisa lebih cepat dan maksimal.

Menariknya, mesin poles hasil racikannya sengaja disimpan di bagian belakang rumah produksi agar tidak mudah ditiru orang lain. “Mesin poles ini benar-benar karya saya, makanya saya sembunyikan di belakang agar tidak ditiru orang,” ujar Sukamto.

Fakta Penting tentang Produksi Tusuk Sate

  • Produksi tusuk sate naik dari 470 ribu menjadi 700 ribu per bulan
  • Lonjakan pesanan terjadi menjelang Idul Adha
  • Harga tusuk sate tetap Rp16 per batang
  • Bahan baku menggunakan bambu ori atau bambu duri
  • Kendala utama produksi berasal dari faktor cuaca
  • Mesin produksi dimodifikasi sendiri agar lebih cepat dan efisien


0 Komentar